Coretan-Coretan yang Tergores Ditubuh Sejarah

Archive for Oktober, 2009

Megalomanania

Megalomanania

Seharusnya sebagai seorang manusia kita diwajibkan untuk mengenal diri kita sendiri, sungguh jikalau kita mengenal diri sendiri maka kita pun akan mengenal siapa Tuhan kita.

Mengetahui kadar diri atau potensi diri dan kelemahan diri merupakan sebuah keharusan supaya bisa memetakan arah tujuan dan karir. Tujuannya biar tak salah langkah dalam melangkah, tak salah fikir dalam berfikir, tak salah kata dalam berkata, dan lain-lain. Karena setiap manusia tidaklah bisa menjadi segala hal, ia pastilah mempunyai spesialisasi pada bidang tertentu, permasalahannya adalah kebanyakan orang malas untuk mencari kadar diri atau spesialisasinya. Mereka yang hebat dalam karya-karya ilmiahnya dalam medan ilmu pengetahuan belum tentu bahkan tidak mungkin hebat dalam berperang di medan perperangan. Disinilah perlunya suatu keobjektifitan dalam menilai, tidak bisa dibesar-besarkan dan tikurang-kurangkan, kedua-duanya punya resiko dan jebakannya masing-masing.

Sikap membesar-besarkan diri dan merasa besar merupakan hal yang tidak baik, karena akan menyebabkan diri sombong, angkuh, merasa paling benar dan hebat, dan memandang karya-karya orang lain tidak setara bahkan lebih dari karyanya. Menurutnya “nih… karya saya yang paling baik dan monumental”.

“Suatu saat ketika kamu merebut kemenangan demi kemenangan, kekuasaan yang semakin bertumpuk. Musuh sudah kau taklukkan semua. Tak ada lagi yang berani melawan. Semua orang mulai tunduk padamu. Disekililingmu hanya ada para pemuja. Musuhmu menyelinap kedalam bentengmu. Kedalam dirimu sendiri. Halus. Sampai kau bahkan tak mengenalnya. Kau sudah mulai merasa benar.

Itulah awalnya. Kamu mulai merasa benar. Kamu sebenarnya layak merasa begitu. Sebab kemenangan-kemenanganmu. Pengakuan mush-mushmu. Kekaguman sahabat-sahabatmu. Kekuasaanmu yang terbentang luas. Kamu memang hebat. Dan besar. Itu fakta. Tapi itulah jebakannya .merasa besar itu.” (Anis Matta)

Seperti contihnya fir’aun yang merasa besar dan mengaku dan mengatakan kepada penduduknya bahwa aku adalah Tuhan. Sungguh ironis orang yang seperti itu. Tidak mengenal hakikat diri.

Disinilah dibuthkannya seni dalam menilai diri sendiri.

Menilai diri sendiri adalah sebuah seni diantara seni-seni jiwa yang lain, seni yang sangat sensitive akan keadaan dan pergolakan jiwa, mengapa? Karena seni ini membutuhkan reflektifitasi dan refleksisasi dari keadaan jiwa, maksudnya ketenangan jiwa. Sebab disinilah momentum atau jalan untuk menentukan kadar diri dan dimanakah jalan yang akan dilalui setelah ini.

Bagaimana memulainya?

Yang pertama yang harus dilakukan adalah dengan menenangkan pikiran dan jiwa dari amburadulnya kondisi diluar dan keramaian aktifitas. Setelah jiwa merasa aman dan tentram barulah lakukan pengamatan yang mendalam terhadap peta diri dan kadar diri, berikan statemen yang jujur dan kemukakan alas an –alsannya mengapa saya mempunyai kelebihan ini dan mengapa saya mempunyai kekurangan ini. Sudah….! Kalau sudah, temukan letak potensi yang ingin kita perdalami, semisal ingin jadi dokter, maka pabila kita sudah jujur ditahap awal bahwa aku mempunyai potensi menghafal dengan alsasn nilai biologiku disekolah selalu diatas rata-rata, nilai kimiaku jg begitu, aku sangat tertarik akan bidang itu, dukungan dari keluargaku dan lingkunganku. Atau ingin jadi penulis, maka mahar untuk  menjadi penulis apakah sudah terpenuhi, apakah suka membaca, dan menuliskannya , katakan dengan sejujurnya pada diri sendiri, kemukakan alasannya, aku setiap bulan menghabiskan 3-4 buku untuk dibaca, tiap bulan aku menulis 5-8 artikel, tiap hari aku menulis di diaryku, dan lain-lain sehingga statemen ingin menjadi penulis menjadi kuat dan tak tergantikan….

Sperti itulah… dan langkah selanjutnya adalah menentukan secara objektif karya dan perbuatan kita. Ini adalah langkah yang cukup sulit untuk dilalui seseorang yang memetakan dirinya. Setelah ia menjadi dokter, ia harus menilai apakah perbuatan-perbuatanya atau tindak tanduknya sebagai dokter sudah terbilang professional ketimbang teman-temannya yang lain ataukh bagaimana. Dan setelah ia jadi seorang penulis dan telah mencipkan karya tulisan berupa buku, ia harus menilai apakah karya tulisnya sudah layak menjadi best seller ataupun lainnya. Intinya adalah sikap kejujuran dan keadilan pada diri sendiri.

Jangan sampai seperti Khalid bin Walid yang dipecat oleh Umar karena ia membayar 1000 dirham kepada seorang penyair yang membesar-besarkannya karena kehebatannya dalam beperang dan bijaksananya ia sebagai seorang gubernur Qinnasirin.

Menjaga obejektifitas diatas megaloman adalah pekerjaan yang tidak main-main.

 

 

Bandung, 29 Oktober 2009

Aldo Al Fakhr

Blogger Pencari Spirit yang Hilang


Masalah Itu… Tantangan buat Gue….

masalah
Setiap manusia yang hidup didunia ini pasti pernah menghadapi hal buruk yang menimpa dirinya, ngga’ menutup kemungkinan kamuyang sedang baca Tulisan ini dan tentunya Saya yang nulis nih Tulisan. Betul kan? Hal buruk sebenarnya adalah katalisator perubahan dalam hidup kita. Baik, buruk, berbeda, dan selalu ada rintangan yang menghambat laju kehidupan kita. Entah mengapa ya… setiap ada yang berkata “Saya lagi ada masalah nih…!” mereka hampir selalu mengacu ke peristiwa yang sulit dalam hidup mereka.  Hati tidak tenang, gundah gulana, khawatir, ngga’ enjoy, diselimuti perasaan takut, dan lain sebagainya. Kejadian  seperti kehilangan pekerjaan, kehilangan benda, perceraian, hubungan dengan sahabat yang memburuk, ngga’ enjoy dengan pilihan kuliahnya, dengan karirnya, merasa tidak berharga, dan banyak lagi macam masalahnya. Ingat bro.. itu semua tantangan buat kita. Kita ngga’ akan berubah kalau ngga’ ada tantangan. Kita hanya akan stagnan dikondisi dan diposisi tertentu yang lazimnya biasa-biasa aja. Sesungguhnya, tantangan itu seperti pintu. Pintu menarik perhatian kita untuk dibuka, dan kita harus memiliki kuncinya yang pas dan cocok. Pintu itu adalah tantangannya dan kuncinya adalah bagaimana kita menghadapi tantangan tersebut dengan pas dan cocok dengan permasalahannya.

Kalimat “ ada masalah!” biasanya digunakan saat kejadian buruk terjadi. Hal buruk bisa menghalangi, memperlamban, bahkan menghentikan usaha kita dalam meraih tujuan. Namun perlu digaris bawahi bahwa masalah adalah pupuk penyubur kehidupan. Jadi hadapi dan tantang masalah itu. “ woi masalah… gue tantang lu! Kalau berani kesini!”

Ada suatu ilustrasi sederhana tentang kehidupan. Salah satu alat permainan yang menyenangkan sewaktu kita kecil yang biasanya ada di taman bermain mungkin adalah putar dorong. Bentuknya seperti piring datar besar yang melingkat dengan pegangan yang memanjang dari bagian tengah. Permainan ini harus didorong oleh semua anak agar berputar; setelah itu, si anak-anak melompat keatasnya sampai permainan ini berhenti berputar. Begitu permainan ini berhenti maka si anak-anak mendorongnya lagi dan melompat naik keatasnya lagi. Permainan ini sangat menyenangkan , tetapi jika terjatuh selagi permainan ini berputar. Yo wiss, si anak yang terjatuh harus menunggu permainan itu berhenti, tidak ada kesempatan untuk menghentikan sementara permainan itu untuk membersihkan pasir di pakaian anak yang terjatuh tersebut, permainan harus sampai selesai. Intinya jika ada yang terjatuh, tunggu kesempatan berikutnya. Itulah tantangannya!

Begitulah kehidupan yang sebenarnya, seperti permainan putar dorong tersebut. Kehidupan tidak akan berhenti karena kita mengalami masalah. Kehidupan tidak mengenal masalah Cuy. Walaupun kita sakit, gagal masuk universitas idola, ngga’ dapat pekerjaan, kehilangan benda yang dicintai, dan lain-lain. Ingat hidup tak kenal siaran tunda. So, jika ada masalah katakan: “Masalah Itu… Tantangan buat Gue….”

Bandung, 27 Oktober 2009

Aldo Al Fakhr

Blogger Pencari Spirit yang Hilang

Sumber Gambar

http://www.annemckevittspeaking.com/images/img21_03.jpg


Akibat Kesibukan yang Terlalu

Akibat Kesibukan yang Terlalu

Pernah baca cerita yang dibawah ini ngga’, kalau belum dibaca, kalau sudah, baca lagi biar lebih tau maknanya…

Seperti biasa Rudi, Kepala Cabang di sebuah perusahaan swasta terkemuka di
Jakarta, tiba di rumahnya pada pukul 9 malam. Tidak seperti biasanya, Imron,
putra pertamanya yang baru duduk di kelas dua SD yang membukakan pintu. Ia
nampaknya sudah menunggu cukup lama.
“Kok, belum tidur?” sapa Rudi sambil mencium anaknya. Biasanya, Imron
memang sudah lelap ketika ia pulang dan baru terjaga ketika ia akan
berangkat ke kantor pagi hari. Sambil membuntuti sang ayah menuju ruang
keluarga, Imron menjawab, “Aku nunggu Ayah pulang. Sebab aku mau tanya
berapa sih gaji Ayah?”
“Lho, tumben, kok nanya gaji Ayah? Mau minta uang lagi, ya?”

“Ah, enggak. Pengen tahu aja.”
“Oke. Kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari Ayah bekerja sekitar 10 jam
dan dibayar Rp 400.000,-. Dan setiap bulan rata-rata dihitung 25 hari
kerja. Jadi, gaji Ayah dalam satu bulan berapa, hayo?”

Imron berlari mengambil kertas dan pensilnya dari meja belajar, sementara
ayahnya melepas sepatu dan menyalakan televisi. Ketika Rudi beranjak menuju
kamar untuk berganti pakaian, Imron berlari mengikutinya.

“Kalau satu hari ayah dibayar Rp 400.000,- untuk 10 jam, berarti satu jam
ayah digaji Rp 40.000,- dong,” katanya. “Wah, pinter kamu. Sudah, sekarang
cuci kaki, bobok,” perintah Rudi. Tetapi Imron tak beranjak. Sambil
menyaksikan ayahnya berganti pakaian, Imron kembali bertanya,
“Ayah, aku boleh pinjam uang Rp 5.000,- nggak?”
“Sudah, nggak usah macam-macam lagi. Buat apa minta uang malam-malam
begini? Ayah capek. Dan mau mandi dulu. Tidurlah.”

“Tapi, Ayah…” Kesabaran Rudi habis. “Ayah bilang tidur!” hardiknya
mengejutkan Imron. Anak kecil itu pun berbalik menuju kamarnya. Usai mandi,
Rudi nampak menyesali hardikannya. Ia pun menengok Imron di kamar tidurnya.
Anak kesayangannya itu belum tidur. Imron didapatinya sedang terisak-isak
pelan sambil memegang uang Rp 15.000,- di tangannya.

Sambil berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu, Rudi berkata,
“Maafkan Ayah, Nak. Ayah sayang sama Imron. Buat apa sih minta uang
malam-malam begini? Kalau mau beli mainan, besok’ kan bisa. Jangankan Rp
5.000,- lebih dari itu pun ayah kasih.”
“Ayah, aku nggak minta uang. Aku pinjam. Nanti aku kembalikan kalau sudah
menabung lagi dari uang jajan selama minggu ini.”

“Iya,iya, tapi buat apa?” tanya Rudi lembut. “Aku menunggu Ayah dari jam
8. Aku mau ajak Ayah main ular tangga. Tiga puluh menit saja. Ibu sering
bilang kalau waktu Ayah itu sangat berharga. Jadi, aku mau beli waktu ayah.
Aku buka tabunganku, ada Rp 15.000,-. Tapi karena Ayah bilang satu jam Ayah
dibayar Rp 40.000,-, maka setengah jam harus Rp 20.000,-. Duit tabunganku
kurang Rp 5.000,-. Makanya aku mau pinjam dari Ayah,” kata Imron polos.

Rudi terdiam. Ia kehilangan kata-kata. Dipeluknya bocah kecil itu
erat-erat.

Betapa sedihnya melihat fakta yang terjadi ditengah-tangah masyarakat modern saat ini, waktu begitu menguras tenaga, waktu begitu menguras kasih sayang keluarga, waktu begitu menguras kebahagiaan, aktu begitu menguras refreshing dgn keluarga, dan lain-lain. Anak-anak seseorang kantoran dan wanita karir nasibnya begitu pedih… ia kurang mendapatkan kasih sayang, kurang mendapat pembinaan dari orang tuanya sendiri baik itu agama maupun pelajaran sekolah… terkadang yang membantunya mengerjakan PR adalah pembantunya, yang rata-rata pendidikan pembantu tersebut kurang dari rata-rata (maaf!), tapi itulah kenyataannya.bagaimana anak akan pintar kalau yg membantu kerjakan PR nya adalah pembantu. Sungguh-sungguh ironis sekali.

Nanti di akhir jangan lah kau menyesal.. ketika anakmu lebih cinta dan sayang ke pada supir, pembantu, dan lain-lain selain dirimu, dan jangan kau sesalkan pula ketika anak mu sakit, yang ia sebut-sebut ditidurnya dan ditengah kesakitannya adalah nama sang pembantu dan si supir. Astaghfirullah…

Ada cerita,

Seorang wanita muda yang menduduki posisi asisten manajer sebuah bank swasta, menangis pilu ketika menceritakan bagaimana anaknya yang sakit demam tinggi tak mau dipeluk ibunya, tetapi berteriak-teriak memanggil nama pembantu mereka yang sedang mudik lebaran.

Semoga kita tidak menjadi budak waktu tapi bisa mengendalikan waktu dengan semaksimal mungkin untuk kebahagiaan didunia dan akhirat

Bandung, 19 Oktober 2009

Aldo Al Fakhr

Blogger Pencari Spirit yang Hilang


Qiyadah (Pemimpin) yang Lemah Lembut

Qiyadah (Pemimpin) yang Lemah Lembut

Seorang laki-laki dengan langkah tergesa-gesa menghadap Rasulullah saw. Nafasnya masih tersengal, turun-naik, sementara jantungnya berdetak cepat. Rasulullah menyambutnya dengan penuh santun.

Celaka bagi kami, wahai Rasulullah,” begitu ia mengawali pembicaraannya. “Aku telah melakukan hubungan suami-istri di siang Ramadhan.” Nampaknya lelaki ini sadar bahwa perbuatannya telah melanggar syari’ah, yang karenanya ia harus menerima sanksi Rasulullah kemudian memberi petunjuk agar lelaki itu memerdekakan seorang budak. Lelaki tersebut menggelengkan kepala tanda tidak sanggup melaksanakannya.

Maka Rasulullah memberikan alternatif kedua, yaitu puasa selama dua bulan berturut-turut. Lagi-lagi lelaki tersebut menggeleng. Ia merasa tidak mampu untuk melakukannya. Dalam hatinya ia berkata, ‘Jangankan dua bulan, sedang yang satu bulan saja sudah dilanggar.’

Rasulullah menawarkan solusi ketiga, yaitu memberi makan 60 orang fakir miskin. Untuk yang ketiga kalinya ia mengatakan tidak sanggup. Ia katakan bahwa untuk kebutuhan makan sehari-hari saja sudah sering mendapati kesulitan. Apalagi harus meberi makan kepada orang lain.

Dengan penuh kasih sayang Rasulullah kemudian memanggil istrinya agar mengambil simpanan gandum yang masih tersisa hingga cukup untuk menebus kewajiban lelaki tersebut. Sambil memberikannya, Rasulullah berpesan agar gandum itu dibagikannya kepada fakir miskin di kampungnya. Dengan sedikit menahan malu, lelaki tersebut berkata polos, “Di kampung kami, orang yang paling miskin adalah saya sendiri.”

Kepolosan lelaki itu ternyata membawa berkah tersendiri. Rasulullah menyampaikan agar bahan makanan itu diterima dan dimanfaatkan sepenuhnya untuk memenuhi kebutuhan anak istrinya.Ia pulang dengan perasaan suka cita. Selain mendapatkan bahan makanan, puasanya juga sudah tertebus. Dua keuntungan sekaligus diperoleh, keuntungan materi sekaligus keuntungan ukhrawi.”

Kisah seperti sangat jarang dan sulit ditemukan di tengah-tengah masyarakat sekarang, bagaimana seorang pemimpin yang begitu santun terhadap bawahannya atau umatnya, luwes dan bijaksana mengambil suatu tindakan yang tidak menyakiti. Sungguh sangat luar biasa.. subhanallah.. mungkin, jika kita bertemu dengan laki-laki diatas, sudah barang tentu sebagian dari kita termasuk saya (mungkin), akan langsung menghardiknya dengan ucapan yang kasar, “sudah tau ga’ boleh, dan tidak mampu membayar dendanya, masih aja dilakukan.. dasar….!!” Mungkin itulah ekspresi kita.. jangankan untuk membantunya, menghiburnya saja kita udah ogah-ogahan…

Mungkin inilah rahasia sukses kepemimpinan dari Rasulullah yang begitu abadi hingga kini. Ia bisa bersikap keras dan tegas, namun ia lebih mengedepankan sikap lemah-lembutnya kepada umatnya.Beliau bisa marah, tapi Sikap pemaafnya begitu luas terasa.. apalagi jika sesama umat islam.. bahkan Allah menggambarkannya dalam Al-Qur’an:

“Muhamad itu adalah utusan Allah, dan orang-oang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih-sayang sesama mereka.” (QS al-Fath: 29)

Itulah juga mungkin mengapa umatnya sangat mencintainya.. dan rela mati untuk melindunginya, seperti Ali ra yang bersedia menggantikan Rasulullah tidur di kasur Rasulullah yang ketika itu akan hijrah ke madinah, yang ketika itu kaum Quraisy akan membunuh Rasulullah. Dan ketika Abu Bakar yang menutup lubang ular dengan lututnya ketika  berada di gua hira.. dan para sahabat-sahabatnya yang melindungi Rasulullah dalam peperangan-peperangan. Subhanallah….

Pertanyaannya..”apa bentuk cinta kita kepada Rasulullah?”

Kasih sayangnya Rasulullah Nampak juga, ketika ia tidak mewajibkan bersiwak sebelum shalat, tidak mewajibkan shalat malam, dan lain-lain, yang ia takut akan memberatkan umatnya untuk menjalaninya…

Ketika Rasulullah mengutus dua orang sahabat, yaitu Abu Musa dan Mu’adz ke Yaman untuk berdakwah, beliau berpesan, “Gembirakanlah dan jangan kau takut-takuti. Mudahkanlah dan janganlah engkau mempersulit.”

Hendaklah kamu bersikap lemah-lembut dan jangan bersikap kasar. Sesungguhnya, tidaklah sikap lemah lembut itu ada pada sesuatu kecuali menghiasinya, dan tidak pula ia lepas dari sesuatu kecuali mengotorinya.” (HR Muslim)

Oleh karena itu, kita seabgai muballigh, da’i/ah, juru dakwah, dan guru agama, seharusnya memberikan kemudahan dalam menuju islam sesungguhnya, jangan mempersulit umat. Berikan beberapa pilihan, jangan terpatok dengan satu pilihan yang menurut kita benar saja.

Bahkan dalam hal ini, jika ada dua perkara yang sama-sama diperbolehkan oleh syari’at, hendaknya kita memilih yang termudah. Kita tidak boleh bersikap terlalu keras, karena yang demikian itu justru menyimpang dari sunnah.

Sikap tasyaddud, ekstrim, dan berlebih-lebihan sama sekali tidak disukai oleh Rasulullah. Selama tidak mengandung dosa, Rasulullah lebih memilih yang termudah dari dua perkara yang sama-sama boleh, ibahah. Sikap itulah yang hendaknya kita pilih, bukan sebaliknya.

Semoga kita bisa mencontoh Rasulullah dalam berdakwah, dakwah dengan lembut dan penih kesopanan..

Be a creative da’i and murabbi……

Bandung, 19 Oktober 2009

Aldo Al Fakhr

Blogger Pencari Spirit yang Hilang


Tarbiyah adalah Cinta

Tarbiyah adalah Cinta

Tarbiyah

Afwan, saya tidak akan menjelaskan mengenai  tentang mengapa tarbiyah adalah cinta, tapi yang ingin saya tuliskan disini adalah mengapa saya menuliskan judul Tarbiyah Adalah Cinta. Jangan pada kecewa ya….

Kejadiannya itu sebenarnya dah beberapa bulan yang lalu. Ketika itu, saya akan’ mengisi’  dengan topic ahamiyatu tarbiyah (pentingnya tarbiyah), saya ingin membuat menarik minat adek-adek saya dalam antusias yang sangat ketika materi ini disampaikan. Sehingga saya berikan judul “Tarbiyah Adalah Cinta”.

Saya:  Insya Allah materi kali ini adalah Tarbiyah Adalah Cinta.

Benar saja, mereka sontak kaget, dari wajah terlihat antusias yang luar biasa.. saya pun sebagai pemateri menjadi lebih semangat…

Adek: wah wah.. nih kak aldo dah mulai ngomong cinta….hi… hi…

Saya hanya tersenyum saja….

Saya mulai dengan cerita, lalu menjelaskan apa itu tarbiyah..

Saya:  Tarbiyah (pendidikan) mancakup 3 spek yaitu jasad, ruh, dan akal. Bagi manusia tarbiyah ibaratkan air, yang merupakan kebutuhan untuk tetap hidup… dan seterusnya….

Saya jelaskan urgensinya dari segi eksternal dan internah, dan langkah konkret dari urgensi eksternal dan internal. Kemudian menjelaskan tujuan, hakikat/karakteristik, output dari tarbiyah yaitu menjadi seseorang yang ber muwashofat tarbawi, tak lepas lagi dengan cerita di akhir…

Alhandulillah, mereka paham letak cinta dalam tarbiyah dimana, adanya cinta dalam usrah, adanya cinta dalam tiap pertemuan, adanya cinta ketika berjumpa, dan lain-lain…

Saya: Alhamdulillah, hari ini kita sudah menyaksikan gambaran jelas mengenai mengapa tarbiyah adalah cinta. So… jangan ragu terhadap tarbiyah.. syaikh musthafa Mahsyur mengatakan, tarbiyah bukan segala-galanya, tapi segala-galanya bisa terwujud dengan tarbiyah… dan setersnya, setelah itu seperti biasa, evaluasi perpekan dan menanyakan qodoyah..kemudian ditutup oleh adek saya yang tertunjuk sebagai pembawa acara…

Setelah pertemuan selesai..ada salah satu adek saya yang menanyakan…

Adek: kak, sepertinya minggu depan materinya Tarbiyah adalah Cinta jilid 2… dan temen2nya juga pada menyetujui pendapatnya..

Saya: o.. gitu ya dek… insy Allah ya…

So… semoga yang membaca mendapatkan ibroh dari tulisan saya, semoga kita menjadi mentor/murabbi yang kreatif, sehingga adek2 kita enjoy dan tidak ngantuk, bawa perasaan senang dan semangat serta mujahadah… be a creative murabbi!!!

Bandung, 16 Oktober 2009

Aldo Al Fakhr

Blogger Pencari Spirit yang Hilang

Souce gambar:

http://tintataghyir.files.wordpress.com/2009/07/tarbiyahh1.jpg


Paradigma yang harus diperbaiki

(ehm… dah lama ga’ posting.. padahal dah dijadwalin..)

Paradigma yang harus diperbaiki

Kesalahan utama dari sistem pendidikan di Indonesia adalah menempatkan sekolah sebagai satu-satunya corong dan gerbong pendidikan. Sehingga masyarakat dalam tiap waktunya selalu menuntut sekolah dengan harapan besar anak-anak dapat berkembang baik segi pengetahuan kognitif dan segi integritas kepribadiannya. Orang tua berharap bahwa anak-anak diajari untuk dapat mengembangkan ilmu pengetahuan dan ketrampilannya secara baik bersama-sama dengan rekan-rekan yang lain. Selain itu mereka juga berharap agar anak-anak ini dilatih untuk bekerja keras, menghargai orang lain, bertindak jujur dan bertanggung jawab sehingga mereka akan siap mandiri dan menjadi warga masyarakat yang bertanggung jawab. Demikian besar harapan masyarakat akan peran dan fungsi sekolah sebagai tempat untuk mendidik dan mengembangkan generasi muda tumpuan harapan mereka.  Itu merupakan paradigma yang salah dan secepatnya untuk diperbaiki. Karena, kalau terus-terusan seperti ini akan mengakibatkan tidak kreatifnya sistem pendidikan di Indonesia.

Paradigma ini berkembang karena infiltrasi dari budaya yang berkembang di masyarakat, yang mungkin saja sulit untuk dibendung, karena sedemikian pekatnya. Yaitu budaya yang mengatakan kalau ga’ sekolah ga’ akan sukses. Ga’ akan dapat kerja. Ga’ akan dapat hidup enak. Padahal itu bukanlah ukuran dari sebuah kesuksesan seseorang. Tetap aja ada orang yang tidak sekolah atau berhenti ditengah jalan, namun tetap bisa meraih sukses yang ia inginkan. Kita bisa lihat seperti Bob Sadino. Bahkan kalau ga’ salah saya pernah baca, ada pengusaha yang mengatakan bahwa kalau mau sukses ga’ usah sekolah tinggi-tinggi. Saya pribadi tidak terlalu sepakat akan hal ini, bahkan sangat tidak sepakat. Karena prinsipnya adalah “ilmu diatas amal” belajar dulu atau cari ilmu dulu baru kemudian mengerjakan sesuatu… tapi perlu diinget juga.. jangan nunggu ilmu banyak dulu baru kerjain amal, walaupun Cuma punya ilmu sedikit, langsung aja dikerjakan. Itu lebih baik… karena disana ada tantangan sehingga kita harus cari ilmunya untuk menghadapi tantangan itu… lama-kelamaan tidak adanya lagi disintegrasi antara teori dan praktek… tapi bukan ini yang sebenarnya yang ingin ku sampaikan.

Intinya tampat belajar itu banyak dan sarana yang mendukung juga banyak. Seharusnya peran orang tua disini harus lebih aktif mencarikan sarana pembelajaran yang berkualitas bagi anak. Semisal Out Bond, yang mengajarkan berani menghadapi tantangan dan kesabaran. Kursus keahlian tertentu, semisal kursus biola, gitar, drum, nulis, bahasa asing, melukis, dan lain-lain. Tapi yang perlu diingat adalah anak harus enjoy melaksanannya. Jangan seperti film Garuda di Dadaku, yang kakeknya begitu memaksakan kehendaknya, padahal si cucu tidak enjoy melakukannya. Yang penting focus…. Begitu juga untuk anak, ia juga harus kreatif mencari arena pembelajaran yang boleh dibilang banyak ya… semisal ikut forum kepenulisan, yang mana dia bisa belajar nulis.. sehingga membuat ia ahli dalam menulis. Dan juga diingat untuk memilih dan memilah mana arena yang sesuai syari’at mana yang tidak, jangan sampai terjerumus ke pemahaman yang salah.

Nah, jangan lupa juga pendidikan agama kudu dibenerin juga.. soalnya inilah yang akan membawa keberseimbangan antara dunia dan akhirat, sehingga tidak adanya sekulerisasi kehidupan, yaitu memisahkan agama dan kehidupan (ilmu, social, politik, hankam, budaya, pendidikan, dan semua aspek kehidupan). Ilmu tanpa agama merupakan bencana, agama tanpa ilmu membawa kehinaan. Yang perlu diinget juga, jangan hanya teori doank yang dipelajarin, semisal teori tentang sholat, tapi dienya ga’ pernah mengaplikasikan sholat dalam hidupnya, yah.. ga berjalan lah. Tentang shaum sunnah, tapi ga pernah shaum sunnah, yah percuma aja. Kalau begitu tuh… kita dicap jadi orang yang fasiq. Na’udzubillah…. Peran orang tua sangat berpengaruh di pendidikan agama ini, hal yang harus diperhatikan adalah si orang tua juga harus memulainya terlebih dahulu, ini sangat krusial. Anak tidak akan mau belajar ngaji, kalau orang tuanya belum belajar atau bisa ngaji, anak tidak akan mau sholat, kalau orang tuanya ga’ pernah kelihatan sholat. Umumnya anak-anak kecil hingga SMP, akan merasakan hal tersebut. Kalau dah SMA biasanya mereka akan mencari sendiri, yah… kalau kepentok dengan temen yang ngajak baik, sering ngajak sholat, ngaji, maka dipun insy Allah menjadi orang baik dari segi agama, dan kebutuhan pendidikan agama, telah minimal ia dapatkan. Nah… kalau kepentok dengan temen yang sering ngajak minum, judi, main game terus, nyolong, dll, maka kemungkinan anak itu akan menjadi seperti temannya. Oleh karena itu, saya tegaskan sekali lagi, orang tua kudu persiapin pendidikan agama, dan menjadi tauladan bagi anak-anaknya.

Yah.. mungkin itu aja… sebenarnya banyak sih… tapi mau ngerjain TA (tugas akhir) dulu…maklumlah dah mau lulus. Semoga kita menjadi insan yang baik dalam setiap harinya, tiada kejenuhan untuk menuju kemuliaan disisi Allah, dengan predikat syuhada dihadapan-Nya.

Ma’annajah Saudaraku…

Bandung, 15 & 16 Oktober 2008

Aldo Al Fakhr

Blogger Pencari Spirit yang Hilang


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 38 pengikut lainnya.