Cerpen buatan aku: Keberkahan diatas Musibah

Matahari sangat terik di siang hari ini. Tepat pukul satu siang. Membuat keringat melucur dengan derasnya. Perut yang keroncongan menambah derita disiang hari ini. Walaupun begitu, Adit tetap bersemangat untuk memamerkan suara merdunya.

Lampu merah telah menyala. Semua kendaraan telah berhenti. Inilah kesempatan Adit untuk memamerkan suaranya.

”Ayo dit, kita ngamen dibus kota itu!”kata Sani.

Sani adalah teman satu perjuangan dengan Adit, mereka sama-sama mengamen di perapatan ini dan mereka berasal dari desa yang sama. Umur Sani satu tahun lebih tua dibandingkan Adit. Orang tua mereka adalah perantauan dari Solo yang mengadu nasib di Palembang, dan sampai sekarang mereka tetap tinggal di Palembang. Beruntungnya Sani masih mempunyai orang tua yang lengkap. Sedangkan Adit, hanya ibunya saja yang masih hidup, ayahnya meninggal disaat usia Adit masih 5 tahun. Ibunya sangat terpukul dengan kejadian itu. Bagaimana tidak, ibunya harus berjuang sendiri untuk memberikan makan dan membiayai sekolah Adit.

”Oke, kak San”sahut Adit.

Didalam bus tersebut, mereka berdua ‘menjual’ suara mereka. Suara mereka sangat bagus dan merdu. Kolaborasi mereka sangat apik dan bagus. Orang yang mendengar suara mereka pasti akan berdecak kagum dengan mereka. Dengan iringan gitar dan galon sebagai gendangnya telah dapat menghibur para penumpang dibus kota tersebut. Tak heran, uang yang mereka dapatkan cukup banyak. Ini adalah bus ketujuh yang mereka singgahi hari ini.

”Alhamdulillah Dit, kita mendapat uang yang cukup banyak.”

”ya, Alhamdulillah.”

”Sekarang kita pulang saja dit, giliran yang lain lagi untuk ngamen.”

”oke.”

Di perapatan ini, ada aturan waktu dalam mengamen. Sistem ini dikelola oleh pemerintah daerah, dengan tujuan agar tidak membludaknya jumlah pengamen dalam satuan waktu tertentu. Adit dan Sani mendapat giliran dari jam 12.00 sampai jam 15.00.

Dengan hati yang riang mereka melangkah dengan penuh semangat. Perjalanan ke rumah mereka amatlah jauh. Untuk sampai dirumah mereka acap kali mendapatkan kesulitan. Karena dua gang sebelum sampai dirumah mereka, banyak preman yang suka memalak-malak orang yang lewat didepan mereka. Selama ini mereka baru satu kali di palak oleh mereka. Untungnya pada waktu itu mereka tidak membawa uang sepeserpun

Sesampainya dirumah.

”Assalamu’alaikum. Bu, hari ini aku mendapatkan uang yang banyak.”

Tidak ada sahutan dari ibu Adit. Adit bingung, ia mencari ibunya disetiap ruangan dirumahnya. Karena tak menemukan ibunya dirumah. Ia menanyakan keberadaan ibunya pada tetangganya.

”Assalamu’alaikum. Pak, bapak melihat ibu saya.”

”Oh, ibu kamu tadi dilarikan ke rumah sakit, katanya sih jantungnya kumat. Kamu mau kerumah sakit, kalau kamu mau kerumah sakit bapak akan hantarkan kamu.”

”Iya pak, saya mau kerumah sakit.”

Perasaan Adit sangat sedih, gundah, risau, dan khawatir dengan keadaan ibunya.

Sesampainya di rumah sakit. Adit langsung keruang inap dimana ibunya dirawat.

Dari kejauhan, Adit mendengar banyak orang yang menangis. Perasaannya tak enak. Sesampainya di ruangan inap ibunya. Adit terkejut. Ia melihat telah banyak orang-orang yang dikenalnya berada didalam ruangan tersebut. Salah satunya pak RT.

”Ada apa ini pak RT? Apa yang terjadi dengan ibu?”tanya Adit.

”Adit, ibumu….ibumu…telah meninggal dunia. Adit yang sabar ya!”

Mendengar ucapan itu Adit terkejut, hatinya menangis, matanya mulai berlinang, butiran-butiran air membasahi matanya, seketika itu juga butiran-butiran tersebut berubah menjadi air yang deras membasahi pipinya.

Tanpa membuang waktu lagi, ia langsung mendekat ke jenazah ibunya yg telah kaku tak berdaya.

”Ibu………………………………………………………………….”teriaknya kencang.”

”Mengapa kau meninggalkan aku sendiri, bu? Ayah tak ada dan engkaupun tak ada juga. Bagaimana aku akan hidup, bu?”

”Ya Allah, mengapa kau mengambil ibuku, dulu kau juga telah mengambil ayahku, apa kesalahanku ya Allah?”

Ust. Alwi langsung mendekap dan segera menenangkan Adit yang sedang menangis. Ustadz tersebut segera membawa Adit keluar ruangan itu. Adit memberontak, akan tetapi dengan sedikit paksaan dari ustad Alwi, akhirnya adit mau juga untuk keluar dari ruangan itu.

”Dit, ajal seseorang sudah ditentukan oleh Allah, tak ada yang mampu mendekatkan atau menjauhkan waktu kedatangannya. Tabah dan sabarlah dit. Sesungguhnya dengan kesabaranlah hati ini akan tenang. Aku telah lama mengenal orang tuamu, baik ayahmu ataupun ibumu. Mereka berdua adalah orang-orang yang shaleh. Percayalah, Allah akan menempatkan ayah dan ibumu di tempat yang baik.”

”Akan tetapi mengapa harus aku yang mendapatkan cobaan seperti ini, ustadz?”

”Karena engkau mampu untuk menghadapi cobaan ini, sesungguhnya Allah tidak akan memberikan cobaan kepada hamba-Nya diluar kemampuan hamba-Nya.”

”Ya ustadz, insyaAllah aku sabar dan ikhlas dengan kepergian orangtuaku.”

”Alhamdulillah, engkau telah ikhlas untuk kepergian orangtuamu. Yakinlah, dibalik cobaan ini, pasti ada berkah dari Allah.”

Keesokan harinya, jenazah ibu Adit di semayamkan di pemakaman umum di daerah tempat tinggal Adit.

*****

Hari-hari nan sepi menyelimuti hari-hari Adit. Semenjak kepergian ibunya, ia semakin sering untuk shalat malam dan lebih sering mengaji, dan tak henti-hentinya memanjatkan do’a yang tulus untuk orang tuanya.

*****

“Dit, ayo kita mengamen lagi sehabis sekolah!”kata Sani.

”Oke, aku telah lama tak mengamen lagi.”

Pulangnya dari sekolah, Adit langsung pulang kerumah dan segera mengganti baju. Sani sudah datang dengan membawa galonnya.

”Ayo ,dit. Sudah jam dua siang.”

”Sebentar lagi aku akan siap.”

Akhirnya mereka sampai juga diperapatan tempat mereka biasa mengamen.

”Dit, lampu merah tu. Ayo langsung aja kita ke bus kota itu.”

”Oke.”

Seperti biasanya, Adit melantunkan suaranya serta memainkan gitar dan Sani menabuh galonnya dan sekali-kali ia ikut untuk menyanyi.

Ada seorang laki-laki setengah baya melihatnya menyanyi. Laki-laki tersebut kagum dengan suara Adit dan Sani. Setelah Adit dan Sani menyanyi. Adit dan Sanipun keluar dari bus tersebut. Dan laki-laki tersebut ikut turun dan memanggil mereka.

”Assalamu’alaikum, nak.”kata bapak itu.

”Wa’alaikumussalam, ada apa ya pak?”

“Saya sangat mengagumi suara kalian berdua. Perkenalkan, nama saya Wahyu Soeparno, saya adalah seorang pencari bakat. Dan saya lihat kalian sangat berbakat. Mau ga saya biayai kalian untuk menjadi penyanyi terkenal?”

”Wah, mau sekali pak.”

”Oke besok kalian datang kekantor saya, sehabis shalat idul adha. Dan kalian langsung menandatangani kontrak kerja.” Bapak tersebut memberikan alamat kantornya kepada Adit dan Sani.

”Siap, pak.”

Keesokan harinya.

Sehabisnya shalat idul adha. Adit dan Sani langsung pergi kekantor pak Wahyu. Sesampainya disana, mereka disambut oleh pak Wahyu. Dan mereka segera menandatangani kontrak kerja mereka.

Adit ingat akan kata-kata ust. Alwi.”Dibalik cobaan ini, pasti ada berkah dari Allah.”Ia pun semakin yakin akan kemaha kasih dan penyayangnya Allah kepadanya.

”Alhamdulillah, terima kasih ya Allah. Engkau telah memberikan secercah berkah di hari raya idul adha ini.”

Iklan

9 thoughts on “Cerpen buatan aku: Keberkahan diatas Musibah

    • Aldo Al Fakhr berkata:

      buat cerpen itu mudah.. hanya sering menuliskan cerita sehari-hari kamu, maka insya Allah bisa buat cerpen..
      intinya mengasah kepekaan terhadap keadaan sekitar dengan cara menulis…
      nulis aja.. jangan dipikirin dulu..

  1. Aldo Al Fakhr berkata:

    selelah dibaca-baca lagi.. ternyata nih cerpen garing yah..
    *maklum, nih cerpen kedua saya selama menulis..
    yg pertama hardcopy dan ga tau kemana lagi..
    ntar kalau ketemu saya upload 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s