Coretan-Coretan yang Tergores Ditubuh Sejarah

Archive for Februari, 2010

Saatnya Mengkader

Saatnya Mengkader

k

Kaderisasi, hm.. adalah bukan bidangku selama ini! Apa iya? Bukannya kaderisasi adalah bidangnya semua manusia. Ketika ia mengatur waktunya agar teratur, bukankah itu juga langkah kaderisasi dirinya Ataupun juga ketika seseorang guru mengajari murid-muridnya untuk tidak membuang sampah sembarangan, bukankah itu juga kaderisasi. Ataupun juga seorang ibu yang menasehati anaknya agar hormat kepada yang lebih tua, bukankah itu juga kaderisasi.

Yang ingin disampaikan disini adalah bahwa kaderisasi itu tidak sempit maknanya, tidak hanya milik anak-anak KDR, HRD, HR, ataupun namanya. Ia adalah milik semua manusia yang intinya menjadikan sesuatu itu lebih baik lagi ketimbang sebelumnya. Inilah yang harus dibuka paradigma kita.

Dalam setiap episode kehidupan didunia ini pastilah ada yang namanya perubahan. Apakah perubahan itu mengarah kearah yang lebih baik atau kah sebaliknya. Itu tergantung dari tiap-tiap diri mengarahkan lorong peradaban tersebut. Tentunya tiap insan menginginkan kearah yang lebih baik bukan? Disinilah butuh kreasi atau seni dalam mengkader. Seni mengubah sesuatu. Dari biasa menjadi luar biasa, dari miskin ilmu menjadi luas ilmunya, dari gagap menjadi optimis, dari pengecut menjadi pemberani, dan dari rakyat biasa menjadi pahlawan agama, Negara, dan dunia.

“ Setiap pekerjaan-pekerjaan besar hanyalah layak dikerjakan oleh orang-orang yang besar pula.” Kata Ust. Anis Matta

Tak ada cerita lagi bahwa hanya ingin dikader namun sudah saatnya sekarang mengkader. Tidak lagi melulu diberikan suapan ilmu namun sudah saatnya menebarkan ilmu. Tidak lagi menunggu kemenangan namun sudah saatnya mencetak kemenangan. Karena jangan jadi sebagai orang pengecut yang hanya terdiam membisu digerbang peradaban menunggu para pahlawan datang membawa secercah kemenangan. Tidaklah seperti itu saudaraku. Sudah saatnya jiwa-jiwa ini memberontak dari zona kenyamanan (comfort zone), terlepas dari rutinitas yang itu-itu saja. Lakukanlah breakthrough (terobosan) dengan mengkader.

“Perjuangan yang dirintis oleh orang-orang yang alim, diperjuangkan oleh orang-orang yang ikhlas, dimenangi oleh orang-orang pemberani, dan akhirnya dinikmati oleh para pengecut.”

Itulah realitasnya. Tak dipungkiri banyak para aktivis atau kader yang bermental buih, banyak tapi tak memiliki kekuatan apa-apa. Terbawa ombak, terombang-ambing dalam kebimbangan dan keraguan pada asholah. Padahal peran-peran kosong mengaga didepannya namun tak mau dan mampu dimanfaatkan.  Sehingga tentu saja akan kehilangan momentum untuk berubah kearah yang lebih baik lagi…

Saudaraku, sekali lagi kukatakan bahwa sudah saatnya kita berpikir dan bertindak mencetak kader, bukan untuk diri kita semata, agar kebaikan tersebar sambung menyambung kepelosok-pelosok. Jadilah kader yang berani dan cetaklah kader yang berani seperti beraninya seorang Khalid bin Walid ketika berseru kepada orang-orang Romawi yang bersembunyi ketakutan dibalik benteng kinnasirin, “ Andaikata kalian bersembunyi dikolong langit , niscaya kuda-kuda kami akan memanjat langit untuk membunuh kalian. Andaikata kalian berada di perut bumi, niscaya kami akan menyelami bumi untuk membunuh kalian.”

Kita bisa menengok bahwa Rasulullah dalam mengkader, yang mengubah jalan hidup seorang Umar  yang sangar menjadi penangis dikala mendengar ayat-ayat Allah, yang mengubah seorang Khalid pemimpin pasukan Quraisy pada perang Uhud yang mengalahkan umat islam pada waktu itu menjadi seorang panglima perang yang tak kenal menyerah dalam berjuang, yang mengubah Bilal seorang yang biasa (baca: budak) menjadi pribadi muslim yang luar biasa, dan masih banyak lagi. Satu kata: LUAR BIASA engkau ya Rasul!

Wallahu’alam

Bandung, 18 Februari 2010

Aldo Al Fakhr

Blogger Pencari Spirit yang Hilang


Hanya Dua Pilihan

Hanya Dua Pilihan

Yah.. hanya dua pilihan saja. Jalan Allah (Sabilillaah) atau jalan syetan (sabilith thagut). Golongan Allah (Hizbullah) atau golongan syetan (hizbusy syaitan). Fujurraha wa taqwaha. Islam atau kafir. Tidak ada daerah abu-abu. Hitam atau putih. Segeralah dipilih jangan sampai nyawa sudah berada dikerongkongan baru mengambil keputusan. itu namanya terlambat. Jangan sampai kehilangan momentum karena kegalauan dalam memilih. Tetapkanlah pilihan itu.

Kita adalah muslim sebelum apapun jabatan kita – Nahnu Muslim qabla kulli syai’in

Kita adalah da’i sebelum apapun jabatan kita – Nahnu Du’aat qabla kulli syai’in

Jadikanlah dakwah sebagai pilihan agar kita termasuk golongan orang-orang yang beriman dan termasuk hamba yang diberikan pertolongan oleh Allah bukan kaum murtad yang digantikan oleh Allah, seperti firman Allah:

“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Maidah: 54)

“…dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain; dan mereka tidak akan seperti kamu ini. “ (QS. Muhammad: 38)

Jangan sampai kita tergantikan oleh kaum lain karena kelalaian kita dalam menentukan pilihan. Pilihan kita yang salah akan menghantarkan kita kepada penyesalan yang tiada tara. Na’udzubillah…

Sungguh kesyukuran yang luar biasa tatkala pilihan itu benar karena Allah telah menghantarkan diri kita kepada pilihan yang benar. Tapi coba periksa dulu… Periksa diri kita apakah pilihan kita sudah-sudah benar 100 %, 50 %, atau bahkan hanya 10% saja keyakinan kita dalam pilihan tersebut. Coba kita lihat aplikasi nyata dari pilihan kita tersebut, apakah sudah tercerminkan dalam kehidupan kita. Coba tanyakan pada diri sendiri!

Oleh karena itu saudarku, Jangan sampai berakhirnya umur kita, tidak ada kontribusi apa pun terhadap islam dan dakwah  karena kita telah memilih pilihan itu. baik itu kontribusi pemikiran, kekuatan, dan harta.

Wallahu’alam

Bandung, 18 Februari 2010

Aldo Al Fakhr

Blogger Pencari Spirit yang Hilang


100 Target Seorang Pujangga

100 Target Seorang Pujangga

a

Yah.. terinspirasi dari video seorang ikhwah IPB, yang menuliskan 100 target dalam hidupnya yang ditayangkan pada saat lailatul khatibab (MABIT). Dan satu per satu targetnya menjadi realita dengan

izin Allah Swt. dan sekarang sudah lebih dari 150 target yang dibuatnya. Teringat ketika ia menuliskan akan keluar negeri, ternyata Allah memberikannya kesempatan untuk melanjutkan S2 di japan. Subhanallah. Sejak itu aku yakin bahwa tulisan adalah do’a, targetan itu adalah do’a. “maka tuliskanlah maka itu adalah do’amu” ujarku dalam hati.

Atas dasar Fastabiqul Khairat (Berlomba-lomba dalam kebaikan), saya juga nggak mau kalah, saya berikhtiar untuk menuliskan 50 target un

tuk tahun 2010. Alhamdulillah baru ditulis sebanyak 27 targetan masih 23 targetan lagi. Bingung apa lagi targetan2nya…

Tapi tidak berdiam diri begitu saja, setiap hari, aku akan cari apa saja target yang bisa untuk ditambahkan. Oh… tentunya targetan yang realistis bukanlah sebuah utopia belaka. Tidak yah!!

Semoga Allah memudahkanku untuk mencapai targetan-targetan itu dengan mudah dan lancar. Dan do’akan aku teman!!

Salah 5 targetanku ditahun ini adalah:

  1. Lulus bulan Maret (3.5 tahun)
  2. Fluent with English
  3. Hafal 3 Juz Al Qur’an
  4. Baca 100 buku (à baru 15)
  5. Keluar Negeri…

Amin ya Rabb!!

Bandung, 18 Februari 2010

Aldo Al Fakhr

Blogger Pencari Spirit yang Hilang


Nasehat ini yang kita perlukan

Nasehat ini yang kita perlukan


Sebuah pertanyaan yang pernah diajukan seorang shalih bernama Muhammad bin Wasi ’rahimahullah kepada orang-orang di sekelilingnya, “Apakah kalian heran, jika kalian melihat seseorang menangis di surga?” Orang–orang yang berada di sekitar Muhammad bin Wasi ’ menjawab pasti, “Tentu saja kami heran wahai Syaikh.” Lalu Muhammad bin Wasi ’ mengatakan, “Seharusnya kita lebih heran bila melihat seseorang yang masih hidup di dunia, tertawa terbahak, sementara ia belum tahu bagaimana akhir perjalanannya di akhirat kelak…”

Sungguh bijak apa yang dikatakan oleh Muhammad bin Wasi’ Rahimahullah. Membuat orang yang mendengar kata-katanya tersentak sadar atas apa yang ada dalam dirinya. Dan meyakininya. Sungguh luar biasa nasehat itu. Mengena dan menyindir orang yang hanya bisa mendoerkan bibirnya akibat sering berkata yang tak penting dan melebarkan mulutnya akibat tertawa terbahak-bahak yang berlebihan. Na’udzubillah.

Ya Allah lindungi hamba dari perkataan yang tidak berguna dan umur yang penuh kesia-siaan.”

Nasehat bagi seorang mukmin adalah sebuah pancaran kasih sayang dan curahan rahmat diuntaian kehidupan dan dalam mata usia kita. Nasehat itu bagiku adalah pengisi ruhiyah yang acap kali alpa mengingat-Nya, tamparan keras bagi muka masam yang malas untuk sedekah, sayatan bagi hati yang terkotori oleh maksiat yang selalu dikerjakan. Tapi nasehat itu juga adalah semilir angin kesejukan dikala panas mendera jiwa, jiwa tentram karenanya. Sungguh nasehat itu kurindui dan kunanti agar menjadi penghias diri dalam jenak-jenak kehidupan ini…

Sungguh keperluan yang mendesak bagi seorang mukmin agar diberikan nasehat. Ia sangat mengharapkannya dari seorang sahabatnya ataupun manusia yang lain. Karena ia tahu, ia tidak bisa sendiri dalam mengarungi samudera kehidupan ini, karena dakwah tak kenal kata lelah sampai kita sendiri yang lelah karenanya. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, “Apakah kita sering meminta nasehat atau mencari nasehat?”

Tak disadari, kita sering bersikap egois, merasa paling besar, tak mau dengar kata orang, bersikap acuh dengan kondisi sekitar. Sejumput nasehat pun tak mau didengar. Na’udzubillah. Padahal dirinya rapuh tak berdaya, malas-malasan, dan tak punya gairah dalam berjalan menelusuri terjalnya jalan lurus. Apa lah jua mau diharapkan dari orang yang seperti itu, tak mau berkontribusi, tak mau mengeluarkan keringat bau’nya, secuil darah kotor penuh najis didalam dirinya, secuil rezeki halal dalam dirinya. Tak ada yang diharapkan betul. Maka mati sajalah kau!!

Renungkanlah firman Allah,

“…Dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak mendapatkan petunjuk.” (QS.An Naml:24)

Sebenarnya nasehat itu banyak sumbernya, dasar kita saja yang tak mau ikhtiar mencari hidayah (nasehat) itu. Dari Al-qur’an, Al-Hadist, Sirah nabawiyah dan sahabat, sirah para salafusalih, ustadz atau guru, buku-buku, nasyid, dan lain sebagainya. Cobalah tengok saudaraku, pastilah disana banyak mengandung mutiara hikmah yang bisa diambil dan dipolesi dalam dirimu, sebagai perhiasan akhlaq, peningkatan iman, dan pemompa ghirah dakwah.

Dalam meminta nasehat, pintalah kepada orang yang diketahui memiliki keluasan ilmu khasanah islam yang luas yang tak tersekulerisasi. Mengetahui syari’at dan dalil. Agar tak tersesat dalam berjalan. Dan ketika engkau telah memiliki ilmu akan nasehat itu, sampaikanlah pula kepada saudaramu yang lain, agar dunia ini penuh nasehat, menjadi penerang dikala arus liberalisasi melanda, penyelamat dari fikrah yang terkotori al wahn, dan penentram dari keramaian aktivitas tak punya manfaat.

Dengarkanlah lagi, sebuah dialog penuh nasihat dan sindiran yang menyadarkan antara seorang shalih, Hasan Al Bashri, dengan seseorang yang ada di sampingnya. Saat pemakaman jenazah, Hasan Al Bashri rahimahullah bertanya pada seseorang, “Menurutmu, jika dia kembali hidup di dunia, apakah ia akan melakukan amal shalih?” Orang itu menjawab, “Ya, pasti.” Hasan Al Bashri menyambut perkataan itu dengan jawaban, “Jika ia sudah tidak mungkin hidup kembali di dunia untuk melakukan amal shalih, engkaulah yang seharusnya sekarang melakukan amal-amal shalih…”

Wallahu’alam

Bandung, 13 Februari 2010

Aldo Al Fakhr

Blogger Pencari Spirit yang Hilang


Pantaskah Aku diCintai?

Pantaskah Aku diCintai?

Aldo Al Fakhr Wilman

MM SKI IT Telkom

Dibulan februari ini, banyak orang merayakan hari valentine yang erat dengan kaitannya dengan hari kasih sayang, bagi kita umat islam, hari kasih sayang tidaklah hanya hari valentine saja, namun semua hari yang menghiasi hidup kita adalah hari kasih sayang, setiap hari yang kita lewati adalah wujud kasih sayangnya Allah kepada kita karena kita masih diberikan kehidupan, sepantasnyalah kita bersyukur kepada Allah.

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin.. (Segala puji hanya untuk Engkau ya Allah Tuhan semesta Alam)

Dalam tulisan ini, saya tidak akan membahas sejarah valentine, haramkah valentine, atau dampak dari hari valentine itu sendiri. Sekali lagi tidak! Dalam tulisan ini, saya mengajak Anda untuk bertanya kepada diri masing-masing,. Sejenak saja. Sekarang juga. Tentang sebuah simbol keberartian dan eksistensi diri yaitu kepantasan diri untuk dicintai,  “Pantaskah Aku dicintai?”

Mencintai diCintai

Fitrah Manusia

Setiap insan didunia

Akan merasakannya

Indah ceria kadang merana

Itulah rasa cinta..

(Cinta – The Fikr)

Ya, pantas untuk dicintai adalah bentuk dari keberartian dan eksistensi diri. “ Karena cinta tak dipersembahkan untuk padang jiwa yang hampa. Tidak juga untuk karya-karya yang tak bermakna.” Kata Ust. Ahmad Zairofi. Hanya bila kita berguna saja, maka kita layak untuk dicintai. Nafi’un li ghairi.  Sehingga pabila diri ini tidak berguna maka yang kemudian terjadi adalah kita tak pantas untuk dicintai!

Kepantasan untuk dicintai adalah output dari kapasitas diri. Sudah sejauh mana diri ini bermanfaat dan sudah sejauh mana kontribusi diri ini untuk ummat. Kontribusi benar-benar nyata yang terlihat dalam aktivitas dan gerak-gerik bukan hanya sebuah status agar diketahui orang yang akhir-akhirnya mengharapkan pujian dari sana.

Kepantasan untuk dicintai adalah milik semua manusia yang menhirup nafas dimuka bumi ini terlebih lebih seorang kafir sekalipun. Ada sebuah rasa keberhakkan akan ingin dicintai. Apalah arti dunia ini pabila tak ada yang mencintai. Hanyalah kesepian yang menemani hari-hari yang penuh masalah. Tak ada teman tuk berbagi, tak ada sahabat yang menguatkan tancapan tombak semangat hidup, dan tak ada yang mau untuk dimintai pertolongan. Oleh karena itu, semua manusia pasti ingin dicintai oleh satu atau lebih manusia lain yang hidup dipermukaan bumi ini.

Kehidupan didunia ini tersebar dalam berbagai aspek. Dan dari tiap manusia memiliki peran-perannya masing-masing. Ada yang di sekolah, di universitas, di kantor, di rumah tangga, di pemerintahan, dan lain sebagainya. Semua memiliki peran. Dan seharusnya peran itu harus dimainkan dengan maksimal, mencerminkan sikap penuh kemanfaatan, tidak mengeruk manfaat. Menebar manfaat bukan memanfaatkannya. Siapa yang tidak memanfaatkan perannya itu maka yang kemudian muncul adalah ketidakberartian dalam kehidupan dan dengan kata lain tidak berguna, pabila sudah tak berguna maka sebuah pertanyaan muncul, “Pantaskah orang ini dicintai?” Engkau sajalah menjawabnya.

Sumber dari kepantasan untuk dicintai adalah kejujuran. Kejujuran itulah yang menjadi sumber kekuatan dalam menebar manfaat didalam peran kita masing-masing. Siapa yang tak tahu kekuatan kejujuran. Aku yakin yang membaca tulisan ini pasti mengetahuinya. Pengaplikasiannya lah yang susah, tergopoh-gopoh meraup kejujuran muncul dalam diri. Sulit untuk dikeluarkan. Karena justru ketidakjujuran itulah yang akan membawa seseorang untuk “memanfaatkannya” untuk kepentingan pribadi. Dapat terlihar dari para penguasa diktatoris yang memanfaatkan jabatannya untuk meraup keuntungan pribadi. Seorang pemilik tender yang memanfaatkan  tendernya itu untuk meraup keuntungan dari pengikut tender yang mau “ngasih lebih”. Dan lain sebagainya yang sering merusak ukiran kejujuran dalam kehidupan.

Ust Ahmad Zairofi menuliskan bahwa” pada setiap jengkal wilayah sosial kita, selalu ada tempat untuk bertanya itu: layakkah kita dicintai? Seperti bila kita seorang suami. Ada banyak karunia pada status itu. Tapi bukan karena statur itu semata kita layak dicintai. Tapi pada apa yang kita ciptakan dengan status itu, pada kejujuran kesuamian kita. Ketulusan untuk berkorban berupa manfaat untuk orang-orang yang ada di rumah kita sendiri: anak-anak, istri, atau keluarga lainnya. Begitupun  menjadi seorang istri juga status. Pada fungsi dan daya manfaatnya status itu menjadi landasan kelayakan untuk dicintai.”

Maka sebaik-baik seorang mukmin adalah paling banyak bermanfaat bagi orang lain dan lingkungannya. Keberartian akan sempurna pabila seorang mukminlah yang menebar manfaat tersebut. Karena seorang mukmin mengetahui betul manfaat dari ia menebar manfaat. Untuk itulah ia tidak menyia-nyiakan waktunya agar waktunya senantiasa terisi penuh oleh kemanfaatan bagi orang lain dan tentunya akan kembali ke empunya penebar manfaat tersebat. Ini mengindikasikan bahwa untuk menbar manfaat penuh keberartian maka keimanan harus senantiasa dipupuk agar mekar pada momentumnya. Dan tentunya untuk meningkatkan keimanan adalah dengan cara ber-taqarrub ilallah (mendekatkan diri kepada Allah). Raih cinta-Nya, maka engkau pantas untuk dicintai. Karena dalam peraihan cinta Allah tersebut, amal-amal kebaikan lantas tersebar dan memiliki kemanfaatan bagi orang lain dan lingkungannya. Insya Allah.

Diakhir tulisan ini Aku ingin berujar bahwa pabila mulai sekarang hidupmu penuh kebermanfaatan maka Anda layak untuk dicintai dan Aku pun akan mencintai Engkau!

Hamasah Akhi wa Ukhti..

Wallahu’alam

Bandung, 13 February 2010


Ku Awali Februari ini

Ku awali februari ini dengan senyum, menanti keindahan peristiwa yang akan terjadi atau mempersiapkan diri jikalau musibah menerpa. Tak apa-apa. Semua itu butuh ikhtiar, do’a, dan tawakal. Ku hanya ingin berbuat sesuatu yang lebih. Melebihi air yang berada disamudera. Ingin berkontribusi lebih. Ku pandangi kalender, betapa cepat semua ini berlalu, ternya diri ini sudah menapaki bulan kedua di tahun 2010. Sekali lagi kupandangi bulan ini dengan senyum penuh keoptimisan. Tak pernah ragu untuk menderapkan langkah menuju satu cita-cita yang pasti dan bukanlah suatu utopia yang melenakan fikiran akan keindahannya dan tanpa berbuat sesuatu.

Kuawali februari dengan cinta, dengan penuh harap. Dengan penuh asa, dengan penuh cita-cita.  Cinta yang dimaksudkan bukanlah hal yang sempit namun yang luas maksudnya, berusaha untuk mencintai anugerah Allah apa pun itu. Pasti dibalik itu semua akan ada maksud atau hikmah.

Ku awali februari ini dengan do’a. berharap kepada sang Khalik tuk diberikan yang terindah dan terbaik dibulan ini. karena hanya Dia lah yang mengetahui diri ini yang menciptakan diri ini, pastilah mengetahui kadar diri ini dan tentunya akan memberikan sesuai porsi, tinggal diriku saja yang membuatnya menjadi prestasi, setelah mendapati lalu disyukuri. Allahu ma’anna


“Tak pernah ku sesali apa yang kupunya, tapi kusadari ada lubang dalam hati” (Letto – Lubang di hati)

I Just want to say, “ I’m coming february, I believe this month is my best month, Insya Allah”

Aldo Al Fakhr

Blogger Pencari Spirit yang Hilang


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 38 pengikut lainnya.