100 Target Seorang Pujangga
100 Target Seorang Pujangga
.jpg)
Yah.. terinspirasi dari video seorang ikhwah IPB, yang menuliskan 100 target dalam hidupnya yang ditayangkan pada saat lailatul khatibab (MABIT). Dan satu per satu targetnya menjadi realita dengan
izin Allah Swt. dan sekarang sudah lebih dari 150 target yang dibuatnya. Teringat ketika ia menuliskan akan keluar negeri, ternyata Allah memberikannya kesempatan untuk melanjutkan S2 di japan. Subhanallah. Sejak itu aku yakin bahwa tulisan adalah do’a, targetan itu adalah do’a. “maka tuliskanlah maka itu adalah do’amu” ujarku dalam hati.
Atas dasar Fastabiqul Khairat (Berlomba-lomba dalam kebaikan), saya juga nggak mau kalah, saya berikhtiar untuk menuliskan 50 target un
tuk tahun 2010. Alhamdulillah baru ditulis sebanyak 27 targetan masih 23 targetan lagi. Bingung apa lagi targetan2nya…
Tapi tidak berdiam diri begitu saja, setiap hari, aku akan cari apa saja target yang bisa untuk ditambahkan. Oh… tentunya targetan yang realistis bukanlah sebuah utopia belaka. Tidak yah!!
Semoga Allah memudahkanku untuk mencapai targetan-targetan itu dengan mudah dan lancar. Dan do’akan aku teman!!
Salah 5 targetanku ditahun ini adalah:
- Lulus bulan Maret (3.5 tahun)
- Fluent with English
- Hafal 3 Juz Al Qur’an
- Baca 100 buku (à baru 15)
- Keluar Negeri…
Amin ya Rabb!!
Bandung, 18 Februari 2010
Aldo Al Fakhr
Blogger Pencari Spirit yang Hilang
siapakah pahlawan itu

Siapakah Pahlawan Itu?
Pahlawan adalah seseorang dari rakyat biasa yang mengerjakan pekerjaan-pekerjaan besar yang tak pernah mengeluh akan deras keringat yang mengucur dan darah yang mengalir mewarnai bumi akannnya.
Itulah pendapatku tentang pahlawan…
Pejuang mukmin sejati tidak pernah menginginkan namanya tertoreh pada tinta emas dalam sejarah dan tidak pernah pula menginginkan liang lahatnya di Taman Makan Pahlawan, yang ia inginkan adalah ridha Allah Swt tak lebih dan kurang. Sehingga yang ada hanyalah keikhlasan berbalut keberanian berjuang.
Menurut Sapardi, pahlawan itu adalah “yang telah berjanji kepada sejarah untuk tidak pantang menyerah.
Dan
Menurut Chairil Anwar, pahlawan adalah “ berselempang semangat yang tak bisa mati.
Pahlawan yang membacakan “pernyataan” Mansur samin:
Demi amanat dan beban rakyat
Kami nyatakan keseluruh dunia
Telah bangkit ditanah air
Sebuah aksi perlawanan
Terhadap kepalsuan dan kebohongan
Yang bersarang dalam kekuasaan
Orang-orang pemimpin gadungan
Sungguh kita merindukan pahlawan yang bisa membawa umat ini kearah yang lebih baik dalam segala aspek kehidupan. Namun realitas yang ada mengatakan tidak ada pahlawan itu, yang adanya adalah pahlawan yang memiliki hati busuk untuk meraup keuntungan materi , tidak ada keikhlasan yang terpancar dari gerak-geriknya. Omong-kosong selalu disampaikan ke rakyat… betapa hinanya dirimu wahai pahlawan gadungan…
Dalam sejarah kehidupan dunia, baik itu yang dipilah pada skala abad tertentu maupun perhatian tiap masanya. Pahlawan selalu lahir dimasa yang sulit, selalu lahir disaat masa yang genting yang mana jati diri hilang dari basis. Seperti halnya Rasulullah yang hadir disaat umat sedang merasa sulit berkepanjang, anak perempuan dikubur hidup-hidup, penyembahan berhala, dan system yang tidak adil.
Aku rindu kepada pahlawan itu. Pahlawan seperti Umar yang mengantarkan sekarung gandum ke wanita tua, rindu kepada ustman dan Abdurrahman bin Auf yang menafkah hartanya untuk dakwah islam, rindu seperti Khalid bin Walid yang bersedia mati dipeperangan untuk kejayaan islam, seperti pahlawan Indonesia yang berperang melawan kaum penjajah.
Siapakah pahlawan itu? Apakah dirimu atau diriku
Bandung, 30 Juli 2009
Aldo Al Fakhr
Blogger Pencari Spirit yang Hilang
Cerpen- Amar
Sebuah Cerpen yang kurajut dalam tulisan, untuk Bundaku tercinta……
sebuah cerpen yang kubuat sendiri….
Aldo Al Fakhr (blogger pencari spirit yang hilang)
AMAR
Semua terjadi diluar dugaaan ibu. Terjadi begitu cepatnya. Amar pergi sekelip mata. Padahal rasanya baru kemarin ibu menyusui amar sambil menggendongnya dengan penuh kehangatan yang sangat dan kasih sayang. Membawa amar pergi ke pasar untuk membelikan robot-robotan yang disukai oleh amar, padahal pada waktu itu uang belanja bulanan telah habis, tapi ibu merelakan uang tabungannya digunakan untuk membelikan robot-robotan itu. Membawa amar untuk mendaftarkannya di sekolah yang diinginkan oleh amar. Melihat senyuman yang penuh optimis ketika amar menjadi seorang prajurit penjaga perbatasan Malaysia-Indonesia. Tapi kini amar telah pergi untuk selama-lamanya. Amar meninggal bukanlah di medan perang, tapi amar anak ibu meninggal karena menderita sakit setelah pulang dari operasi di hutan. Itu cerita dari menantu ibu. Ibu sangat sedih sekali. Amar yang begitu dicintainya meninggal dengan usia yang masih muda. Ibu mana yang tak sedih, jikalau anak kesayangannya meninggal, dan pada saat amar menghembuskan nafas terakhirnya, ibu tidak ada disampingnya. Ibu hanya bisa menyentuh dan memandangi lekat jenazah anaknya yang terakhir hanya pada saat jenazah telah dikafankan. Itupun hanya tak lebih dari lima menit. Jenazah amar akan dibawa untuk dikebumikan. Hati ibu pada saat itu sangat pilu bagaikan disayat pisau yang tajam. Sakit sekali. Tapi, wajah ibu memancarkan ketabahan dan kesabaran menghadapi ujian yang diberikan oleh Allah ini. Ibu sangat yakin ia akan berjumpa kembali dengan anaknya di surga-Nya kelak.
Sudah sangat lama ibu tak menatap wajah amar yang manis, hal ini karena amar telah lima tahun tidak pulang-pulang, karena tugas yang diembannya mengharuskan amar untuk selalu bersiap siaga. Amarpun sampai mempunyai istri disana dua tahun yang lalu. Ibu sangat ingin membawa jenazah amar ke kampung halaman dan disemayamkan disana. Tapi, istri amar menolak. Apalah kuasa ibu. Ibu tahu mungkin istrinya lebih berhak. Tapi, dimana pula hak seorang ibu yang mengandung dan membesarkan amar. Padahal usia perkawinan mereka saja belum seumur jagung. Ibu baru pertama kali ini menyentuh cucu ibu yang berusia lima bulan itu pada hari pemakaman amar. Fikri namanya.
Isteri amar masih sangat muda, fikri pun pasti membutuhkan kasih sayang seorang ayah. Ibu tidak menghalangi jikalau isteri amar mencari suami lagi walaupun sangat awal hal tersebut untuk difikirkan. Mungkin awal-awal ini, istri amar tidak mempunyai keinginan untuk menikah lagi. Istri mana yang tak sayang suami. Tapi, lambat laun nantinya akan berumah tangga juga, karena tuntutan hidupnya. Dan ibu amat khawatir, jikalau istrinya sudah menikah lagi, ibu takut kuburan amar jarang diurus dan dilayat.
Amar meninggalkan seorang anak yang sama sekali belum sempat melihat dan mengenali amar. Apalah yang diketahui oleh seorang anak yang baru berusia lima bulan itu. Dunia saja belum begitu dikenalnya. Taaan dan senyuman masih terukir dibibir fikri dikala semua keluarga dan tetangga menangisi dan meratapi kepergian ayahnya yang terkenal sholeh lagi baik akhlaknya. Sungguh mereka amat kehilangan amar. Mereka amat kasihan kepada ibu yang begitu mencintai anaknya tatkala jenazah akan dibawa ke liang lahat. Kerinduan yang membuncah tak terlepas dihati ibu. Tiada lagi panggilan ibu dari amar. Tiada lagi suara amar yang akan mengobati rasa rindu yang terpendam. Tiada lagi canda gurau amar. Tiada lagi dinanti kepulangan amar ke kampong. Tiada lagi segala-galanya.
Oh..amar, bergenang air mata ibu jikalau teringat dirimu nak. Lebih-lebih lagi ketika semalam kami sekeluarga menikmati makanan kesukaanmu. Betapa sedih hati ibu disaat mengunyah makanan yang amar gemari. Ayam goreng bumbu rending. Kakak amar tersebut-sebut nama amar di hadapan rezeki itu. Tiada pernah sekalipun kami sekeluarga disini membiarkan walau sehari pun berlalu tanpa mengingat-ingat dirimu amar. Tak terasa muncul juga perasaan menyesal karena membiarkan amar pergi meninggalkan kampong halaman untuk pergi bertugas menjaga di perbatasan Indonesia-malaysia. Jikalau amar ada disisi ibu, pastilah tak sesesal ini yang ibu rasakan sepeninggalmu nak. Setidaknya ibu dapat menjaga dan mengasihi amar sewaktu sisa-sisa hayat amar yang masih ada. Mungkin juga persaan ibu akan lebih tenang dan ridho dengan kepergian amar. Amarku sayang, sampai hari ini pun hati ibu masih bertaut rasa sesal yang sangat walupun sudah ibu coba untuk mengusirnya, tetapi tetap saja rasa itu selalu bertamu dihati ini, seolah-olah tamu yang tak kunjung pergi dari rumah seseorang.
Engkau yang ibu sayang, dan paling ibu cintai. ibu rindu engkau Amar……….





Komentator Coretan Bijaksana