Coretan-Coretan yang Tergores Ditubuh Sejarah

Terbaru

Sore di Halte Itu

Sore di Halte Itu
Cuaca belakangan ini sungguh panas dan panasnya itu pakai banget. Matahari masih menyinari dengan cuek sore hari ini, sepertinya belum mau pulang kayaknya dia.

Disudut bangku salah satu halte bis di Jakarta, aku duduk dengan termangu, memandangi para pejalan kaki yang lewat melintasi halte ini. Tujuanku ke halte ini tidak seperti orang yang lain yang menunggu kedatangan bis untuk menjemput mereka dan segera menghantarkan mereka ke daerah yang ingin mereka tuju, sedangkan aku, seorang yang dengan berkepribadian unik kata teman-temanku, datang ke halte hanya untuk memandangi para pejalan kaki yang melintasi halte ini dan mengajak bicara apa saja kepada orang yang kebetulan sedang menunggu bis. Baca kelanjutan halaman ini »

Ramadhan yang Berbeda

Ramadhan yang Berbeda


Assalamu’alaykum para netizen,

wuiih udah lama pisan ternyata diriku nggak nulis lagi, udah kaku euy..

seperti yang pernah saya tuliskan bahwasanya menulis itu seperti nafas dalam kehidupan, kadang tersengal kadang lancar. Itu biasa #pembenaran :)

lagi dengerin Richard Marx – Now and Forever

Ramadhan tahun ini memang sungguh berbeda buat saya, nggak seperti ramadhan-ramadhan sebelumnya yang kerja hanya dikantoran, kali ini harus kerja dilapangan, lapangan minyak lagi, terus di Minas (riau) lagi.. (katanya tempat terpanas di Chevron field).

Baca kelanjutan halaman ini »

Gengsi dan Ngeri

Gengsi dan Ngeri

 

Cinta masih bisa tersenyum, mesti hati terluka, juga walau tiada penawarnya..

Kata-kata diatas sebenarnya sih nggak ada hubungannya dengan nih tulisan, tuh kata Cuma iseng aja dan nggak ada sangkut pautnya juga dengan diriku he..he..

Gengsi dan Ngeri merupakan dua cerita yang saya alami satu minggu kebelakang.  Please, jangan ketawain diriku ya!

Sip, cerita pertama Baca kelanjutan halaman ini »

Puisi: Sisi

wah…dah lama tak bertypo-typo ria diblog ini..dikarenakan LCD Laptop pecah.

untuk sekedar penyegaran kembali, ijinkan saya berpuisi ria.he..he..

puisinya singkat saja,

SISI

Redup sinar rembulan

Bintang jatuh dipandangan

Kemaren malam hujan rintik-tintik menyapa

Hangat ia terasa

Kumerasakan rinainya dengan sederhana

 Malam kemaren dan sekarang adalah milikmu

Biarlah esok, sama-sama kan kita nanti

Sejuk, panas, hujan, bahkan badai

Tenanglah, aku ada disisi tuk menemani

Jakarta, 24 April 2012

Aldo Wilman

source gambar: http://www.flickr.com/photos/al-insyirahlensa/6276166571/

Cerpen – Surat Amanah Untukmu, Adikku!

cerpen ini adalah cerpen kedua saya, yang pernah saya buat, dibuat sekitar tahun 2006, cerpen yang pertama nggak tau kemana perginya.

naskah nih cerpen ini pun nggak sengaja ketemu, waktu ngubek-ngubek sertifikat-sertifikat, eh..ternyata ada keselip nih cerpen. senangnya.  ^_____________^

Cerpen – Surat Amanah Untukmu, Adikku!


Aku adalah seorang anak yang terlahir dari latar belakang keluarga yang kurang dari berkecukupan. Semenjak kecil aku telah ditinggalkan oleh ayahku, karena meninggal tertimpa reruntuhan bangunan ditempat kerjanya. Dan semenjak kecil pula, aku telah mendapatkan beban yang berat dalam menjalani kehidupan, karena setelah sepulangnya dari sekolah aku harus berjualan koran dan mengamen di kereta-kereta, di bus-bus kota, di perempatan lampu merah, dan di warung-warung pinggir jalan bersama dengan teman sebayaku.

Aku mempunyai seorang adik yang sangat lucu dan polos, karena ia baru berumur sepuluh tahun. Ia sangat ingin menjadi seorang penyanyi terkenal yang bisa mengubah hidupnya dan keluarganya. Ia sangat senang jika diputarkan  lagu-lagu yang disukainya, jika tidak diputarkan pada hari itu maka ia akan merusak isi rumah. Mengamuk. Aku tidak ingin, ia merasakan hal yang sama seperti yang kurasakan, yang mana harus memikul beratnya beban kehidupan. Baca kelanjutan halaman ini »

Kemana Iman Itu??

Kemana Iman Itu??


Kemana iman, kemana tawakkal ketika rezeki yang dirasa sangat kecil bagi kita?

Kemana iman, kemana ikhlas ketika selesai melakukan amal yang besar?

Kemana iman, kemana sabar ketika ditimpa masalah yang sangat berat?

Kemana iman, kemana zuhud ketika berlebih-lebihan membelanjakan uang?

Kemana iman, kemana kejujuran ketika kita terdesak?

Kemana iman, kemana tanggung jawab ketika telah melakukan kesalahan fatal?

Kemana iman, kemana rasa empati ketika tetangga rumah mengalami kesusahan?

Kemana iman, kemana khusyuk ketika kita sedang shalat yang sejatinya menghadap Allah? Baca kelanjutan halaman ini »

ABG – Anak Bangsa Galau

ABG – Anak Bangsa Galau


Langit jakarta sore ini cukup gelap dari biasanya, mungkin sebentar lagi atau nanti malam akan turun hujan. Semilir angin yang cukup kencang turut menjadi tanda bagi para pedagang kaki lima ditrotoar mengemasi barang dagangannya.

Kemacetan sudah sangat terasa menjelang jam pulang kantor, bunyi klakson yang tak henti-hentinya dari kendaraan mewarnai sore ini, Serta wajah-wajah pias, lesu, marah, tertawa juga turut serta menghiasi ke’unik’an ibu kota negara tercinta kita ini. Baca kelanjutan halaman ini »

Komen ke-1000

alhamdulillah, segala puja-puji hanya untuk Allah, komentar di blog ini sudah berjumlah 1000 buah, dan juga komentatornya yang ke-1000 ntu adalah diriku sendiri he..he..he..

lengkap juga site stats sudah nyampe angka > 40.000 hits

 

walau blog ini kadang semangat kadang males-malesan, namun blog ini adalah oase tersendiri bagi diriku.

kerena menulis adalah seperti nafas dalam kehidupan, terkadang nafas itu lancar, terkadang juga tersengal.

so, dimaklumin aja sekarang-sekarang ini nafas menulis saya sedang tersengal, do’akan saja lancar kembali ya :)

 

Jakarta, 17 januari 2012

Aldo Wilman

@aldowilman

[Cerbung] Dua Kuas Episode 5 Part 1

sambungan dari Episode 4

happy reading

Episode 5: Benci Part 1

Hujan sedikit deras kembali membasahi Bumi Sriwijaya.

Tidak seperti teman-teman sekelas, yang begitu semangat menyambut lonceng pulang sekolah. Aku dan kak Hasan sebaliknya, kami sangatlah tak bersemangat. Teman-teman yang lain asyik membereskan buku dimeja dan laci, memasukkannya kedalam tas, mengeluarkan payung berwarna-warni dari dalam tas, menyandang tas, kemudian meninggalkan kelas beramai-ramai menerobos hujan. Aku melangkah dengan gontai tak bersemangat menuju bangku kak Hasan.

“Kak, gimana kita pulang?”tanyaku.

“Paling bentar lagi reda, tungguin bae lah!”jawabnya acuh sembari dengan malas memasukkan buku-buku pelajaran kedalam tasnya.

“Sip lah…!” Baca kelanjutan halaman ini »

[Cerbung] Dua Kuas Episode 4 Part 3

maaf kelamaan nyambung ceritanya…

sambungan dari Episode 4 Part 2

happy reading

Episode 4: Rumah Sekolah Part 3sekolah

Teng…Teng..Teng…

Alhamdulillah, lonceng yang sedari dua jam-an dinanti datang juga. Kulihat sedikit wajah kak Hasan, tampaknya ia baik-baik saja, ia pun melihatku dan memberikan senyum. Dari senyumnya tampak ia begitu senang mendengar lonceng pertanda istirahat barusan.

Akhirnya, hukuman ini berakhir juga, pegal di paha dan betis yang terasa sedari tadi perlahan-lahan sirna. Baca kelanjutan halaman ini »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 48 pengikut lainnya.