Coretan-Coretan yang Tergores Ditubuh Sejarah

Archive for Januari, 2010

Merantau adalah cita-citaku

Ini adalah cerpen lamaku yang tersimpan di hardisk…

simak ya…

Merantau adalah cita-citaku

Jum’at, 8 Juni

Hatiku sangat gundah, risau, lasak, dan khawatir. Biskuit di piring telah habis, tak ada lagi yang dapat menghibur kesepian ini. Bagaimana tidak, besok pengumuman SPMB. Aku takut, aku tidak lulus. Pilihan pertamaku pada tes kemarin adalah kedokteran UI dan pilihan keduanya adalah kedokteran UNSRI. Memang tak mudah untuk lulus, karena jurusan itu sangat banyak peminatnya, tapi aku yakin dari apa yang telah kudapatkan di bangku SMA akan menjadi bekal yang lebih dari cukup ditambah dengan kursus yang khusus SPMB pun telah aku ikuti. Dan aku yakin Tuhan akan memberikanku kesempatan kuliah di jurusan kedokteran.

Angin berhembus gaduh, membuat suasana malam makin mencekam. Pohon-pohon berdiri dengan gagahnya, daun-daunnya menari mengikuti irama angin malam. Membuatku terhibur akan hal itu.

Kupandangi pemandangan sawah di malam hari lewat jendela kamar. Indah tapi menakutkan. Bulan menyenteri bumi dengan terangnya. Ya, malam ini bulan sedang purnama. Takkan kusia-siakan kesempatan ini untuk menikmatinya. Masih teringat di dalam benakku obrolan dengan papa dan mama di ruang tamu kemarin malam.

“ Bagaimana vid, kamu yakin bisa lulus?” Tanya papa kepadaku.

“Aku sangat yakin sekali pa, percuma aja aku kursus pra SPMB mahal-mahal kalau aku ga lulus.”

“Omongan seorang laki-laki harus dapat di pertanggungjawabkan loh vid!” mama ikut-ikutan.

“Tenang aja ma, aku takkan mengecewakan papa dan mama. Aku akan berikan yang terbaik untuk papa dan mama. Kalaupun aku tak lulus, aku akan kursus lagi untuk mengikuti SPMB tahun depan.”

“Okelah vid, kamu memang anak papa mama yang baik dan bertanggung jawab”ujar mama.

“Ah, mama terlalu memuji. Aku jadi malu.” Dengan sedikit kefua tepi bibir kesamping dan lubang hidung yang mengembang.

“Oh, iya vid, kamu maunya lulus di kedokteran UI atau kedokteran UNSRI?”kata papa.

“Apapun lah pa, karena kedua-duanya sama-sama bagus. “

“Kamu sendiri cenderungnya kemana pinginnya?”

“Aku cenderungnya ke UI pa!”

“oke, papa mama do’ain david agar diterima di UI ya! Dan jangan lupa berdo’a kepada Tuhan!”

“wah, terima kasih banyak ya pa, ma atas do’anya.”

Dari pembicaraan tersebut semakin membuatku yakin aku akan lulus di kedokteran UI. “Yah, semoga saja lah.”ujarku dalam hati.

Ayah adalah seorang petani yang sukses, ladang padi ayah berpuluh-puluh hektar, tak ayal keluargaku adalah termasuk keluarga yang paling berada dikampung ini. Dari segi biaya kuliah,” ah, aku yakin pasti ayah telah menyiapkannya untukku.”

Pernah aku menanyakan kepada ayahku.

“yah, ada uang ga kalau aku kuliah di fakultas kedokteran?”

“tenang aja, Vid. Untukmu apasih yang ga ada!”

Aku menjadi sangat yakin untuk kuliah fakultas kedokteran.

“Ayah merupakan sahabat terbaik dalam hal meminta uang,” ha..ha..ha…

Ayahpun ikut tertawa mendengar ucapanku itu. Giginya yang mulai menguning karena sering merokok pun terlihat dan itu membuatku semakin tertawa.

Dikeluarga ini, yang paling dekat denganku adalah ayah. Aku juga tak tau mengapa. Mungkin karena sama laki-laki kali ya! Jadi kalau ngobrol tuh nyambung. Apalagi kalau dah ngomongin pertanian di Indonesia, wah.. bisa panjang ceritanya satu haripun mungkin gak cukup. Menurut Ayah, jikalau Indonesia ini bisa memanfaatkan sektor pertaniannya, ayah yakin Indonesia akan menjadi Negara terkaya didunia melebihi Amerika. Ah.. ayah terlalu berlebihan. Itulah ayahku. Bangga. Pernah suatu hari ayah menyuruhku untuk masuk ke fakultas pertanian saja. Aku langsung menolaknya, karena aku lebih prefer ke kedokteran. Ayah hanya tersenyum melihatku yang sangat bersemangat masuk fakultas kedokteran.

to be continued

Aldo Al Fakhr

MM SKI IT Telkom

Blogger Pencari Spirit yang Hilang


Membuka Jalan Indah

Jalan Indah

ketika cinta itu menjelma menjadi sebuah bentuk
mengusik fikiran yang selalu bertanya
ia datang tak lama
cepat pergi dan cepat pulang
namun hati terlanjur terpaut
ingin menemaninya pulang
ikut bersama cinta ke mahligainya
mungkin saja… mungkin saja
ada kisah suka dan mengharu disana
yang bisa ku ukir dipapan sejarahku
menjadi saksi tautan hati dua insan

cobaan hidup pastilah ada
menerpa disetiap sisi yang lemah akan ruhiyah
kutakut..tak bisa menggapai asa
titik lemah ini begitu banyak
ia menusuk-nusuk hati
melambatkan perahu yang sedang mengarungi bahtera
takut ku pula tak bisa menapakinya dengan indah
kaki ini begitu lemah dan rapuh dalam melangkah
gampang sakit terinjak duri

Ya Allah
tolonglah hamba dalam membuka jalan indah itu..

Bandung,  28 Januari 2010

Aldo Al Fakhr

Blogger Pencari Spirit yang Hilang


Rindu Buat Ayah

Rindu Buah Ayah

Dimatamu masih tersimpan

Selaksa peristiwa

Benturan dan hempasan terpahat dikeningmu

Kau Nampak tua dan lelah keringat mengucur deras

Namun engkau tetap tabah

Meskipus nafasmu kadang tersengal

Memikul beban yang semakin sarat

Kau tetap bertahan

Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini

Keriput  tulang pipimu gambaran perjuangan

Bahumu yang dulu kekar legam terbakar matahari

Kini kurus dan terbungkus

Namun semangat tak pernah pudar

Meski langkahmu kadang gemetar

Kau tetap setia

Ayah… dalam hening sepi ku rindu

Untuk menuai padi milik kita

Tapi kerinduan hanya tinggal kerinduan

Namun anakmu sekarang banyak menanggung beban

(Titip Rindu Buat Ayah, Ebiet G. Ade)

Syair yang sungguh menggugah. Minggu-minggu ini aku memang sering mendengarkan dan melantunkannya diiringi gitar. Sungguh mengena. Pun kondisiku sekarang berada jauh dari keluarga. Merantau mencari ilmu ditanah orang. Sungguh sedih. Karena aku masih mengandalkan duit orang tua dalam kehidupanku. Malu rasanya, rasa tidak pantas lagi untuk dibekali oleh orang tua. Alhamdulillah bulan februari nanti merupakan perjuangan terakhir ku dikampus, karena akan siding tugas akhir. Artinya aku akan menuju dunia kerja. Dan saatnya untuk mandiri dan member. Saatnya TDA (Tangan di Atas). Saatnya bisa berkontribusi bukan dibekali lagi.

Melihat perjuangan ayahku, sungguh luar biasa. Pekerja keras dan tak pantang menyerah. Sangat mempedulikan diri ini bahkan sering mengingatkan dan mendo’akan.

Sungguh dalam tangisku ada rindu

Sungguh dalam do’aku ada rindu

Sungguh dalam rinduku ada cinta

Sungguh dalam rinduku ada semangat untuk berjumpa

Sungguh dalam cintaku ada keinginan tuk berbuat yang terbaik

Sungguh dalam cintaku ada keinginan tuk membuatnya bangga didunia terlebih-lebih diakhirat.

Ya Allah kasihanilah dia sebagaimana ia mengasihaniku sewaktuku kecil

Robbighfirli waliwalidaiya warham huma kama rabbayani saghira..

Bandung, 13 Januari 2010

Aldo Al Fakhr

Blogger Pencari Spirit yang Hilang


Hati-hatilah dengan Titik Lemahmu

Hati-hati dengan Titik Lemahmu

Ada apa ya? Kok hati-hati?

Tenang-tenang, kita akan menyaksikan tuturan kata-kata dari Syaikhut Tarbiyah Ust Rahmad Abdullah Rahimullah dalam bukunya “Episode Cinta sang Murabbi”

“Allah ta’ala akan senantiasa menguji antum pada titik terlemah antum. Orang yang lemah dalam masalah uang, namun kuat dalam masalah jabatan dan wanita, tidak diuji dengan wanita dan jabatan. Orang yang senantiasa mudah tersinggung dan pemarah, maka akan diuji oleh Allah dengan dipertemukan dengan orang-orang yang senantiasa membuatnya tersinggung dan marah. Sampai ia berhasil memperbaiki kelemahannya itu dan tidak lagi mudah tersinggung dan marah. Seseorang yang senantiasa berlambat-lambat dalam dakwah karena alasan istri, mertua, tamu akan senantiasa dihadapkan dengan alasan-alasan itu, mertua datang, tamu datang silih berganti, yang akan terus menundanya untuk segera menghadiri liqo’at (pertemuan) dakwah, sampai ia bisa mengutamakan agenda dakwah.”

Sungguh luar biasa. Kita acap kali diuji dengan itu-itu aja dan tak pernah lulus dalam ujian itu. Dakwah  ini seperti kuliah atau sekolah, ada semesteran, ada ujian, ada yang cumlaud, ada yang ngulang, bahkan ada yang drop out. Jikalau saja kita belum lulus dengan ujian keluarga seperti yang diceritakan oleh ustadz Rahmad diatas maka ia tidak akan bisa menghadiri liqo’at dakwah dan tarbawi. Pasti akan selalu ada saja yang menghalangi. Untuk itulah perlunya managemen yang baik dalam pemecahan masalah. Buat waktu, jam segini aku ngerjain PR, jam segini aku ngadiri liqo’at, jam segini aku baca buku, dan seterusnya. Sehingga kelama-lamaan setiap aktivitas akan  terprogram dengan baik. Perlu diingat bahwa, program yang kita buat tersebut bukanlah seperti penjara yang memenjarakan kita atau dengan kata lain nggak bisa ngerjain selain dari program. Makanya diperlukan prioritas dalam beramal. Mana yang lebih penting, semisal belajar atau tilawah. Prioritaskan yang akhirat dulu yaitu tilawah dulu. Setelah tilawah baru deh belajarnya. Kalau gini yang dilakukan, pelajaran akan masuk karena hati telah tentram dan siap untuk dimasukkan ilmu pengetahuan. Untuk referensi lebih detail pembahasan prioritas, saya merekomendasikan untuk membeli atau minjam buku Fiqh Aulawiyat (Fiqh Prioritas) karyanya Yusuf al Qaradhawi. Insya Allah akan tercerahkan disana.

Seperti itulah. Tak ada kata lain, kita harus melawan ujian tersebut, menghadapinya dengan kemauan yang kuat jangan setengah setengah, harus full potensi, tendang tantangannya jauh-jauh biar nggak balik lagi kedalam kehidupan, dan konsistenlah dengan apa yang sudah kamu hadapi dengan artian setelah kamu berhasil dengan satu ujian, jangan-jangan coba-coba untuk meremehkannya kembali. Karena ia akan datang lagi dan akan senantiasa beradi dikakimu hingga engkau melepaskannya. Harus komitmen. Full komitmen. Insya Allah akan dimudahkan.

Bagi kita yang belum bisa lulus dari salah satu ujian, yuks… selesaikan!!! Jangan di remehkan!!! Oke fren.

Bandung, 13 Januari 2010

Aldo Al Fakhr

Blogger Pencari Spirit yang Hilang


Harus Berjanji

Harus Berjanji

Seseorang menghadap Nabi. Ia ingin memeluk islam, namun ia masih ingin melakukan kebiasaan jahiliyah. Usai mengikrarkan syahadatain (dua kalimat syahadat), ia berkata, “Ya Rasulullah, sebenarnya saya sering berbuat dosa dan susah sekali untuk meninggalkannya.” Rasulullah menjawab, “Maukah engkau berjanji satu saja? Sanggupkah engkau meninggalkan perkataan bohong?”

“Ya, saya berjanji!” jawab lelaki itu. Singkat. Ia pun bergegas cepat. Menurut riwayat sebelum ia masuk islam ia adalah penjahat ngetop atau populer. Hobinya mencuri, berjudi, dan menenggak minuan keras atau khamar. Setelah memeluk agama islam, berbagai upaya dilakukannya untuk meninggalkan perbuatan maksiat, ia merasa kesulitan. Karena itulah ia meminta nasehat kepada Rasulullah. Dalam perjalanan pulang, lelaki itu bertanya didalam hatinya, “berat juga ternyata kalau aku harus meninggalkan apa yang dikehendaki oleh Rasulullah itu.”

Setiap kali hatinya terdorong untuk berbuat maksiat, sekejab saja hatinya mengejek dirinya, “Berani engkau berbuat jahat?apakah jawabnmu nanti apabila ditanya oleh Rasulullah? Sanggupkah engkau berbuat bohong kepadanya?” bisik hati kecilnya. Setiap kali ia berniat jahat,nasihat Nabi selalu teringat.” Kalau aku berbohong kepada Rasulullah berarti aku telah mengkhianati janjiku padanya. Sebaliknya jika aku mengatakan yang sebenarnya maka aku akan menerima hukuman sebagai orang islam. Ya Allah, sesungguhnya dalam nasihat Rasulullah tersebut terkandung hikmah yang sangat berharga.”

Dari kisah diatas dapatlah kita menarik suatu kesimpulan bahwa kalau kita mau berubah dan ingin menjadi pribadi yang unggul atau lebih baik lagi dari sebelumnya maka kita harus berjanji.  Berjanji untuk takut kepada Allah karena Allah selalu mengawasi kita dimanapun kita berada walaupun kita berada di kamar yang gelap gulita dan kita berpakaian hitam, dan ups!.. juga berkulit hitam, niscaya Allah masih dapat menemui kita dan mengetahui gerak-gerik kita bahkan mengetahui lintasan-lintasan yang berkecamuk didalam hati kita, berjanji untuk menjadi pribadi yang lebih baik tentu dengan cara mengevaluasi diri, cari potensi diri, setelah didapati, ubah menjadi prestasi, siap unjuk gigi, dan akhirnya menjadi pribadi yang lebih baik lagi ditiap periode kehidupan kita didunia ini.

Terkadang kita malas untuk berjanji dengan berbagai alasan salah satunya adalah takut untuk berjanji karena akan ada akibat yang ditanggung jikalau berjanji.

Jangan takut untuk berjanji

Inilah yang sering terjadi dikalangan umat manusia, ketakutan berjanji menghantui dirinya. Baginya janji adalah momok yang menakutkan. Monster yang siap menerkam. Yah.. gampangannya kalau tidak mau berjanji maka proses untuk menjadi pribadi lebih baik lagi akan lama waktunya mungkin dah keburu ajal menjemput. Tidak berani mengambil janji maka termasuk orang yang pengecut, tidak berani mengambil tantangan. Padahal tantangan itulah yang akan mendewasakan. Tantangan itu harus dihadapi bukan melangkah mundur karena tak ada keberanian atau dengan kata lain nyalinya ciut.

Dan ingat juga, kalau sudah berjanji perkataan yang sudah dijanjikan itu tak selayaknya untuk ditarik lagi kemulut. Ada perkataan bijak dari seorang bijak tentunya mengatakan bahwa, “ Pekataan seorang laki-laki haram untuk ditarik lagi” sebenarnya saya tidak sepenuhnya setuju dengan kalimat itu karena kalau perkataannya memang salah, masa’ nggak boleh diperbaiki, itu namanya penyesatan. Tapi ambil positifnya aja, ketika kita sudah berujar dan berjanji terhadap sesuatu dan itu baik untuk kita pribadi terlebih-lebih bagi orang lain juga, maka itulah yang jadi haram untuk ditarik kembali. Pabila ditarik kembali sama saja menelan ludah yang sudah dikeluarkan dari mulut. Ih.. jijik… pasti kita akan merasa jijik bukan. Nah.. seperti itulah pengibaratannya.

Konsekuensi

Berbicara tentang konsekuensi, pastilah ada dalam setiap aktivitas kehidupan kita baik itu amal baik maupun itu amal buruk, kedua-duanya memiliki konsekuensinya masing-masing. Tergantung kita mau pilih yang mana.

Pun ketika kita berjanji terhadap sesuatu maka pastilah ada konsekuensi yang akan kita tanggung akibat dari tidak dijalankannya dengan baik janji yang telah diujarkan.

Tapi lihat postifnya kembali saudaraku…dapat dilihat disinilah integritasnya atau penambahnya. Luar biasa. Seperti ketika Nabi Muhammad Saw bertransaksi. Disepakati untuk melunasi utang pada suatu hari dan ditempat yang sudah dijanjikan. Janji beliau ditepati. Tapi orang yang ditunggu-tunggu Nabi tidak juga datang hingga 3 hari lamanya. Hingga akhirnya orang itu pun datang dan selesailah pula transaksi yang dilakukan. Luar biasa yang dilakukan oleh Rasul. Ia bersedia menanti hingga lamanya akibat dari konsekuensi dari janjinya. Selayaknyalah kita bertauladan dari Rasulullah. Itulah konsekuensi dan harus ditepati.

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (QS. Al-A’raf: 179)

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. (QS. Al-Anfal: 27)

Janganlah bersikap lalai terhadap pemenuhan janji yang telah kita ujarkan. Dan jugalah ingat bahwa janji itu adalah amanah yang harus diselesaikan. Jangan sampai kita mengkhianatinya padahal kita mengetahuinya.

Orientasi

Perlu diingat pula orientasi kita berjanji untuk apa? Bersihkan niat kita hanya untuk Allah. Orientasi kita hanya untuk Allah saja tidak ke yang lain. Janganlah kita berjanji karena ingin dilihat oleh orang lain, pingin dilihat baik, soleh, berjiwa besar, dan lain sebagainya. Apalah artinya amal tanpa niat atau orientasi yang salah. Hanya berujung pada kesia-siaan dan tentunya penyesalan lah yang akan didapat dikemudian hari terlebih-lebih diakhirat kelak. Astaghfirullah. Banyak-banyaklah beristighfar agar hati kian bersih dari riya’.

Jadilah pribadi yang berani berjanji, agar menjadi obsesi untuk memperbaiki diri.

Wallahu’alam

Bandung, 12 Januari 2010

Aldo Al Fakhr

Blogger Pencari Spirit yang Hilang


Dan Siapkanlah…

Dan Siapkanlah

Taujih Rabbani

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).” (QS. Al-Anfal: 60)

Hai orang-orang yang beriman, bersiap siagalah kamu, dan majulah (ke medan pertempuran) berkelompok-kelompok, atau majulah bersama-sama! (QS. An Nisaa: 71)

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Ketiga ayat diatas mengindikasi sebuah kata persiapan. Dan menyuruh kita untuk bersiap-siap  terhadap apa yang akan kita kerjakan. Sungguh jikalau persiapan itu matang maka akan ada menang. Itulah yang terjadi. Perintah untuk bersiap ini seharusnya bukan jadi bacaan saja, tapi harus dilaksanakan. Dalam berorganisasi misalnya, kita harus mempersiapkan apa-apa aja perangkat organisasinya, bagaimana AD/ART nya, dan siapa ketua, sekjend, bendahara, kepala bidang, dan lain sebagainya. Ataupun juga ketika kita ingin berbisnis, maka perlu ada persiapan. Persiapan yang sering dijadikan acuan ketika akan berbisnis adalah persiapan mental, kata-kata dedengkot bisnis tuh jangan mikirin modal, modal yang utama adalah kemauan yang kuat, karena dengan kemauan yang kuat modal-modal yang lain akan datang dengan sendirinya tentu saja dengan ikhitiar dan ibadah. Begitulah saudaraku, aku pun yakin engkau pasti ngeh dengan hal ini. Yang menjadi masalah adalah kita jarang mengaplikasikannya dan merealisasikannya dalam amal-amal kita. Itulah inti masalahnya.

Sekarang ini bahkan sudah kemaren-kemaren, para musuh islam sedang berkonsolidasi dengan artian bersiap-siap untuk menghancurkan umat islam dan bahkan dari persiapan mereka tersebut sudah ada yang menjadi kenyataan. Misalnya seperti pacaran, budaya hedon, dan lain sebagainya yang kamu pun pasti sudah mengenal tanda-tandanya. Itulah hasil dari persiapan mereka, dan tunggu saja kejutan dari hasil persiapan mereka.

Sabda Rasulullah Saw:

“Kejahatan yang terorganisir akan mampu mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisir.”

Sedangkan kita –umat islam- sibuk dengan mengurusi dan mempermasalahi hal-hal yang tidak prinsip atau mutaghairat. Kita seakan-akan terkotak-kotakkan, memang berbeda madzab itu tidak dilarang oleh Agama, tapi jangan permasalahan yang nggak prinsiplah. Umat ini sibuk mengurusi permasalahan tahlilan, ziarah kubur, qunut, menundukkan wajah ketika salam kepada orang yang lebih tua, dan sebagainya. Seharusnya kita berujuk kepada perkataan seorang Hasan al Banna

“Lupakanlah yang mutghairat dan marilah sinergiskan yang tsawabit (tetap)”

Kata-kata ini seharusnya layak diberikan tinta emas, karena dengan sinergisnya umat islam seluruhnya maka kekhilafahan pun akan menjadi suatu keniscayaan. Inilah perlunya kita untuk berkonsolidasi dalam rangka mempersiapkan agenda-agenda kedepannya menjadikan islam sebagai soko guru peradaban dunia.

Semakin semangat lagi dalam mempersiapkan agenda-agendanya, buat catatan persiapan untuk 1 minggu kedepan, sebulan kedepan, setahun kedepan, sepuluh tahun kedepan, dan seterusnya. Dokumentasikan dan buatlah dengan seideal mungkin sesuai dengan kemampuanmu. Harus realistis dan teliti dalam membuat persiapan. Karena orang bijak mengatakan bahwa,

“Gagal dalam mempersiapkan berarti sama saja siap-siap untuk gagal”

Janganlah menjadi pribadi yang gagal dalam mempersiapkan aktivitas karena kemalangan dan penyesalanlah yang terjadi pada saat itu. Sungguh kita ingin menghindari itu bukan!

Sip..

Kami adalah tentara Allah, Siap menuju kemedan juang

Walau tertatih kaki ini berjalan, Jiwa perindu syahid takkan tergoyahkan

Wahai tentara Allah bertahanlah, Jangan menangis walau jasadmu terluka

Sebelum engkau bergelar syuhada, tetaplah bertahan dan bersiap siagalah

(Korsad, IZZIS)

Rasulullah Saw bersabda:

“ Barang siapa yang jelek diawalnya, maka tunggulah kejelekan pada kesudahannya.”

“Setiap waktu adalah momentum, dan sepenggal masa adalah kesempatan.” Kata Ust Ahmad Zairofi dalam bukunya Hidup tak kenal siaran tunda. Ini mengindikasikan bahwa setiap waktu itu harus dimanfaatkan dengan baik, momentum yang baik akan terjadi jika saja kita berani untuk membuatnya baik dan ketika kesempatan itu datang, ambillah dan genggam dengan erat, lalu pergunakan dengan semaksimal mungkin. Berikan persiapan yang matang terhadap semua kesempatan yang diberikan Allah kepada kita.

Wallahu’alam

Bandung, 12 Januari 2010

Aldo Al Fakhr

Blogger Pencari Spirit yang Hilang


Merendahlah

Merendahlah…

Banyak dari kita yang dengan sombong dan angkuhnya merasa banyak ilmu, memandang negative orang yang secara kasat mata berada dibawah kita padahal belum tentu. Misalnya saja kita ambil salah satu studi kasus yang mungkin sering terjadi ditengah-tengah perjalanan dakwah yaitu umur tarbiyah. Banyak dari para oknum-oknum yang belum kenal tarbiyah dengan dalam-dalam dan memang ia sudah lama tarbiyah merasa besar, merasa punya tempat yang lebih tinggi, “kurang” menghargai pendapat dari ikhwah yang lain yang dari segi tarbiyah memang baru. Ini tentu saja tidaklah boleh dilakukan. Ingat saudaraku, umur tarbiyah baik itu baru dan telah senior tidak menentukan ‘izzah kita dihadapan Allah. Mungkin barangkali para balita (bawah lima tahun) tarbiyah lebih mulia ketimbang senior tarbiyah. Allahlah yang mengetahui kadar dirimu, janganlah sok-sok an. Cobalah dihargai dan diteliti apa maksud dari saudara kita tersebut. Jikalau memang jauh dari asholah dakwah maka kewajiban kita untuk m engingatkan dengan cara yang tentunya ahsan, tidak menggurui apalagi menghakimi.

Seharusnya perbuatan bijak seorang yang sudah lama tarbiyah adalah ia bisa mengajak tuk mengerti bukan mengejek akan pendapatnya apalagi membicarakannya kepada orang lain. Tunggu sajalah ketika kita menghinakan orang lain maka Allah akan menghinakan kita. Seharusnya kita merangkul bukan memukul memanglah dakwah kita ini banyak perbedaan pendapat yang terjadi. Merangkul ia kepada kebenaran bukan memukul tentang pendapat yang salah, ini terjadi karena ia belumlah memahami karakteristik dakwah ini dengan baik. Menasehati bukan untuk menyakiti. Justru inilah yang menjadi PR kita bersama untuk bersikap arif dan bijaksana yang demikian itu seakan telah hilang ditubuh para kader. Inilah yang harus kita budayakan sama-sama agar kesinergisan antar kita dapat bersatu pada dan melejit menjadi prestasi dakwah.

Yah.. disini kita sama-sama belajar, saya juga sedang belajar untuk menghargai pendapat ikhwah kita. Saya juga yakin yang sedang membaca juga sedang belajar.

Ustadz Rahmad Abdullah Rahimullah pernah menuliskan puisi, yaitu:

Merendahlah, engkau kan seperti bintang-gemintang

Berkilau di pandang orang

Diatas riak air dan sang bintang nun jauh tinggi

Janganlah seperti asap

Yang mengangkat diri tinggi di langit

Padahal dirinya rendah-hina

Wallahu’alam

Bandung, 12 Januari 2010

Aldo Al Fakhr

Blogger Pencari Spirit yang Hilang


Rumah Kita Sendiri

Rumah Kita Sendiri

Lebih baik disini…

Rumah kita sendiri

Segala nikmat dan anugerah yang Kuasa

Semuanya ada disini..ada disini…

Rumah kita…

Pada tahukan nih lagunya siapa! Kalau ga salah yang nyanyi tuh all Indonesian voice, yang isinya para penyanyi-penyanyi dan vokalis band-band ngetop. Judulnya rumah kita. Tapi bukan inilah yang akan kita bahas. Melainkan mengkaitkan rumah itu dengan islam. Ditulisan ini kita sepakat dulu bahwa yang dimaksudkan rumah disini adalah bangunan islam. Oke. Akur kan!

Perlu digaris bawahi bahwa umat islam adalah rumah besar kita. Rumah tempat kita berteduh, bernaung, dan tempat mengisi energi. Tapi kenapa rumah itu sekarang sedang menuju keambrukannya. Seperti halnya sekolah muhammadiyah yang ada di film Laskar Pelangi yang ditopang dengan gelondongan kayu biar nggak rubuh alias ambruk.

Ini terjadi karena umat ini banyak yang meremehkan hal-hal yang kecil. Padahal hal-hal yang kecil itu apabila dibiarkan begitu saja maka akan bertambah, bertambah, dan semakin bertambah. Ibarat salju sekepak tangan yang menggelinding kelama-lamaan berubah menjadi bola yang besar. Seperti itulah. Atau seperti “gerakan koin keadilan prita” yang begitu luar biasa antusias masyarakat menanggapinya. Tak disangka koin yang sering kita anggap remeh bisa membebaskan seorang dari jeratan ketidak adilan. Ini mengindikasikan bahwa hal-hal yang kita anggap remeh sebelumnya akan menjadi luar biasa dampaknya. Baik itu dampak baik maupun buruk.

Selayaknyalah bagi kita untuk mengevaluasi diri sendiri, cek semuanya jangan sampai ada yang terlewati, cek sana sini, jangan cepat puas, cari terus kekurangan diri, setelah dapat, perbaiki menjadi prestasi, ajak istri, anak, kerabat, teman, dan masyarakat untuk sama-sama mengevaluasi diri. Jikalau sudah begitu insya Allah bangunan rumah kita akan bagus kembali, indah dipandang, tentram ketika dirumah, tidak mau keluar rumah karena sangking nyamannya berada didalam.

Dan jangan sampai pula ketika kita tidak bisa membangun rumah itu kembali, keberadaan kita akan digantikan dengan kaum yang lain, generasi kita tergantikan, seperti yang telah ditegaskan oleh Allah dalam QS.Al-Ma’idah: 54,

Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.”

Oleh karena itu saudaraku seharusnya motto “Bergerak atau Tergantikan” dijadikan motto tambahan dari sekian banyak mottomu. Karena kita harus bergerak atau berharakah kalau tidak mau dianggap lemah. Hanya orang yang berakhir dengan hinalah yang mau dianggap lemah, yakinkan pada diri bahwa diri kita adalah kuat dalam bergerak. Siap menebas rintangan yang menghadang. Siap menyelesaikan masalah dengan bijak tidak kelabakan, mampu mengorganisasikan masalah. Siap bergerak untuk mencari ilmu, Jabir bin Abdillah Ra. berjalan kaki sebulan penuh dari madinah ke mesir untuk mencari satu hadist saja. Dan Imam Bukhari yang bergerak mencari ulama-ulama dan mampu mengumpulkan sekitar sejuta hadist dari ulama-ulama tersebut, tak puas sampai disitu, imam bukhari menyeleksinya sehingga menjadi 600.000 hadist, ternyata tak puas juga sampai disitu, ia hanya menshahihkan 4.000 hadist saja. Luar biasa. Kita yang sudah punya kendaraan malas untuk datang tastqif yang diadakan, dan itupun gratis. Na’udzubillah.

Tergantikan adalah suatu yang tentu tidak inginkan terjadi didalam hidup ini. Oleh karena itu diulangi lagi agar senantiasa menguatkan diri dengan motto, “Bergerak atau Tergantikan”

Oke saudaraku!

Ngambil dari jargonnya KaMu SKI (Kader Muda Sentra Kegiatan Islam) IT Telkom:

Aku Bisa… Kamu Bisa… Bersama Kita Bisa… Allahu Akbar….

Betul banget bersama kita bisa membangun rumah kita sendiri. Bersinergi dan berkontribusi tanpa kenal lelah karena ini Rumah Kita Sendiri.

Wallahu’alam

Bandung, 12 Januari 2010

Aldo Al Fakhr

Blogger Pencari Spirit yang Hilang


Open Your Heard

Open Your Heard

Unzhur maa qaala wa laa tanzhur man qaala

Ada yang tau artinya?

Artinya adalah “Lihatlah apa yang dikatakan dan jangan lihat siapa yang berkata”

Kata-kata diatas merupakan pesan dari seorang sahabat Rasul yaitu Ali bin Abi Thalib. Pesan yang sungguh bijak dari seorang sahabat. Terkadang kita jarang sekali mendengarkan suatu ucapan dari seseorang yang kita benci misalnya atau yang kita kurang senangi mungkin karena sifatnya, cara bicaranya, dan lain-lain walaupun itu adalah perkataan yang benar. Disini kita sepakati dulu bahwa perkataan yang benar dari seseorang itu datangnya dari Allah dan kalau tidak benar maka datangnya dari kekhilafan pribadi.oke.. sepakat kan? Aku yakin pastilah sepakat bahkan kita pun juga sering menggunakan kata-kata tersebut diakhir sesi presentasi, ceramah, “ngisi”, dan lain-lain. Nah.. kalau sudah sepakat bahwa perkataan yang benar itu datangnya dari Allah. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, kenapa kita tidak mau mendengarkan perkataan benar dari seseorang yang kita tidak senangi? Nah loh… ayo yang merasa begitu.. jangan Cuma senyam senyum. Ini adalah tamparan yang keras kepada kita yang sedemikiannya egois berlandaskan emosi dalam bertindak. Tahukan anda, bahwa yang anda lakukan itu dipengaruhi oleh syaitan yang tentu saja mengajak kita untuk membenci saudara kita, memprovokasi ukhuwah kita, dan menyuruh untuk tidak menghargai saudara kita, tidak adanya tabayun terlebih dahulu, maunya hanya menghakimi tidak mau mengevaluasi diri terlebih dahulu. Wah..wah.. ini namanya bukanlah pejuang sejati, karena

pejuang sejati itu adalah berani mengkoreksi dirinya.

Jangan mudah terprovokasi atas berita yang belum tentu kebenarannya apalagi menyebarkannya justru itu nantinya akan menjadi fitnah. Sama-sama kita tahu bahwa fitnah lebih kejam dari pembunuhan. Oleh karena itu saudaraku telisik dulu kebenaran berita tersebut, apakah benar ia berbuat demikian? Tanyakan dengan teman dekatnya bahkan kalau perlu tanyakan kepada keluarganya. Sehingga ketsiqahan akan semakin terkikis, prestasi amal pun ikut-ikutan menipis. Janganlah ujung-ujungnya menangis. Na’udzubillah

Allah Swt berfirman

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS, Al-Hujurat: 6)

Ayat diatas menyuruh kita kepada sikap tabayun. Maka sudah sepatutlah bagi tiap-tiap diri manusia itu agar tidak bergosip/ghibah. Apalagi yang dibicarakan itu belum tentu benar perkaranya dan tentu saja dosalah yang akan kita dapatkan.

Cobalah dipikirkan perasaan saudara anda ketika anda tidak menghargai apa-apa yang telah dikerjakannya dan diucapkannya. Ini mengindikasikan bahwa kita belumlah sampai pada tahap tafahum, mungkin tahap ta’aruf pun kita belum lulus, belum begitu mengenal latar belakang keluarganya seperti apa, latar belakang organisasinya seperti apa. Karena kalau kita sudah mengenal latar belakangnya dengan sedetik mungkin –kalau bisa- maka insya Allah tahapan tafahum pun akan menjadi keniscayaan.  Dan pikirkanlah pula bilamana kita berada di posisi sebaliknya. Mungkin kita akan beremosi ria terhadap apa yang telah dilakukan saudaramu sendiri.

Sekali lagi saya ingin mengulang pesan dari sayyidina Ali, “Lihatlah apa yang dikatakan dan jangan lihat siapa yang berkata” insya Allah dengan berbuat demikian maka segala ilmu yang didapat dari orang tersebut akan menjadi maksimal didapatkan dan tentunya ukhuwah pun akan semakin erat.

Jangan egois, pintalah maaf kalau bersalah dan tidak bersalah, mungkin kita merasa tidak pernah bersalah tapi mungkin kesalahan kecil acap kali kita lupakan, itulah yang harus kita pintakan maaf ke saudara kita. Bukalah pintu maaf yang sebesar-besarnya kepada saudara kita, Allah saja membuka pintu tobat selebar-lebarnya kepada para hamba-Nya. Kita yang begitu lemah dan hina tidak mau memaafkan saudaraku kita.

Teruntuk saudara/saudariku yang membaca tulisan ini, dengan segenap hati aku meminta maaf atas apa yang telah kulakukan selama ini, perkataan yang kasar, perbuatan yang tak berkenan dihatimu, dan sakitnya hatimu karena diriku yang hina ini. Dan tentu saja wahai saudaraku/saudariku, kesalahan-kesalahanmu pun telah aku maafkan. Kuharap ukhuwah tak layaknya batu, keras dan menyakitkan, tak mengantarkan kita ke syurga karena kerasnya ukhuwah itu.

Syaikhut Tarbiyah, Ustadz Rahmad Abdullah Rahimullah mengatakan bahwa, “ ada dua hal yang harus dilupakan yaitu kesalahan saudara kita dan kebaikan kita kepada orang lain. Dan ada dua hal pula yang harus kita ingat terus yaitu kebaikan saudara kita dan kesalahan kita kepada orang lain.”

Insya Allah ketika telah mengamalkan kata-kata diatas, yakinlah dan sekali lagi yakinlah hidup akan tenang tanpa ada perselisihan yang berarti yang dapat merusak tubuh ukhuwah islamiyah.

Angin kau nyanyikanlah lagu

Dayuhlah sampaikan berita maaf itu

Sampai dihatinya

Lalu selimutkanlah maafku itu dihangatnya malammu

Sehingga menjadi hangat dan bersahabat

Wallahu’alam

Bandung, 11 Januari 2010

Aldo Al Fakhr

Blogger Pencari Spirit yang Hilang


Sadarlah Akhi…

Sadarlah Akhi…

Sebelum membaca tulisan ini, alangkah baiknya kalau saya bertanya satu hal yang insya Allah akan ada erat kaitannya dengan tulisan yang akan dibaca dibawah ini.

  1. Sadar itu apa sih?
  2. Siapa yang menulis buku “Bagaimana Menyentuh Hati”?

Jawab aja dengan hatimu…

Untuk jawaban nomor satu tolong ditulis di form komentar dibawah, ayo bagi ilmu dengan temannya yang lain.

Nah.. untuk yang nomor 2, yang menulis Bagaimana Menyentuh Hati adalah Abbas As Sisi. Ada cerita menari mengenai beliau.

Suatu pagi Hasan al Banna datang menemui sohibnya Abbas as Sisi, dan ternyata mata Abbas sembab dikarenakan sepanjang malam terus menangis. Dan sekita itu juga ditanyalah oleh Hasan al Banna, “ya Akhi, kenapa matamu sembab seperti itu?” Abbas as Sisi pun menjawab, “Aku menangis semalaman karena ada tanah kaum muslimin yang dirampas oleh para komunis.” Dan seketika dijawab oleh Hasan al Banna, “Berarti kamu sudah mulai menapaki jalan dakwah ini.”

Subhanallah. Kesadaran Abbas as Sisi tentang ada tanah kaum muslimin yang dirampas komunis saja barulah dikatakan mulai menapaki jalan dakwah ini. Bagaimana dengan kita ya akhi? Sadarlah! Karena kita sering terleha-leha dalam mengemban amanah dakwah. pabila mau dibandingkan. Wuih… jauh banget kita dengan pendahulu-pendahulu dakwah ini. Kita sekarang sudah enak dan sudah terfasilitasi dengan lengkap apalagi dengan adanya legalitas dalam berdakwah seharusnya semakin kenceng juga dakwahnya. namun yang terjadi tak seindah yang diharapkan. Betullah apa yang dikatakan Hasan al Banna pada Majmu’atur Rasail bahwa,

“Ada di antara pemuda yang tumbuh dalam situasi bangsa yang dingin dan tenang, di mana kekuasaan pemerintah telah tertanam kuat dan kemakmuran telah dirasakan oleh warganya. Sehingga pemuda yang tumbuh dalam suasana ini aktifitasnya lebih banyak tertuju kepada dirinya sendiri daripada untuk umatnya. Dia pun kemudian cendrung main-main dan berhura-hura karena meresa tenang jiwanya dan lega hatinya.”

Mungkin itu yang terjadi pada kita sekarang disaat semua sudah serba enak dalam berdakwah justru berhura-hura, merasa santai, tenang tanpa beban, dia berfikir bahwa akan banyak yang akan mengurusi dakwah ini sehingga ia hanya focus kepada dirinya sendiri, itulah tadi karena jumlah aktivis dakwah yang sudah banyak pada zaman ini. Yang diharapkan sebenarnya adalah semakin banyak aktivis dakwah maka seharusnya dapat me ngisi ruang-ruang yang masih kosong dan harus segera diisi seperti dunia akting, dunia perbankan yang masih sedikit dan belum kuat, dan dunia-dunia yang lain. Masa’ harus kembali ke awal lagi, mulai dari nol lagi, tentulah akan menghabiskan energi dan waktu saja.

Sadarlah Akhi..

Dari kesenangan yang melenakan

Keluarlah dari mihrabmu

Mulailah memikirkan umat

Mulailah berkontribusi nyata untuk dakwah

Janganlah hanya sebagai pengembira dan pengkritik saja

Ambillah posisi terdepan dalam perjuangan

Ambillah penamu lalu goreskan perubahan

Jadikan Islam sebagi soko guru

Tentu dengan adanya andil mu disana

Sehingga kau menjadi orang yang dinanti

Dinanti digerbang peradaban yang gilang-gemilang

Wallahu’alam

Bandung, 11 Januari 2010

Aldo Al Fakhr

Blogger Pencari Spirit yang Hilang


Membaca itu…

Membaca itu…

Membaca bagi sebagian orang adalah suatu pekerjaan yang sangat-sangat membosankan. Aktivitas yang bagi sebagian orang juga menghabiskan waktu. Kegiatan yang menjadi momok untuk dilakukan bagi sebagian banyak orang didunia ini. Dan bagi sebagian manusia yang hidup didunia ini membaca termasuk list ketidaksukaan dalam hobinya. Apalagi dinegeri

Sungguh ironis ingin mengharapkan Negara ini maju dan bisa punya nama didunia internasional dalam bidang sastra, teknologi, kedokteran, sipil, dan lain sebagainya jikalau tidak ada minat yang besar untuk membaca. Ingat bacaan itu adalah jendelanyanya ilmu, jadi kalau kita tidak membaca gimana mau menghirup udara segar sedangkan jendela kamar ilmu tidak dibuka lebar-lebar. Semakin banyak kau membaca buku, maka semakin lebar pula jendela itu, dan sebaliknya semakin sedikit kau membaca buku, maka dengan sendirinya jendela itu akan tertutup rapat dan kamar akan terasa sumpek, pengap, dan tidak ada selera untuk berlama-lama hidup didalamnya.

Aku banyak melihat ketika seseorang yang sebenarnya mempunyai waktu luang namun tidak memanfaatkannya dengan membaca buku, yang ia lakukan justru yang tidak bermanfaat banyak baginya, mungkin hal itu bermanfaat baginya tapi sejatinya perbuatan itu tidaklah bermanfaat baginya dan bahkan menghancurkan dirinya perlahan demi perlahan. Contoh yang sering kita saksikan adalah banyak insane yang hidup dibangsa ini mengisi waktu luangnya dengan merokok, padahal sudah jelas tertera di rokok yang hisap tersebut bahwa, “merokok bisa menyebabkan impotensi, gangguan kehamilan, kanker, dan lain-lain.” Ada dua kemungkinan ketika seseorang itu merokok. Yang pertama, ia buta huruf alias tidak bisa membaca. Tulisan segede bagong itu tidak bisa dibacanya dan ketika iklan-iklan diTV mengenai rokok pun ketika diakhirnya mengeluarkan kata-kata tersebut. Itu yang pertama. Yang kedua adalah ia sengaja untuk menghancurkan dirinya atau bunuh diri, mungkin saja dia sudah frustasi dengan apa yang telah didapatkan atau dikerjakannya dimuka bumi ini. Ia sudah tak punya harapan untuk maju lagi sehingga ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan penyakit yang banyak dengan merokok salah satunya. Yah.. seperti itulah ketika tak tahu diri maka akan kehilangan potensi diri. Potensi diri yang seharusnya menjadi prestasi. Prestasi untuk mengubah diri menjadi lebih baik lagi. Allahu Akbar. Allah yang mengetahui tiap-tiap kejadian dimuka bumi ini. Segala puji hanya untuk Engkau ya Allah telah memberikan kepadaku dan pembaca yang tidak merokok tidak terlibat dengan aktivitas menghancurkan diri sendiri.

Jauh banget bahasannya ya,…

Membaca itu adalah ibadah. Ayat pertama yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad Saw adalah iqra, bacalah. Sudah jelas bahwa Allah menyuruh kita para manusia untuk senantiasa membaca apa yang telah tersirat dan tersurat dimuka bumi ini. Jangan malas-malasan. Yakinlah ketika kita membaca, tiap ilmu yang kit abaca itu adalah bernilai ibadah. Niatkan hanya untuk Allah maka keberkahan membaca pun akan kita raih dengan maksimal. Jikalau saja umat ini tahu bahwa membaca itu ibadah tentunya yang dibaca yang bagus-bagus bukan cerita-cerita ga jelas, berbau porno, dan ghibah. Itu malah membuat dosa bukan pahala yang didapat. Oleh karena itu sahabatku, pilihlah bacaan –bacaan yang sejatinya akan membawa perubahan yang berarti bagi hidup kita. Kalau tak punya duit untuk beli. Gampang. Tinggal ke perpus kampus, sekolah, dan lain-lain. Baca deh disana. Atau pinjam dengan teman. Tentunya kita akan dapat ilmu yang bermanfaat dari aktivitas membaca tersebut.

Dengan membaca juga, praktek atau amal yang kita lakukan tidak menyimpang dari seharusnya. Tidak jauh dari syari’at yang ditetapkan. Dan tidak jauh dari kerusakan amal karena tidak mempunyai ilmunya terlebih dahulu. Ilmu bisa diraih salah satunya dengan membaca. Dahulukan ilmu atas amal, seperti itulah yang sering kita dengar oleh beberapa ulama dan ustadz. Amal tanpa ilmu akan berujung kepada kesesatan dan ilmu tanpa amal juga akan berujung kepada ketidakberartian atau kesia-siaan. Nah.. ini menjadi pelajaran yang penting bagi kita untuk beramal setelah berilmu, jangan sampai kita udah capek-capek nyari ilmu kesana sini, ngabisin biaya bensin dan biaya beli buku, dan lain-lain tapi tidak dilaksanakan wah.. itu namanya tak ada hasil. Sama aja bohong. Satu lagi nih yang perlu diperhatikan juga bahwa ilmu yang kita dapatkan juga harus disampaikan kepada orang lain jangan hanya disimpan untuk diri sendiri. Yah kalau misalnya belum berani untuk berkata-kata maka solusi yang kemudian muncul adalah dengan menuliskannya. Sayyidina Ali bin Abi Thalib mengatakan bahwa “ikatlah ilmu itu dengan menuliskannya.” Ini adalah perkara yang jelas bagi kita, setelah kita membaca makan kemudian menuliskannya atau menyampaikannya kepada orang lain. Maka insya Allah ilu yang kita dapat akan full berkah dan manfaat. Dan itu juga termasuk amal jariyah yang tidak habis-habisnya hingga hari kiamat. Ga pernah terbayang oleh kita ketika nanti diakhirat melihat banyaknya amal baik yang bertumpuk-tumpuk sehingga timbangan amal condong ke amal baik. Tentu itu adalah keberuntungan yang tiada tara pabila dibandingkan ketika kita endapat 1 triliun dimuka bumi. So pastilah karena yang kita dapatkan insya Allah adalah surga. Itu bisa terjadi jikalau ilmu yang kita dapatkan dapat bermanfaat bagi orang lain dan kita pun tercap sebagai insan yang bermanfaat bagi insan yang lain. Nafi’un lil ghairi.

Membaca itu akan bikin pinter. Wah.. ini pastilah yang akan kita dapatkan manakala kita doyan untuk membaca. Pinter itukan proses dari tidak tahu menjadi tahu. Semisal kita belum tahu tentang tarbiyah, coba deh kit abaca buku-buku yang berkaitan dengan tarbiyah maka kita pun akan tahu apa itu tarbiyah, urgensinya, perangkat-perangkatnya, dan lain sebagainya. Atau tentang dakwah, pabila kita belum tahu apa itu dakwah maka bacalah buku-buku yang mengupas tentang seputar dakwah, insya Allah akan diberikan pencerahan tentang apa itu dakwah. pintar itu membutuhkan proses dan salah satu prosesnya adalah dengan membaca. Jangan malu-malu untuk membaca. Sungguh ironis ketika orang malu-malu untuk mengeluarkan buku yang ada ditasnya untuk dibaca dihalte bus, di stasiun, dikendaraan umum, dan ditempat umum lainnya. Ia sekan malu utk menjadi orang yang berilmu. Ia takut dikatakan sebagai kutu buku. Itulah yang menjadi permasalahan mendasar Negara ini menjadi tidak maju-maju yaitu perkara baik dimanipulasi menjadi perkara buruk, dan sebaliknya. Ini adalah paradigm yang salah, sehingga orang yang gemar baca buku namun belum memiliki PD untuk terbuka, ia kan malu untuk membaca buku didepan umum. Ini pernah terjadi pada diri saya pribadi. Ketika itu dosen belum datang, untuk mengisi waktu luang, saya ambil buku yang ada ditas saya. Eh.. ada teman yang baru datang. “Oi… rajin amat lu.. baca buku.. lihat judulnya. Ah.. manajemen menangis, mau nangis lu!” seperti itulah tanggapan teman saya kepada saya yang sedang membaca buku yang berjudul “Manajemen Menangis” seakan-akan ia meremehkan aktivitas membaca dan meremehkan arti dari menangis itu. Dan apa yang aku perbuat yah diam aja… males meladeni orang yang begituan. Lebih baik diam ketimbang memacu darah keluar (marah maksudnya).

YAH..begitulah saudaraku, ketika kita membaca banyak yang akan kita dapatkan. Kemenangan akan kita galang, kesulitan yang menghadang akan kita tendang. Dan semangat perubahan telah Nampak dalam dirimu. Sekarang tunggu saja, engkau akan menjadi tonggak perubahan dalam peradaban. Dan engkau adalah arsitek peradaban kalau kata ust. anis matta. Dengan perlahan insya Allah kita do’akan saja negeri ini akan tumbuh karena aktivitas membaca yang kita lakukan. Dan jangan lupa pula mengingatkan saudara kita untuk membaca, katakana urgensi-urgensi dari membaca. Aku yakin kau pasti bisa untuk membuat dirimu, saudara, keluarga,lingkungan, Negara, dan dunia untuk berubah kea rah yang lebih baik.

Membaca itu juga menguntungkan bagi siapa yang mau mengamalkannya. Karena apa? Karena dengan membaca fikiran kita akan diasah. Sungguh baca itu adalah vitaminnya fikiran. Jadi kalau fikirannya mau sehat maka harus diberi vitamin terus biar sehat. Tapi perlu diingat, jangan asal vitamin, vitaminnya haruslah vitamin yang baik. Jangan asal-asalan memberikan vitamin kepada tubuh fikiran kita, karena akan berdampak yang tidak baik bagi tubuh fikiran kita, semisal fikiran yang melayang-layang kemana-mana kerah yang jelek dan tak berarti tentunya. Keuntungan membaca adalah bagi seorang penulis dapat memperbanyak perbendaharaan kata untuk dituliskannya, sehingga tulisannya lebih kaya akan warna, tidak monoton dan kaku, tapi berirama yang indah dibaca dan menyenangkan serta memberikan perubahan yang berarti kepada para pembaca tulisannya.

Jangan pernah meremehkan hal yang kecil, justru yang kecil inilah yang akan menjadi penopang-penopang berseminya kembali izzah islam didunia ini.

Wallahu’alam

Bandung, 10-11 Januari 2010

Aldo Al Fakhr

Blogger Pencari Spirit yang Hilang


Orang Bermental Buih

Orang Bermental Buih

Sungguh sedih ketika umat islam yang jumlahnya seperlima dari penduduk bumi harus dilecehkan dan dihinakan. Banyak tapi tak bergerak percuma dan bergerak namun tak berpengaruh adalah sia-sia. Kondisi ini diperparah dengan kehilangan akan basis identitasnya yaitu islam. Dan dimuka bumi ini ia diamanahkan dalam peran sebagai seorang muslim. Tapi kenapa banyak yang menyadari. Coba kita lihat dalam pementasan drama atau dalam sinetron-sinetron yang sering digemari mereka bahwasanya actor dan aktris yang main disana tahu dan ngerti akan perannya. Bagaimana jadinya apabila si actor atau si aktris tak memahami perannya dalam drama tersebut, yang sebenarnya ia berperan sebagai protagonist namun yang terjadi direalita ia menjadi antagonis. Ini sungguh berbalikan dari tujuan semula dan tentu saja akan mengubah bahkan merusak cerita yang dicita-citakan bersama. Seperti itulah pula seorang muslim. Ia berperan sebagai orang yang mengemban amanah dari Allah untuk menjadi khalifah (pejalan) dimuka bumi ini.

Banyaknya orang islam tidak membawa perubahan apa-apa terhadap dunia beberapa decade belakangan ini. Sebagian besar orang umat ini sibuk dengan urusan mereka masing-masing, malas untuk berkontribusi terhadap islam apalagi ke dakwah. baginya “ah… itu urusan ulama saja, bukan urusanku! Who’s Care!” begitu katanya. Bahkan yang terjadi ia taqlid (buta) dengan budaya nashoro dan yahudi la’natullah ‘alaih. ia seakan-akan seperti golongan mereka. Ia berpakaian seperti mereka, ia berstyle seperti mereka, dan ia berkelakuan seperti mereka, serta jangan-jangan pemikirannya sama dengan mereka.

Rasulullah Saw bersabda;

“Kalian (Muslimin) akan diperebutkan oleh umat-umat lain seperti orang-orang yang siap memakan hidangan yang ada dihadapannya.” Kami (para sahabat) bertanya.” Apakah karena jumlah kita yang sedikit pada saat itu, wahai Rasulullah?” Nabi menjawab, “Tidak, bahkan jumlah kalian banyak. Namun seperti buih di air bah, sungguh Allah mencabut rasa takut dihati musuh-musumnu dan sungguh Allah akan memasukkan penyakit al wahn dalam hatimu.” Kami bertanya, “ Apa itu al wahn ya Rasulullah?” Nabi menjawab, “ Cinta dunia dan takut mati.”

Ibarat buih yang tak berguna itulah yang digambarkan oleh Rasul melalui hadistnya. Sungguh aku merasa tergerak untuk kebangkitan izzah kembali. Aku tidak mau islam dicampakkan dalam peradaban dunia. Sungguh ngeri ketika itu terjadi. Aku berharap disetiap hembusan nafasku adalah dakwah, ditiap langkah kakiku adalah dakwah, dan ditiap aktivitas hidupku adalah dakwah. dan ini dilakukan hanyalah untuk mencari ridha Allah dan agar izzah islam kembali dengan ikutnya aku sebagai penyokong bangunan izzah tersebut. Bagaimana dengan kamu?

Sebenarnya kalau kita telaah lagi begitu banyak umat islam yang melakukan shalat, puasa, zakat, dan haji. Dan pada saat musim hajipun bisa kita lihat begitu banyak orang di masjidil haram. Tetapi esensi kita apa?

“umat ini hanya bergembira pada eksistensinya dan tak peduli akan esensi dari keberadaannya” (Aldo Al Fakhr)

Sudah barang tentu kita tidak akan diperhitungkan lagi oleh para musuh-musuh islam. Ya iyalah.. ga ada esensinya atau ga ada taringnya. Gampang untuk dimangsa. Dan benarlah sabda Rasulullah diatas bahwa. Musuh-musuh islam itu tidak lagi takut kepada umat muslim bahkan meremehkan bahkan menghinakan.

Tahukah kita, orang bermental buih yang disebutkan oleh Rasulullah dalam sabdanya diatas adalah muslim yang terjangkit penyakit al wahn, cinta dunia dan takut mati. Dunia menjadi indah dipandangannya, ia tidak mengetahui hakikat keindahan dunia sebenarnya. Padahal keindahan dunia itu hanyalah tetesan celupan tangan di samudera yang luas. Bisa dikatakan 0,00000…..1 persennya dari keindahan dunia. Allahu Akbar. Banyak dari mereka pula yang menuhankan dunia. Hanya mengejar dunia, baginya akhirat hanya sebagai tempat pemberhentian kehidupan untuk selama-lamanya, ia tidak mengetahui hidupnya didunia ini akan dipertanggungjawabkan kepada sang Maha Hidup dan Maha Tahu segala sesuatu.

Nggak usah jauh-jauhlah. Coba aja kita lihat dipasar-pasar, supermarket, taman wisata, dan tempat lainnya. Ketika adzan berkumandang, apa yang mereka lakukan! Dapat ditebak, kebanyakan dari mereka masih sibuk dengan perniagaannya, melobi, menawarkan harga kepada konsumen, melenggak lengggok tak karuan di mall, ngeceng, lihat yang tak semestinya, ngangguin orang, sibuk memilah-milih barang di toko, sibuk dengan canda tawa dengan keluarga di taman wisata, dengan tawa yang terbahak-bahak padahal itu sedang adzan, dan dari kebanyakan orang tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa ia belum mengetahu hakikat dirinya mengapa ia diciptakan dihidupkan didunia ini.

Sungguh luar biasa ketika kita melihat zaman kenabian dulu, jumlah mereka yang minoritas justru menjadi kekuatan yang luar biasa. Tidaklah penting seberapa banyak dan seberapa dikitnya umat islam saat itu dan saat ini, tapi yang terpenting adalah jiwa-jiwa yang tertabiyah itulah yang menjadi penting. Sungguh kekuatan ruhiyah akan mengalahkan kekuatan jasadiah.  Mereka dulu bisa bertahan bahkan berekspansi karena mereka tahu betul hakikat hidupnya, tahu amanah yang sedang diembannya, dan tahu konsekuensi ketika melakukan sesuatu perbuatan, sehingga yang ada adalah optimalisasi amal yang menjadi prioritas bukanlah intensitas.

Oleh karena itu, janganlah menjadi muslim bermental buih yang taqlid tidak melakukan improvisasi. Sungguhlah merugi orang-orang yang demikian.

Azzamkanlah dalam diri dengan pernyataan berikut:

Jikalau ada 1000 orang yang berjihad dijalan Allah, maka saksikanlah salah satunya adalah Aku

Jikalau ada 100 orang yang berjihad dijalan Allah, maka saksikanlah salah satunya adalah Aku

Jikalau ada 10 orang yang berjihad dijalan Allah, maka saksikanlah salah satunya adalah Aku

Jikalau ada 1 orang yang berjihad dijalan Allah, maka saksikanlah itu adalah Aku

Jikalau tak ada lagi orang yang berjihad dijalan Allah, maka saksikanlah bahwasanya aku telah syahid dijalan-Nya.

Sungguh ketika kita berazzam demikian, insya Allah kita bukanlah termasuk orang-orang yang bermental buih.

Sebelum mengakhiri tulisan ini, ada Taujih Robbani terlebih dahulu

“Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang, laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.” (QS. An-Nur: 36-37)

Wallauhu’alam

Bandung 9 januari 2010

Aldo Al Fakhr

Blogger Pencari Spirit yang Hilang


Untuk Sebuah Cita-cita

Untuk Sebuah Cita-cita

Cita-cita adalah sebuah pengharapan yang ingin dicapai pada suatu periode waktu tertentu. Banyak sekali yang berujar kata cita-cita tersebut. Sewaktu kita masih kecil pun lebih tepatnya balita, kita sering ditanya oleh bapak, ibu, sanak kerabat, dan para tetangga yang “gemes” dengan tingkah laku kita. “Apa cita-cita mu Nak?” begitulah yang sering ditanyakan. Dan si anak tersebut spontan menjawab apa yang sudah didengar sebelumnya dari orang lain. Jikalau sebelum ditanya orang lain tersebut sudah ada yang memberikan statemen bahwa Nak, kamu harus jadi dokter atau pilot atau pun lainnya. Spontan saja si anak tersebut berujar demikian, “A..ku i..ngin me…njadi doktelll” dengan senangnya ia mengucapkannya. Sesungguhnya ia belum mengetahui apa itu profesi dokter dengan sebenarnya.

Beda dengan kita yang sudah dewasa hari ini, kita bukan anak kecil lagi yang dengan sekonyong-konyongya menyebutkan cita-citanya tanpa landasan. Kita harus bisa reaktif terhadap diri sendiri, kita harus bisa mengetahui potensi kita apa tentu saja dengan mengukur potensi tersebut. Tak dapat dipungkiri memang terkadang, cita-cita yang diujarkan jauh banget dari realita atau kata kasarnya “ tidak realistis”. Disinilah peran kita sebagai pribadi yang tentunya mengenal profil pribadi kita sendiri bisa memetakan potensi diri jangan sampai megaloman yang terjadi (apa itu megaloman, baca tulisan saya yang berjudul Megalomania, ada di blog ini juga, cari ya… biar makin mantep)

Untuk sebuah cita-cita yang telah diujarkan atau diazzamkan dalam diri, maka harus ada pencapaian yang harus dibuat, perharinya apa, perminggunya apa, permbulannya apa, dan selanjutnya. Setelah itu, buat catatan kenapa target ini harus hari ini, bulan ini, tahun ini. Jikalau dibuat seperti itu insya Allah cita-cita yang diharapkan cukan suatu hal yang sia-sia untuk diimpikan melainkan akan menjadi suatu keniscayaan, dan ketika telah mencapai bahkan melampaui target tersebut ucapkan rasa syukur yang mendalam kepada sang pemberi Kemudahan. Berhasil atau tidaknya kembalikan kepada Allah

Faidza azzamta, fatawakkal ‘allallah

Ketika kita sudah berazam maka bertawakallah kepada Allah. Itu merupakan cara pengabdian dan penyerahan diri kita kepada Allah.

Ngomong-ngomong masalah cita-cita, Alhamdulillah saya sudah memiliki cita-cita dan insya Allah realistis, saya ingin memiliki suatu perusahaan dan saya sebagai direkturnya, dan Alhamdulillah juga sudah dirumuskan targetan dan cara mendapatkan target tersebut. Do’akan ya fren! Aku bisa merealisasikannya menjadi kenyataan.

Optimis dan percaya diri itu perlu dalam pencapaian cita-cita. Karena dengan optimis maka segala tantangan akan mudah tuk hadapi, tidak terbesit pun dalam fikiran untuk mundur dari perang melawan tantangan tersebut.

“Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah batang ‘leher mereka. Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berakhir. Demikianlah apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka tetapi Allah hendak menguji sebahagian kamu dengan sebahagian yang lain. Dan orang-orang yang syahid pada jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka.” (QS. Muhammad: 4)

“Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (sisat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahannam. Dan amat buruklah tempat kembalinya.” (Al-Anfal: 16)

Oleh karena itu, jangan pernah mundur untuk menghadapi rintangan, hadapai dan tendang.

Ujarkan dalam diri, “Innallah Ma’anna” Allah bersamaku.

Wallahu’alam

Bandung, 10 Januari 2010

Aldo Al Fakhr

Blogger Pencari Spirit yang Hilang


Curhat Hari Ini

Tulisan dibawah ini adalah curhatan hati sekaligus apa yang terpikir begitu saja dipikiran ini. Tulisan ini dibuat sekitar jam 22.30-23.30, sehingga banyak yang dipikirkan terkadang tak karuan perginya kemana, tapi disini aku meyakinkan diri bahwasanya tulisan ini dipandu oleh Allah Swt jikalau berisi kebenaran. Insya Allah.

_————————||||||————————_

) | (

Hari ini begitu melelahkan. Seharian full energy dilimpahkan. Tapi apakah benar demikian. Jika bisa ditelaah dalam sehari ini, masih banyak waktu yang digunakan untuk emikirkan hal-hal yang tidak penting bahkan yang haram untuk dipikirkan, masih banyak waktu yang digunakan untuk bersantai-santai sambil mendengarkan music. Terbawa dengan lantunan musik yang merdu padahal sering menipu. Lirik yang mengajak kepada kesesatan. Lirik yang mengajak kepada prilaku syirik. Bergantung kepada makhluq bukan kepada Allah. Padahal dalam sehari minimal 17 kali dibaca perjanjian dengan Allah bahwasanya, “iyya kana’budu wa iya kanas ta’in” hanya pada-Mulah kami menyembah dan hanya pada-Mu lah kami meminta pertolongan. Sungguh jelas ada perjanjian disini. Kita bersandar hanya kepada Allah saja. Tapi kenapa diri ini sering tak sadar akan perjanjian yang telah dibuat ini, mungkin memang tak mengerti bahasa arab, atau mungkin tak pernah mentadaburrinya, atau mungkin bahkan tak pernah menganggapnya sebagai janji. Sungguh diri ini keterlaluan dan lancang. Tak selayaknyalah diri ini begitu. Sejatinya memang seperti itu tak boleh lancang.

Banyak persoalan yang menyapa tak mendapat sapaan. Padahal itu urgent untuk dilaksanakan. Bahkan dengan enaknya dan sekonyong-konyong menyepelekannya dihadapan muka sendiri. Bersikap acuh tak acuh. Tunggulah nanti akibat yang akan didapat. Pastilah ada sebab dan ada akibat, semua tak terlepas begitu saja, pastilah intervensi antar keduanya. Makanya harus waspada dengan apa yang akan dilakukan, pikirkan sebelum berbuat, apakah ini bermanfaat buatku ataukah hanya membuang waktuku. Haruslah selektif dalam hal waktu. Sebenarnya banyak kerja-kerja besar yang harus diselesaikan. Tapi apalah daya diri ini, kerja kecil saja tak mampu tuk dilakukan dengan baik dan optimal, sebagai akibat dari itu semua, diri ini jauh dari akan menjadi orang yang besar. Sungguh ironis, sungguh diri ini mengingini posisi tersebut menjadi orang besar (baca: mulia) dihadapan Allah.

Kelalaian yang dilakukan terkadang dibuat-buat atau direkayasa seperti sedang melakukan aktivitas yang berguna. Tahukah engkau yang bisa membaca, sungguh telah mendzalami yang harus dikerjakan tersebut. Karena diabaikan, hati mana yang tak sedih dan murung pabila diabaikan atau dicuekkan. Bête rasanya. Cobalah berkaca pada diri sendiri, seandainya ketika diri ini sedang berkhutbah atau berbicara dengan orang banyak, yang terjadi orang-orang tersebut tidak mendengarkan, ada yang mencat-mencet Hp, ada yang bisik-bisikkan dengan teman sebelahnya, ada yang garuk-garuk kegatalan, ada yang usilin teman disekelilingnya, bahkan ada yang tidur karena khutbah atau bicaraanmu. Apa yang diri ini rasakan, pastilah jengkel dan ingin rasanya keluar dari tempat itu dan maunya menggerutu tak jelas juntrungannya. Sungguh luar biasa ketika diri ini bisa bersabar atas tindakan saudaranya yang seperti itu, ia justru memandang kepada dirinya sendiri. Sungguh sejatinya semangat yang menggelora mendengarkan dari seorang pendengar berkorelasi positif terhadap semangat yang menggelora penyampaian dari seorang penyampai risalah. Seperti itulah, ia langsung mengkoreksi dirinya, jangan-jangan semangat menyampaikan dalam diri ini masih kurang. Langsung memperbaiki diri dengan engoptimalkan potensi. Tiada ingin sejejak pun potensi itu hilang dari pencarian. Harus ketemu, karena kalau jejak itu hilang maka tersesat adalah suatu keniscayaan.

Semangat belajar sepertinya harus dikembangkan, jangan malas-malasan dan nggak mau membaca apalagi menulis. Apa jadinya suatu bangsa yang mana penduduknya malas membaca atau dengan kata lain malas menuntut ilmu. Bisa dipastikan negar itu selamanya akan menjadi pengekor si diktatoris, aggressor, dan predator itu. Apa yang diucapkan si predator itu dimakan mentah-mentah, bagaimana pula mau dicerna, ilmu untuk mengunyah tak punya. Sungguh kecelakaan dan kerugian yang akan diderita. Didunia sengsara apalagi diakhirat menjadi hina. Na’udzubillah. Jadilah seorang pembelajar, tak ada kata berhenti untuk belajar dan menuntut ilmu, apalagi dunia mencari ilmu sungguh terbentang luas bahkan gratis dan tidak usah berpergian jauh-jauh dari kursi, tinggal connect internet, selesai, ilmu-ilmu banyak bertebaran disana. Tinggal dipilah-pilih saja yang mana yang baik, karena tidak semuanya yang di internet itu baik untuk dikonsumsi. Permasalahan yang terpenting dalam masalah ini adalah apakah kita mau memanfaatkannya untuk bahan peningkatan diri? Kalau saja itu hanya dijadikan sebuah angan-angan lebih baik kamu mengkafani diri, ambil cangkul, gali tanah dalam-dalam, lalu kuburlah dirimu. Timbun dirimu, karena dengan diri sendiri saja tidak peduli, tak peduli untuk peningkatan diri, tak peduli dengan amal diri, tak peduli dengan keluarga, dan bahkan tak peduli dengan lingkungannya sendiri, boro-boro ikut memedulikan dakwah dan berkontribusi dengan dakwah adalah suatu ketidakmungkinan. Ia hidup tapi tidak bergerak, jika ia bergerak tak memberi pengaruh apa-apa. Itulah yang namanya mati jiwa. Pabila jiwa telah mati maka akan merambat ke potensi-potensi lainnya, sehingga yang seharusnya suatu potensi bisa mucul kepermukaan peradaban namun karena kematian jiwa mengakibatkan tidak terlibatkanlah potensi tersebut. Saying-sayang seribu saying kita ucapkan kepada orang tersebut. Eits.. jangan-jangan diri yang menulis dan membaca termasuk orang yang seperti itu juga. Hati-hati. Ambil cermin dan lihat diri ini sendiri. Apa yang sudah diperbuat dengan potensi-potensi yang telah diberikan, apakah sudah dimanfaatkan dengan baik, ataukah ada penyombongan dan pengangkuhan diri didalam sikap tersebut. Jawab dengan jujur. Bisa jadi “iya” kan jawabannya. Mungkin memang benar “iya”

Apa yang ingin dilakukan terkadang susah untuk dilakukan dan terkadang terkesan merasa tak akan bisa melakukan sesuatu perbuatan tersbt, padahal telah mengetahui bahwasanya perbuatan  yang akan dilakoni tersebut merupakan ganjaran yang luar biasa. Mungkin ingin membela diri dengan mengatakan bahwa “ saya belum memiliki ilmu akan hal itu” ia berdalih dengan dasar ilmu diatas amal. Memang benarlah kata demikian, apakah tidak terlihat proses learning by doing disana, artinya sambil belajar sambil dikerjakan juga, sehingga disorientasi teori dan praktek tidak pernah terjadi jikalau mengamalkan learning by doing ini.  Artinya kita belajar teori sedikit langsung dipraktekkan, sedikit demi sedikit. Seperti pepatah sedikit demi sedikit lama kelamaan menjadi bukit. Kata kelama-lamaan ini mengindikasikan bahwa proses pembelajaran terhadap seuatu itu menjadi tantangan tersendiri hingga ajal menjemput kelak. Walaulah ketika ajal menjemput belum selesai proses pembelajaran tersebut, namun bisa dilihat kita sudah sedikit lebih maju ketimbang kita tak pernah mengambil keputusan untuk aksi. Berani mengambil keputusan adalah sesuatu yang sangat susah, karena akan banyak faktor yang memengaruhi, biasanya faktor yang sering dominan menghiasi adalah faktor analisa dan faktor perasaan. Oleh karena itu, analisa ini juga membutuhkan ilmu, dan perasaan harus dikelola dengan baik. Kalau bahasa anis matta “seni jiwa”. Yah… seni jiwa, kita dan Allah lah yang mengetahui isi hati kita, sejatinya kita tidak bisa berbohong dengan diri sendiri dan pastinya dengan Allah terhadap apa yang ada dalam hati kita. Sehingga “apa nih yang harus dilakukan agar perasaan ini siap mengambil keputusan?” jawabannya adalah dekat kepada sang pemberi jiwa yaitu Allah Swt.tak lain dan tak bukan, mintalah kepada Dia saja.

Dalam hidup ini memanglah banyak rintangan yang akan menghadang, tapi bagaiman rintangan dan tantangan yang ada bisa ditendang dengan sekali tendangan saja. Permasalahannya terletak pada sekuat apa tendangan tersebut. Jikalau lah kuat maka dengan sekali tendangan bisa mental dan tak kembali lagi, namun yang terjadi bila lemah maka yang akan terjadi memang juga akan mental tapi akan kembali lagi, kembali lagi, dan kembali lagi, tak bosan-bosannya menganggu dengan masalah yang sama. Seperti itulah yang sering terjadi. Banyak dari manusia yang diuji dengan satu kesulitan saja, dan ia tidak bisa menyelesaikannya, oleh karenanya ia tidak pernah lulus dengan ujian tersebut sehingga ujian kehidupannya yah.. itu itu saja, bagaimanalah mau naik tingkat sedangkan tingkat dibawah sja belum bisa dilalui. Yah.. sama kasusnya seperti kalau kita sekolah, setiap kita akan diuji di UN diakhir-akhir studi, ketika kita bisa lulus maka kita bisa ke jenjang pendidikan berikutnya, namun justru bila kita tidak lulus maka kita akan diuji dengan UN it uterus sampai kita naik/lulus. Saya ngerti bahwa anda paham yang saya maksud. Karena saya husnudzon dengan anda bahwa anda yang membaca tulisan hingga kebagian ini adalah orang-orang yang cerdas mencari manfaat. Bagi anda yang sampai baca kesini, saya do’akan agar dimudahkan hidupnya didunia dan diakhirat “ ya Allah mudahkanlah saudaraku yang sedang baca ini dengan limpahan rahmat di dunia dan di akhirat.”

Oke… jangan mudah putus asa karena menyerah bukanlah tindakan para pejuang. Ia adalah tindakan para pecundang yang tak berani melawan masalah dengan ilmu dan tsabat (ketguhan) serta kesabaran.

NEVER GIVE UP my Friends! I believe you can do what you want!

Saya ucapkan terima kasih, Jazakumullah Khairan Katsira… kepada Anda karena telah bersedia mendengarkan curhatan hati dan penggalan-penggalan kata dari pemikiran orang seperti saya.

Barakallahu fik…

Jam 23.39 WIB

Bandung, 09 Januari 2010

Aldo Al Fakhr

Blogger Pencari Spirit yang Hilang


Potensi Seorang Insan Bernama Manusia

Potensi Seorang Insan Bernama Manusia

“sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS. At-Tin:4)

Begitu luar biasanya seorang manusia yang diberikan bentuk dan potensi yang sebaik-baiknya. Lebih baik ketimbang makhluq Allah lainnya. Sudah sepatutnyalah bagi kita insan bernama manusia mensyukuri atas apa yang dikaruniakan Allah kepada kita. Jangan sekali-kali kita dustai dan kufuri. Karena adzab Allah pedih bagi orang-orang yang tak mau bersyukur.

Generally, manusia itu memiliki 3 potensi dasar dalam dirinya dan tiap-tiap manusia memiliki akan hal itu. Dan potensi ini merupakan potensi penting bagi keberlangsungan hidupnya.

Pertama, potensi fisik. Kita akan menjadi manusia yang memiliki karya yang produktif dan mobilitas yang tinggi manakala kita mampu memanagemen potensi fisik kita dengan baik dan teratur.

Rasulullah Saw bersabda

Al mu’minuun Qowiyyun khoirun wa ahabbu illah minal mu’minin dho’ifa. Mu’min yang kuat lebih dicintai ketimbang mu’min yang lemah.”

Cobalah kita tengok qudwah kita nabi Muhammad yang hingga usia 63 tahun masih memiliki postur badan yang atletis dan bugar. Dan menurut riwayat bahwa Beliau memulai peperangan ketika usianya 53 Tahun. Tahukah sahabat? Ternyata Rasulullah memakai baju besi sebanyak 2 lapis dan tentu 1 lapis saja sudah berat. Dan perjalanan menuju medan perang pun juga tak kalah jauhnya berkilo-kilo meter. Sungguh luar biasa, itu mengindikasikan bahwa fisik Beliau sangat-sangat prima. Bagaimana dengan kita?

Inti yang ingin disampaikan dalam tulisan ini adalah bahwa tidak selamanya fisik yang baik membawa seseorang kepada kemuliaan dihadapan Allah selayaknya Rasulullah Saw. Justru yang sering terjadi adalah banyak manusia yang memiliki badan tegap, berotot, kekar, macho, seksi, langsing, gitar spanyol, putihm dan lain-lain menjadikannya hina akan keindahan fisiknya tersebut. Adakalanya seorang wanita yang berpenampilan seolah-olah sempurna tidaklah juga identik dengan kemuliaannya. Bahkan menjadikannya hina karena kegemarannya yang sering mempertontonkan tubuhnya ke khalayak banyak tanpa rasa malu dan takut sedikitpun. Seperti bintang iklan sampo, sabun mandi, cream pelembab dan penghalus kulit dan artis-artis bermental mesum. Baginya ini adalah bentuk pengeksistensian diri. Wajar saja ketika UU Pornografi dan Pornoaksi di sahkan oleh DPR beberapa tahun yang lalu, dia adalah orang yang pertama kali kontra akan UU tersebut. Astaghfirullah.

Dan tak sedikit pula yang stress dengan fisiknya. Bagaimana tidak. Ia harus menjaga keseimbangan kecantikan tubuhnya dan harus menjalankan program-program diet sehingga selera makan terbatasi, hidup terasa sempit, dan terkesan pemaksaan dan pendzaliman diri.

Tapi, intinya adalah potensi fisik haruslah ditempatkan sesuai dengan kepentingan syar’I bukan untuk duniawi. Dan potensi fisik ternyata tidak identik dengan kemuliaan seseorang.

Kedua, Potensi akal. Akal adalah potensi yang begitu istimewa. Dan akal ini hanya terdapat pada seorang makhluq saja, yaitu insan bernama manusia. Itulah yang membedakan antara manusia dengan binatang, tumbuhan, setan, jin, dan malaikat sekalipun. Akal yang diberikan oleh Allah untuk kita seharusnya dimanfaatkan dengan baik dengan memikirkan ayat-ayat kauliyah (tersurat) dan ayat-ayat kauniyah (tersirat). Sehingga tercipta suatu letupan-letupan karya karenanya. Tapi realita yang terjadi tak seindah tujuan awal. Banyak dari manusia menggunakan akalnya untuk mencuri, membunuh, bersilat lidah di pengadilan, memikirkan cara-cara untuk menyingkirkan seorang yang dianggap musuhnya. Dalam benaknya hanya kejahatan, kedengkian, dan keirian terus-menerus. Sehingga menyebabkan orang seperti ini dikatakan sebagai orang yang kerdil. Sungguh pabila akal digunakan dengan baik pada tiap-tiap manusia rasa sakinah akan memayungi bumi dari kerusakannya.

Sebenarnya banyak orang pintar dan cerdas didunia ini, jangankan didunia, diindonesia saja bertaburan orang-orang pintar. Mereka lulus dengan predikat cumlaud juga banyak. Pemenang-pemenang olimpiade sains dan matematika bertaburan di Indonesia. Tapi kenapa negeri justru terpuruk akan moralnya. Korupsi merajalela diberbagai sektor. Korupsi yang dilakukan pun tidak tanggung-tanggung berkisar ratusan juta hingga triliunan rupiah. Kalau kita bisa telaah tidak mungkinlah orang bodoh melakukan itu. Kalau menurut saya orang bodoh palingan bermain dikisaran jutaan rupiah saja. Pastilah ia orang yang pintar mencari alasan atau pintar melobi pihak ketiga dan pintar mengkalkulasi kecurangan, dan lain sebagainya. Dan pula seorang anak yang pintar justru berani melawan orang tuanya yang secara pendidikan jauh dibawahnya. Ia berani menipu orang tuanya dengan alasan untuk duit kursus namun digunakan untuk hura-hura bersama teman-temannya. Na’udzubillah.

Sehingga semakin jelaslah akal yang pintar dan cerdas tidak identik dengan kemuliaan seseorang.

Dari kedua potensi yang disebutkan diatas yaitu potensi fisik dan potensi akal tidak identik dengan kemuliaan seseorang. Tak berlaku hokum, semakin bagus fisik seseorang dan semakin pintar seseorang maka mendapatkan kemuliaan. Dan sebaliknya. Tak akan berlaku hokum seperti itu. Walaupun didunia ia merasa angkuh, merasa paling besar, merasa hebat, merasa kuat, tapi tidak nanti ketika diakhirat. Dan perlu diingat juga bahwa fisik itu lama-kelamaan akan kendor, keriput,tak tampak bagus lagi dilihat. Begitu juga akal yang pintar akan hilang dengan semakin menuanya seseorang, kualitas berfikirnya lama-kelamaan akan terkikis. Seperti itulah. Janganlah bersandar kepada kedua potensi tersebut kecuali digunakan dengan syar’I  sesuai tuntunan al-Qur’an dan as Sunnah.

Terus.. potensi yang terakhir adalah potensi yang semua manusia memilikinya dan mampu untuk diarahkan. Tergantung dari manusia itu sendiri. Pabila ia baik maka seluruh anggota tubuhnya dan amalnya akan baik dan pabila ia buruk maka keburukan pula yang akan terjadi. Potensi tersebut adalah qalbu (hati).

Aa Gym mengatakan bahwa ada 3 kategori hati

  1. Qalbu Maridh (Hati yang sakit)

Ciri-ciri orang memiliki hati yang sakit, tak ubahnya seperti gelam kusam yang berisikan air keruh. Jangankan sebutir debu yang mencemarinya, paku payung, jaru, silet atau patahan cutter sekalipun yang masuk, tidak akan terlihat.

Orang yang menderita qalbun maridh akan sulit menilai secara jujur apa pun yang Nampak didepannya. Ia terkena virus megaloman.

Intinya adalah dalam qalbun maridh ini terdapat dua sisi yang beriringan. Sisi kecintaan kepada Allah dan keimanan dan juga sisi rasa cinta terhadap hawa nafsu, mementingkan kehidupan dunia, ketamakan terhadap kesenangan.

  1. Qalbu Mayyit (Hati yang mati)

Hati yang mati tak ubahnya seperti jasad yang mati. Kendati dicubit, dipukul, digorok, di tusuk, tidak akan terasa karena sudah mati. Ciri utama hati mati ini adalah penolakan kebenaran dan ayat-ayat Allah serta berlaku dzalim terhadap diri sendiri dan lingkungan disekitarnya.

“Dan siapakah yang lebih zalim dari pada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya lalu dia berpaling dari padanya dan melupakan apa yang telah dikerjakan oleh kedua tangannya? Sesungguhnya Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka, (sehingga mereka tidak) memahaminya, dan (Kami letakkan pula) sumbatan di telinga mereka; dan kendatipun kamu menyeru mereka kepada petunjuk, niscaya mereka tidak akan mendapat petunjuk selama-lamanya.” (QS. Al-Kahfi: 57)

“Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.” (QS. Al-Baqarah: 7)

Oleh karena itu orang yang memiliki hati seperti ini tidak mengenal Tuhan dan hakikat dari ma’rifatullah. Karena hawa nafsu sudah menjadi masinisnya, ia hanya duduk digerbong VIP yang mewah tanpa memperdulikan dibawa kemana oleh si masinis tersebut.

  1. Qalbu Shahih (Hati yang sehat)

Hati yang sehat sama halnya dengan tubuh dan akal yang sehat. Ia akan berfungsi dengan optimal tanpa ada gangguan yang berarti. Diantara cirri orang yang hatinya sehat adalah hidupnya diselimuti mahabbah dan tawakkal kepada Allah. Dengan begitu, ia tidak akan berlebihan dalam mencintai makhluq. Ia bisa menempatkan cinta pada porsinya. Dan ia bersikap adil terhadap cintanya. Dan begitu pula ketika ia membeci sesuatu ia berlandaskan pada kebencian sesuatu tersebut karena Allah.

Hati yang semakin bersih hidup akan selalu diselimuti rasa syukur terhadap semua kondisi. Walaupun bertubi-tubi bencana, musibah, dan rintangan menghadang dirinya, ia tetap tsabat (teguh) akan prinsipnya dijalan Allah. Tak sedikitpun keinginan untuk jauh dari jalan tersebut.

Teringat dengan nasyid “Jagalah Hati” yang populer beberapa tahun yang lalu.

Bila hati kian bersih, pikiran pun akan jernih, semangat hidup nan gigih, prestasi mudah diraih, tapi bila hati busuk, pikiran jahat merasuk, akhlaq kian terpuruk, jadi makhluq terkutuk. Bila hati kian lapang, hidup susah tetap senang, walau kesulitan menghadang, dihadapi dengan tenang, tapi bila hati sempit, segalanya jadi rumit, seakan hidup terimpit, lahir batin terasa sakit.

Sungguh luar biasa ketika hati bersih kan! Semuanya jadi enak dan lapang, sakinah terasa dekat, rahmah berlimpah didapat, rezeki insya Allah datang tanpa terduga-duga.

Ingat, potensi dalam diri ini adalah amanah yang harus dijaga dan dikembang biakkan menjadi sesuatu yang bermanfaat. Pintalah kepada Allah. Dialah yang telah memberikan potensi itu. Pintalah agar potensi-potensi itu dapat dioptimalkan dengan semaksimal mungkin agar tak menyesal didunia dan tentu saja diakhirat.

Wallahu’alam

Bandung 7 dan 8 Januari 2010

Aldo Al Fakhr

Blogger Pencari Spirit yang Hilang


Pemuda Berafiliasi Terhadap Dakwah Islamiyah

Pemuda Berafiliasi Terhadap Dakwah Islamiyah

Pabila bicara tentang seorang pemuda, maka yang tergambar begitu banyak rasa dan warna yang tercipta. Ada yang manis, asin, asem, kelet, merah, putih, hitam, hijau, biru, dan lain sebagainya. Dan tiap-tiap orang memiliki argument sendiri-sendiri terhadap opininya mengenai pemuda. Yah begitulah, sungguh masa istimewa dan produktif seorang insan adalah ketika ia berpenampilan dan berjiwa muda.

Dalam Al-Hadist, dikatakan bahwa “pergunakanlah masa mudamu sebelum masa tuamu” ini mengisyaratkan sebuah makna yang dalam bahwa masa muda tidak akan berulang kembali dan harus dimaksimalkan dengan searif dan semaksimal mungkin. Jangan sampai menyesal ketika telah tua. “Kenapa ya sewaktu muda dulu saya tidak begini begitu dan ber-ber lainnya?” pastilah penyesalan itu datang diakhir. Dan ironis lagi ketika penyesalan itu datang ketika sudah berada diperadilan Maha agung. “Ya Allah ku mohon dengan sangat, lindungi kami dari kesia-siaan usia!”

Bahkan ada seorang ustadz yang pernah mengatakan bahwa seorang pemuda itu tidak akan sakit kalau tidak tidur beberapa hari. Yang ada hanyalah kelelahan yang sesaat dan keesokan harinya siap mengemban amanah dengan sebaik-baiknya lagi. Luar biasa.

Allah Swt berfirman dalam QS. Al-Kahfi:13 mengenai pemuda:

“…Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk.”

Hasan al Banna menuliskan di majmu’atur rasail (Kumpulan risalah) dalam bab Ila asy Syabab (Kepada Para Pemuda)

“Wahai pemuda!

Sesungguhnya, sebuah pemikiran itu akan berhasil diwujudkan manakala kuat rasa keyakinan kepadanya, ikhlas dalam berjuang di jalannya, semakin bersemangat dalam merealisasikannya, dan kesiapan untuk beramal dan berkorban dalam mewujudkannya. Sepertinya keempat rukun ini, yakni iman, ikhlas, semangat, danaamal merupakan karekter yang melekat pada diri pemuda, karena sesungguhnya dasar keimanan itu adalah nurani yang menyala, dasar keikhlasan adalah hati yang bertaqwa, dasar semangat adalah perasaan yang menggelora, dan dasar amal adalah kemauan yang

kuat. Itu semua tidak terdapat kecuali pada diri para pemuda.”

Oleh karena itu, potensi dan karakteristik pemuda harus diarahkan kearah yang baik. Pabila ia dapat membawanya kedunia sekolah, kampus, profesi, masyarakat, siyasi, dan sebagainya maka kegemilangan islam akan menjadi suatu keniscayaan yang pasti. Karena motor penggeraknya ditopang oleh para pemuda tangguh dengan muwashofat yang luar biasa.

Hasan al Banna juga mengatakan:

“Beranjak dari sini, sesungguhnya banyak kewajiban kalian, besar tanggung jawab kalian, semakin berlipat hak-hak umat yang harus kalian tunaikan, dan semakin berat amanat yang terpikul di pundak kalian. Kalian harus berpikir panjang, banyak beramal, bijak dalam menentukan sikap, maju untuk menjadi penyelamat, dan hendaklah kalian mampu menunaikan hak-hak umat ini dengan sempurna.”

Dakwah Kampus

Dalam tulisan ini, hanya akan disinggung tentang dakwah didunia kampus. Karena penulis merupakan seorang mahasiswa. Dan tentu saja mahasiswa adalah juga seorang pemuda yang biasanya memiliki alur pemikiran dan idealisme yang lebih ketimbang pemuda-pemuda lainnya. Ia cepat tanggap terhadap isu-isu disekitarnya, lebih memiliki jiwa perubahan dan pembaharu didalam dirinya ketimbang pemuda-pemuda lainnya!

Dalam buku RMDK (Risalah Managemen Dakwah Kampus) pada bab pendahuluan dituliskan bahwa:

Dakwah kampus merupakan sebuah tahapan dakwah terpenting dalam dakwah pelajar. Dakwah kampus memiliki kekhas-an tersendiri dalam pergerakannya dan memiliki kesempatan untuk berkontribusi lebih terhadap masa depan suatu bangsa,karena mahasiswa merupakan cadangan masa depan. Ketika dakwah kampus bisa memasok alumni yang berafiliasi terhadap Islam, maka perbaikan umat di masa datang menjadi sebuah niscaya.

Adalah sebuah kemestian dalam beramal harus memiliki ilmu dan pemahaman yang komprehensif terhadap yang tsawabit dan mampu berijtihad (mempebarui) berlandaskan al Qur’an dan as Sunnah. Sungguh kekosongan yang terjadi pabila seorang berfikir tanpa ilmu, berkata tanpa ilmu, beramal tanpa ilmu. Oleh karena itu, dahulukan ilmu atas amal. Itulah pesan yang sering kita dengar dari ulama-ulama dan para ustadz-ustadz dalam kajian-kajiannya. Yakinlah, semangat dan kemauan akan kuat terasa jika pemahaman telah kuat dalam diri, teguh dalam menjalankannya, dan berani untuk memberikannya kepada yang belum mengetahui. Oleh karena itu bagi seorang Aktivis Dakwah Kampus atau sering disingkat ADK memahami karakteristik dakwah itu sendiri pada umumnya dan karakteristik dakwah kampus itu sendiri secara khususnya. Dan harus berpegangan pada pedoman dan aholah yang ada.

Makna Dakwah (Singkat saja)

“Jadilah di antara kamu sebaik-sebaik umat yang mengajak kepada kebaikan,menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali-Imran : 104)

Dakwah secara etimologis (bahasa) berarti jeritan, seruan, atau permohonan. Ketika seseorang mengatakan da’autu fulaanan, itu berarti berteriak atau memanggilnya. Adapun menurut syara’ (istilah), dakwah memiliki

beberapa definisi. Di sini akan disebutkan sebagian dari definisi tersebut.

Menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, dakwah adalah mengajak seseorang agar beriman kepada Allah dan kepada apa yang dibawa Rasul-Nya dengan membenarkan apa yang mereka beritakan dan mengikuti apa yang mereka perintahkan.

Sementara itu, Fathi Yakan mengatakan, “Dakwah adalah penghancuran jahiliyah dengan segala bentuknya, baik jahiliyah pola pikir, moral, maupun jahiliyah perundang-undangan dan hukum. Setelah itu pembinaan masyaraka Islam dengan landasan pijak keislaman, baik dalam wujud kandungannya, dalam bentuk dan isinya, dalam perundang-undangan dan cara hidup, maupun dalam segi persepsi keyakinan terhadap alam, manusia dan kehidupan.

Sungguh banyak referensi yang dapat kamu baca untuk mengenal karakteristik dakwah dan dakwah kampus. Seperti RMDK salah satunya yang konsen terhadap pembahasan dakwah kampus.

Begitulah.. pabila seorang pemuda telah berafiliasi terhadap dakwah islamiyah maka tunggulah beberapa saat lagi  izzatul islam akan bersemi kembali dan menduduki singgasananya yang telah lama vakum (Demisioner – Masa-masa kekosongan kekuasaan)

Allahu Akbar

Wallahu’alam

Bandung, 06 January 2010

Aldo Al Fakhr

Blogger Pencari Spirit yang Hilang


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 38 pengikut lainnya.