Digelapnya Malam (Episode Balik Kampung)
Digelapnya Malam (Episode Balik Kampung)

Ini sebenarnya cerita waktu si saya pulang kampung
ke Pekanbaru kalau nggak salah tanggal 6 September 2010…semoga ada hikmah yang kamu dapatkan dari cerita ini.
Yuks bace ceritenye ye!..
Imam shalat tarawih kali ini tidak seperti biasanya, ia begitu tenang dalam memimpin shalat, bacaannya tartil. Tak seperti hari-hari biasanya yang terkesan agak terburu-buru, mungkin 23 raka’at jadi harus cepat-cepat. Kalau si saya mah Cuma ampe 8 raka’at saja.. akh.. nggak usah bahas ini deh. Nggak selesai-selesai ntar..he..he..
“Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuhu, Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuhu” ujar sang imam lirih begitu tenang dan khusyu’ menandakan bahwasanya shalat diraka’at kedelapan telah selesai…si saya langsung berdiri dan bergerak kebelakang tuk shalat witir tiga raka’at..selesai dari itu, kulangsung bergegas pulang sembari melihat jam yang sudah menunjukkan angka 20.15 WIB.. “wah harus cepet nih, ntar ketinggalan bis damri ke bandara Soekarno-Hatta.”ujarku dalam hati
Sesampainya dikos, karena dah berpakaian yang pantas, celana cargo warna biru, baju kaos hitam warna hitam berlogokan khas jogja yang dibelikan bang Aldi waktu dia ke jogja, ditambah dengan balutan jaket kenji warna putih, dan tak terlepas sepatu converse KW2 pemberian ibu… kumerasa dah manteb nih.. tinggal capcus aje..
(lagi…)
Bila Tak Dihargai, Ya Sudahlah…
Bila Tak Dihargai, Ya Sudahlah…

“Jangan bersedih bila kebaikan Anda tak dihargai orang, sebab yang Anda cari adalah pahala dari Allah.” – Dr. Aidh Al-Qarni –
Ya sudahlah.. tak perlu kau risaukan pabila hasil kerja kerasmu tak bernilai apa-apa didunia, yakinlah Allah telah melihat keringat yang menetes dalam peluhmu, telah melihat darah yang menetes dari tubuhmu, dan telah melihat perbuatanmu. Azzamkan dalam sanubarimu, bahwa segala yang kulakukan diatas dunia ini diniatkan semata-mat hanyalah untuk Allah, sehingga tak ada lagi kata, tulisan, dan ekspresi yang keluar dari mulut, pena, dan tubuhmu “keluh kesah” dalam menjalani hari-hari yang sebetulnya indah namun mendadak menjadi tak menyenangkan karena dirimu sendiri.
ikhlas menjalani
walau tertatih menjalani
walau terluka dalam mendaki
walau keringat dan darah membanjiri
kulakukan demi ridho Illahi (lagi…)
Tirai Malam

tirai malam menyelimuti sunyi
gemerlap bintang menyemangati malam
berkilau bertahta berseri
nafas rindu berhembus halus
merana resah gelisah dibuatnya
memacu api gelora dalam jiwa
dingin malam kian hilang ditelan kehangatan
terlena akan menghangatnya jiwa
bagaikan mentari menghangatkan pagi yang kabut
jari jemari tergelitik menggoreskan pena
terbiarkan kata-kata yang mengalir
beriring-iringan dengan nafas cinta, rindu, dan kasih
Keluargaku
tak terbatas ingatanku kepada kalian
*Puisi ini untuk papa, mama, bang aldi, dek tia, dan dek’si cina’ jeni
Aldo Al Fakhr
Blogger Pencari Spirit yang Hilang
Mengakui Kesalahan dan Memberikan Maaf itu Sunnah
Mengakui Kesalahan dan Memberikan Maaf itu Sunnah

*pengen nulis yang serius euy..
Ingin menyapa pagi ini dengan salamnya umat islam yang luar biasa faedahnya dan tak ada tandingannya dengan dien-dien yang lain dimuka bumi ini…
Salam kemenangan dan kesejahteraan
Assalamu’alaykum Warahmatullahi Wabarakatuhu
Pagi ini pengen nulis sesuatu yang terkadang sulit untuk dilakukan oleh seseorang yang kebanyakan berkarakter cuek terhadap sesuatu termasuk mengakui kesalahan yang benar-benar telah dilakukannya. Yah.. judulnya Mengakui Kesalahan itu Sunnah..
Setiap manusia dalam dunia ini pasti pernah melakukan kesalahan, tak peduli apakah kesalahan itu besar ataupun kecil. Dan tak peduli memakai media apapun omongan, tulisan, perbuatan yang yang zhalim… tanpa sengaja baik disengaja..
Abi Hurairah (semoga Allah meridoinya) berkata, telah bersabda Rasulullah Saw., “Barangsiapa pernah melakukan kezaliman terhadap saudaranya, baik menyangkut kehormatannya maupun sesuatu yang lain, maka hendaklah dia minta dihalalkan darinya hari ini, sebelum dinar dan dirham tidak berguna lagi (hari kiamat). (Kelak) jika dia mempunyai amal saleh, akan diambil darinya seukuran kezalimannya. Dan jika dia tidak mempunyai kebaikan (lagi), akan diambil dari keburukan saudaranya (yang dizalimi) kemudian dibebankan padanya.” (H.R. Al-Bukhari)
Saudaraku, kita bukanlah malaikat, yang diciptakan hanya untuk taat kepada Allah, tidak ada sikap menentang. Kita bukan juga para Nabi dan Rasul yang ma’sum, terbebas dari dosa. Oleh karena itu pabila kita berbuat salah, maka segeralah untuk meminta maaf, seperti yang dilakukan para sahabat Abu Dzar terhadap Bilal (lagi…)
Ketika Lelah Dijadikan Alasan

^^ adeknya lucu dan cantik yah^^
Ketika Lelah Dijadikan Alasan
Aku ingin seperti dulu
Namun tertambat pada sebuah lubang
Kelelahan membuat lubang di padang ghirah
Semakin dalam menyentuh perut bumi
Yah benar… aku ingin seperti dulu, dulu ketika masih kuliah, berkumpul-kumpul yang intens dengan para sahabat pecinta qur’an, dakwah dan mesjid, duduk bersama sehabis isya’ dan shubuh bersama-sama memejam memelekkan mata melihat qur’an untuk dihafal, membaca berulang-ulang secara tartil, menghafal-hafal sedikit-sedikit, menerka-nerka ayat selanjutnya, bersaing dalam kebaikan, “dah berapa halaman yang antum hafal?” Tanya seorang sahabat… yah.. HTQ, halaqah tahfidzul qur’an.. dirimu kini menjadi kenangan yang terdalam buatku…
Aku rindu saat itu, saat hafalan belum tergoreskan difikiran dan dihati, sekonyong-konyongnya disetorkan, terlihat sebuah garis perjuangan disana walau hanya sederhana, yah.. aku menikmatinya
Ketika kita bercerita tentang cita, cinta, dan harapan, terkadang terselip guyonan-guyonan khas para ikhwan (yah.. u know what I mean lah..) itu menjadi kesan tersendiri..
Disana ukhuwah pernah berbunga, harum dan berbunga indah
Disana langit terang benderang, cahanya menerangi jalanku
Disana aku berdaya, mengikut berbicara tentang sebuah cita, cinta, dan harapan (lagi…)
Sampan Kecil
lagi senengnya buat puisi.. silahkan bagi yang mau berbalas puisi.. tinggal komeng aj.. ntar saya bales puisinya..
Sampan Kecil

redup senja dikaki malam
yang telah menghilangkan bayang ilalang
menghirup aroma senja yang perlahan menghilang
malam mulai menginjak senja dari pandangan
kesunyian berbayang-bayang
syahdunya malam berlalu sunyi
mengiringi tuk mewarnai taman hati yang sepi
terantai terkalungi rindu dalam bilik hati
terasa bagai tertusuk sembilu bisa
menyesak keluar tak tertahankan
menjelma menjadi butiran-butiran jernih dikelopak mata
butiran-butiran itu jatuh semakin deras
datanglah.. kuajak tuk mengayuh sampan kehidupan
mengarungi samudera walau sampan itu kecil
menggapai salju dikhatulistiwa
melihat pelangi diujung samudera
Aldo Al Fakhr
Blogger Pencari Spirit yang Hilang
Tersendiri

wajahmu sayu menghujamkan qalbu
peluh diwajahmu mengerenyutkan dahi
ghirahmu menggetarkan kobaran nyala
suaramu menggempakan jiwa
satu kesan abadi tercipta denganmu
kesan yang bagai mahligai seribu mimpi
tak mampu hilang senyap dimakan sejarah
selalu terhayati hingga kemimpi
dan tak ingin menjadi mimpi yang hilang
pergimu menyisakan satu tanda
untukku tetap berjalan tegak
kembali berjuang walau terbang dengan satu sayap
tertatih terbang kelangit bahagia
jalan terang luas membentang menantiku
jelas terang menerangi pandangan
terpancar satu cahaya menjelasi segalanya
dalam sudut ini kutersenyum sepuasnya…
itulah rahasia hangat tersendiri
itulah iringan irama merdu tersendiri…
Aldo Al Fakhr
Blogger Pencari Spirit yang Hilang






Komentator Coretan Bijaksana