Oleh: Aldo Al Fakhr | Desember 23, 2009

Heningan Malam

Heningan Malam

Dalam heningan malam ku sampaikan derita

Derita hampa tanpa arah

Menyusup tak ketahuan disisi tidurku

Mengindahkan pandangan seorang pujangga

Apalah artinya sebuah pena

Jikalau tak dituliskan kata-kata

Yang mempunyai pengaruh kuat pada objek

Berhembus dikesunyian jiwa

Menggelayuti asa yang kosong akan ‘iradah

Bertumpuk membusuk tak berarti

Jauh jauh mengharapkannya

Memanjakan ruh yang foya

Tak tumbuh bersemi seperti bunga matahari

Siap siaga kearah matahari

Tak pernah lelah mengikuti

Iltizam ini berleha-leha melaksanakan duty

Seakan telah lupa pada ikrar

Mengembannya penuh payah

Tak pula ber mujahadah

Tiadakah jiwa ini memiliki muwashafat ‘ailiyah

Sungguh tak kenal siaran tunda waktu itu

Mengapa diri malu mengakui

Adukan saja…

Tidaklah mengapa wahai derita

Bandung, 23 desember 2009

Aldo Al Fakhr

Blogger Pencari Spirit yang Hilang

Oleh: Aldo Al Fakhr | Desember 19, 2009

Masalah itu Banyak Manfaatnya…

coba-coba lagi.. niruin cara nulis motivator..

belajar terus…


Masalah itu Banyak Manfaatnya…

Sobat punya masalah? Sama dengan saya. Saya juga punya masalah, begitu juga dengan bermilyar-milyar manusia di muka bumi ini. Masalah adalah bagian dari hidup seorang manusia tidak ada manusia yang memiliki masalah, sewaktu kita dilahirkan dibumi ini, kita sudah punya masalah, yaitu tidak bisa berbicara, berjalan, menulis, dan lain-lain. Kalau mau ngga’ ada masalah makanya kudu masuk surga. Beramal yang baik-baik dimuka bumi ‘ni.

Dalam sebuah buku yang berjudul Cracking The Millionaire Code, karangan Mark Victor Hansen (penulis Chicken Soup for the Shoul), dan Robert G. Allen (penulis Creating Wealth) dikatakan bahwa masalah Anda bernilai jutaan. Wow… fantastic bukan! Masalah itu bernilai jutaan, berarti masalah punya manfaat yang luar biasa terhadap diri kita. Jadi semakin banyak Sobat punya masalah maka semakin kaya saja Sobat. Tentu saja kekayaan ini akan mampu Sobat raih, jika mampu mengoptimalkannya.

Apa saja manfaat yang Sobat dapatkan ketika mempunyai masalah:

Sebagai penghapus dosa

Wow… ngga’ salah tuh! Kok bisa masalah bisa menghapus dosa.

Adanya masalah yang Sobat rasakan selama ini mungkin adanya langkah yang bengkok dalam berjalan di dunia ini. Maksudnya kita selalu berbuat salah ditiap periode waktu hidup kita. “ikutilah perbuatan buruk dengan perbuatan baikmu, maka akan menghapuskannya” begitulah pesan dari Nabi Muhammad SAW kepada kita. Luar biasa… ketika kita mempunyai masalah akan selalunya kita berbuat salah dalam hidup ini, berarti kita punya masalah dan teruslah berbuat baik agar menghapuskan perbuatan buruk kita.

Jadi lebih dewasa

Dengan masalah akan membuat kita menjadi lebih dewasa. Maksud dari kata dewasa dalam konteks ini adalah bukan dari segi umur dan dari segi tinggi badan namun, dewasa dalam bersikap, dewasa dalam mengambil keputusan, dewasa dalam berfikir, dewasa dalam bergaul atau berinteraksi, dewasa dalam berbisnis, dewasa dalam menulis, dewasa dalam hal apapun. Kenapa kita bisa jadi lebih dewasa? Jawabannya adalah kita dituntut untuk tidak terjerumus lagi ke lubang sebelumnya sehingga kita pun seharusnya mengambil tindakan untuk tidak terjerumus kembali. Sangat ironis banget, ketika seseorang jatuh di lubang yang sama dikedua kalinya bahkan berkali-kalinya.

Masalah itu nikmat

Masalah itu seperti garam bagi sayur, pupuk bagi tanaman, kecap bagi nasi goreng, keyboard dan monitor bagi computer. Artinya kehidupan pun tidak akan lengkap dan nikmat jikalau ngga’ ada masalah, karena kita merasa tertantang untuk menghadapinya, kalau kita berhasil mengalahkan tantangan itu, maka suatu kenikmatan bagi seseorang tersebut. Sebagai contoh seorang penerjun yang begitu menikmati ketika berhasil turun dan tepat digaris yang ditentukan, seperti penantang maut seperti pesulap Chris Angel yang begitu menikmati ketika ia berhasil keluar dari bahaya permainan sulapnya. Itulah masalah begitu nikmat ketika berhasil dihadapi. Oleh karena itu, setiap ada tantangan ada tiga cara untuk mengalahkannya yaitu: HADAPI, HADAPI, dan HADAPI. Insya Allah kenikmatan telah menanti didepanmu wahai para pejuang.

Bertambahnya ilmu

Masalah juga akan mendatangkan bertambahnya ilmu kita. Kok bisa? Bisa donk.. karena masalah yang kita hadapi terkadang butuh ilmu untuk mengatasinya, sehingga kita pun harus mencari referensi untuk menghadapinya seperti buku-buku, artikel-artikel, ceramah-ceramah, nasehat dari teman, dan lain-lain. Dan pasti, kita pun akan mendapatkan ilmu baru dari referensi tersebut. Misal Sobat mempunyai masalah akan bagaimana cara memulai bisnis, maka carilah referensi yang berkaitan dengan masalah bagaimana cara memulai bisnis, coba Sobat search di mbah google, ketikkan “bagaimana cara memulai bisnis” dan disana akan tersedia ilmu-ilmu untuk dimasuki kedalam otak Sobat. Atau pergi ke toko buku terdekat dan cari buku yang bertemakan bagaimana cara memulai bisnis. Atau juga ikuti seminar-seminar entrepreneurship yang kian hari kian menjamur diseluruh Indonesia, ikuti dan pelajari. Seperti itulah… sehingga ilmu kita akan bertambah disebabkan adanya masalah yang kita hadapi.

Dapat duit

Loh.. kok bisa dapat duit? Maksudnya masalah itu akan mendatangkan keuntungan materi berupa duit, jika kita bisa memanfaatkannya, seperti halnya seorang penulis best sellerThe Way to Win” yaitu Solikhin Abu Izuddin yang juga penulis buku best sellerZero to Hero” . ia membuat buku “The Way to Win” karena ia melihat mengapa para peserta seminar motivasi yang hanya termotivasi ketika seminar itu saja. Bisa dilihat bahwa masalah bisa membawa keuntungan secara materi kepada kita, kalau kita pintar dan cerdas memanfaatkannya.

Sebenarnya banyak manfaat dari masalah. Tergantung bagaimana kita memposisikan masalah tersebut ke manfaat.

Bandung, 19 Des 09

Aldo Al Fakhr

Blogger Pencari Spirit yang Hilang

Oleh: Aldo Al Fakhr | Desember 19, 2009

Bahagia dengan Masalah

Ah.. mau coba cara nulisnya motivator ah…

jangan diketawain kalau garing.. namanya juga lagi belajar

so.. please read it below

Bahagia dengan Masalah

Membaca judul di atas mungkin Sobat bertanya-tanya, apa tidak salah tulis? Sobat mungkin berkata: “Bukankah akan bahagia kalau kita sama sekali tidak punya masalah?” Kalau demikian, Sobat salah besar! Di mana ada kehidupan, di situ pasti ada permasalahan. Namun, tahukah Sobat bahwa di balik setiap masalah terkandung suatu peluang emas dan kesempatan yang besar untuk maju?

Bahagia dengan masalah bukanlah seperti dokter yang bahagia ketika banyak pasien yang sakit menuju berobat kepadanya, bukanlah seperti penggali kubur yang kebagian rejeki yang banyak ketika banyak manusia yang meninggal, bukanlah seperti konsultan yang bahagia ketika banyak orang yang mengalami permasalahan, dan bukanlah seperti pabrik obat maag yang bahagia ketika banyak manusia yang menderita maag, bukanlah seperti itu Sobat. Namun, bahagia dengan masalah itu adalah ketika kita berani bersyukur akan masalah tersebut dan sebagai ajang peningkatan derajat ketaqwaan. Bukankah seseorang yang tidak sekolah namun ia mendapatkan ijazah, orang yang tidak tahu diri. Seperti itulah gambarannya.

Ada kata-kata bijak dari Norman V.  Peale yang patut Sobat renungkan. Dalam bukunya You Can if You Think You Can, ia mengatakan, “Apabila Tuhan ingin menghadiahkan sesuatu yang berharga, bagaimanakah Ia memberikannya kepada Anda? Apakah Ia menyampaikan dalam bentuk suatu kiriman yang indah dalam nampan perak? Tidak! Sebaliknya Tuhan membungkusnya dalam suatu masalah yang pelik, lalu melihat dari jauh apakah Anda sanggup membuka bungkusan yang ruwet itu dan menemukan isinya yang sangat berharga, bagaikan sebutir mutiara yang mahal harganya tersembunyi dalam kulit kerang.”

Pernyatan di atas bukan sekedar kata-kata indah untuk menghibur Sobat yang sedang kalut menghadapi suatu masalah. Ini adalah perubahan paradigma berpikir. Keadaan apapun yang kita hadapi sebenarnya bersifat netral. Kitalah yang memberikan label positif atau negatif terhadapnya. Seperti yang dikatakan filsuf Cina, I Ching,”Peristiwanya sendiri tidak penting, tapi respons terhadap peristiwa itu adalah segala-galanya”.

Berikut ini contoh sederhana. “Sebagai seorang fasilitator yang memberikan pelatihan di berbagai perusahaan, saya pernah menghadapi penolakan dari klien semata-mata karena usia saya yang dianggap terlalu muda. Saya pernah menganggap ini masalah besar.Bagaimana tidak? Ini menyangkut kredibilitas saya. Saya kemudian memikirkannya berhari-hari. Kepercayaan diri saya mulai terganggu.

Lama-lama saya sadar bahwa penolakan semacam ini adalah hal biasa. Justru ini kesempatan untuk berkembang. Karena itu, saya segera menggali kebutuhan klien dan mencari pendekatan yang lebih dapat diterima. Saya terus meningkatkan kompetensi, sampai akhirnya saya dapat diterima oleh perusahaan tersebut. Kalau demikian, penolakan awal itu sama sekali bukan sebuah masalah, tetapi sebuah peluang yang sangat berharga.”

Semua kesulitan sesungguhnya merupakan kesempatan bagi jiwa kita untuk tumbuh. Sayang, lebih banyak orang yang menganggap masalah sebagai sesuatu yang harus dihindari. Mereka ngga’ mampu melihat betapa mahalnya mutiara yang terkandung dalam setiap masalah. Ibarat mendaki gunung, ada orang yang bertipe Quitters. Mereka mundur teratur dan menolak kesempatan yang diberikan gunung.

Ada orang yang bertipe Campers, yang mendaki sampai ketinggian tertentu kemudian mengakhiri pendakiannya dan mencari tempat yang datar dan nyaman untuk berkemah. Mereka hanya mencapai sedikit kesuksesan tapi sudah merasa puas dengan hal itu.

Tipe ketiga adalah Climbers, yaitu orang yang seumur hidupnya melakukan pendakian dan tidak pernah membiarkan apapun menghalangi pendakiannya. Orang seperti ini senantiasa melihat hidup ini sebagai ujian dan tantangan. Ia dapat mencapai puncak gunung karena memiliki mentalitas yang jauh lebih tinggi, mengalahkan tingginya gunung. Orang dengan tipe ini benar-benar meyakini apa yang dikatakan Dag Hammarskjold, “Jangan pernah mengukur tinggi sebuah gunung sebelum Anda mencapai puncaknya. Karena begitu ada di puncak, Anda akan melihat betapa rendahnya gunung itu.”

Dan seperti yang dikatakan oleh Hasan Al Banna, “ Jika jiwa itu besar, maka raga akan lelah mengikutinya.”

Semua masalah sebenarnya adalah rahmat terselubung bagi kita. Mereka “berjasa” karena dapat membuat kita lebih baik, lebih arif, lebih bijaksana dan lebih sabar. Sobat baru dapat disebut mas’ul (ketua) yang baik kalau Sobat mampu memimpin seorang bawahan atau staf yang sulit diatur. Sobat baru menjadi orang tua yang baik kalau Sobat dapat menangani anak yang bermasalah, ataupun menantu yang keras kepala, yang melakukan sesuatu melebihi batas kesabaran Sobat. Sobat baru disebut profesional kalau Sobat mampu menangani kecerewetan para pelanggan ditoko sobat.

Untuk mencapai kesuksesan, Sobat perlu memiliki adversity quotient, yaitu kecerdasan dan daya tahan yang tinggi untuk menghapi masalah. Kecerdasan tersebut dimulai dari mengubah pola pikir dan paradigma Sobat sendiri. Mulailah melihat semua masalah yang Sobat hadapi sebagai peluang, kesempatan dan rahmat. Sobat akan merasa tertantang, namun tetap mampu menjalani hidup dengan tenang dan damai.

Berbahagialah jika Sobat memiliki masalah. Itu artinya Sobat sedang hidup dan berkembang. Justru bila Sobat ngga’ punya masalah sama sekali, saya sarankan Sobat berdoa, “Ya Allah. Apakah Engkau tak percaya lagi padaku, sehingga tidak mempercayakan satu pun kesulitan hidup untuk saya atasi?” Dengan berdoa demikian Sobat tak perlu khawatir. Allah amat mengetahui kemampuan kita masing-masing. Ia tak akan pernah memberikan suatu beban yang kita tak sanggup memikulnya. (Arvan Pradiansyah, Republika).

“ Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya “ (Q.S. Al-Baqarah:286)

Berbahagialah jika kita memiliki masalah. Itu artinya kita sedang hidup, tumbuh dan berkembang. Seperti pohon yang semakin tinggi menjulang semakin besar tiupan angin yang menggoyang, memaksa untuk tumbang. Ketika kita tidak mempunyai masalah, jangan-jangan Allah tidak mempercayai kita untuk memecahkannya.

Masalah merupakan lahan untuk meningkatkan kesyukuran. Karena masalah justru akan mendewasakan kita, mematangkan jiwa. Masalah merupakan peluang utnuk menang, kesempatan untuk lebih kuat dan rahmat untuk meraih bahagia dunia akherat.

“ Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’. “ (Q.S. Al-Baqarah:45)

Bandung, 19 Des 09

Aldo Al Fakhr

Blogger Pencari Spirit yang Hilang

Oleh: Aldo Al Fakhr | Desember 1, 2009

Sebuah Hikmah dari Cerita Fakta

Sebuah Hikmah dari Cerita Fakta

 

Cerita dibawah ini saya kutip dari bukunya Helvy Tiana Rosa, Izzatul Jannah, dkk, dengan judul buku “ Bukan diNegeri Dongeng, Kisah Nyata Para Pejuang Keadilan.”

 

Beberapa hari lagi, Partai Keadilan Sejahtera dideklarasikan. Beramai-ramai para kader mencetak dan memproduksi pernak-pernik Partai Keadilan Sejahtera, mulai dari pin hingga payung. Ketika itu, ada adik anggota muda yang sedang bersilaturahmi ke rumah saya untuk pergi bersama-sama disebuah acara kepartaian. Ia sudah siap dengan pin Partai Keadilan Sejahtera pada kerudungnya. Kemudian, lewatlah tukang susu langganan anak-anak saya. Yang saya kenal, ia adalah lelaki yang rajin beribadah. Setiap lewat di depan rumah saya selalu tepat menjelang adzan Zhuhur. Setelah anak-anak membeli, ia berlalu dan hampir selalu berhenti di masjid dekat rumah saya untuk shalat Zhuhur berjamaah.

Ketika itu, anak-anak saya berebutan membeli susu dilayani oleh adik anggota muda itu. Sambil

berbenah untuk segera berangkat, saya mendengar dialog adik anggota muda itu dengan si tukang susu.

Njenengan Partai Keadilan, ya, Mbak?” tanya tukang susu ketika melihat pin yang dikenakan adik anggota muda itu.

Nggih, Pak. Saya PK, Partai Keadilan Sejahtera,”jawabnya.

Kula nggih Partai Keadilan, lho, Mbak, sejak dulu,” kata si tukang susu.

 

Subhanallah. Sudah lama saya mengenal tukang susu itu sebagai orang yang shalih. Tapi keraguan selalu menyelimuti saya untuk mengajaknya pada partai dakwah ini. Padahal boleh jadi, ketika kita menampakkan identitas kita pada orang-orang baik, mereka pun akan bisa menangkapnya sebagai kebaikan pula. Alhamdulillah.

Izzatul Jannah

Sungguh luar biasa. Aku sangat sepakat dengan yang dikatakan Izzatul Jannah, “Padahal boleh jadi, ketika kita menampakkan identitas kita pada orang-orang baik, mereka pun akan bisa menangkapnya sebagai kebaikan pula.”

Terkadang kita memang perlu untuk menunjukkan identitas kita sebagai kader dakwah yang tentunya tidak sekadar mengatakan, “Oi… aku kader dakwah.” Bukan itu. Namun, yang ditunjukkan disini adalah keteladan di keluarga, kampus, lingkungan kerja, dan di masyarakat. Berikan keteladanan itu. Insya Allah dukungan ke dakwah akan melejit bagaikan fireworks diacara tahun baru. Dan tanpa tersadar ketika di akhirat kita terkejut dengan banyaknya atau beratnya timbangan amal baik kita, padahal kita tidak mengerjakan sedemikian besar itu. Itulah yang terjadi ketika seseorang yang mendapat hidayah melalui tanganmu, maka kamu akan mendapatkan pahala dari pekerjaan orang tersebut tanpa menguranginya sedikitpun. Subhanallah,

Oke..fren,, lebih kreatif lagi dan perbaiki diri secara kontinu agar keteladanan itu berbuah surga.


Bandung, 30 November 2009

Aldo Al Fakhr

Blogger Pencari Spirit yang Hilang

Oleh: Aldo Al Fakhr | Desember 1, 2009

Kecemburuan

Kecemburuan

Dikala kecemburuan hadir menyergap jiwa

Jenak-jenaknya ketahuan olehku

Kubertanya pada jiwa yang hampa

Apa yang harus kuperbuat wahai jiwa yang lemah?

Cemburu, kata yang tidak asing lagi terdengar oleh telinga sang manusia. Kata yang selalu dikait-kaitkan dengan kehidupan asmara dua atau lebih insan manusia. Kata yang selalu berkonotasi negative ketika ada seseorang yang mencurhatkan isi hatinya kepada seseorang, dan peliknya begitu ingin menonjoknya seorang yang membuat kecemburuan itu terjadi secara realita. Cemburu juga banyak menghantarkan jiwa-jiwa kosong akan robbaniyah kepada kematian konyol, seakan-akan memang ingin berakhir seperti itu. Alasannya Cuma sepele, namun terkadang dibesar-besarkan sehingga menjadi gamang lalu berakhir dengan sia-sia. Alangkah ruginya saudara kita itu, didunia tak bahagia bahkan di akhirat ketidakbagiaan pun akan siap-siap mendera dan menyambut kedatangannya. Sungguh aku dan kamu ingin terhindar akan hal itu…

Ditulisan ini, aku tidak membahas kecemburuan di rimba cinta, namun kepada rimba kehidupan realita yang lebih global yang tidak hanya sekadar pemanis dinovel-novel atau karya sastra.

Sebuah rumah tangga yang baik tentu dibangun dan dikokohkan dengan warga rumah tangga itu yang baik pula, jikalau saja ada salah satu diantara sendi keluarga itu yang tidak baik dan ketahuan di tengah-tengah masyarakat, aka sekejab saja keluarga itu dicap sebagai keluarga yang tidak baik.

“ seorang bapak yang menjual anak dan istrinya dengan gemerlap perangkat rumah tangga dan harta melimpah, sama sekali tidak berhak menyandang kehoratan anak seorang manusia, jangan lagi dalam ukuran hamba beriman.”(Ust Rahmat Abdullah Rahimahullah)

Dan juga bila kita tengok yang terjadi dilapangan pengambilan keputusan para penguasa yang terlihat tidak peduli akan harga diri dan martabat bangsa, bahkan mungkin lupa. Para penguasa lupa akan rakyat yang sudah memilihnya. Dengan sekonyong-konyongnya mereka bergaul dan bersahabat dengan bangsa predator, provokator, aggressor yang bahkan telah menghantui bahkan mendzalimi bangsanya. Dengan bangsanya sendiri tidak peduli, apalagi dengan bangsa satu perjuangan yang lain. Dan tentu pengambilan keputusan oleh sang penguasa dibayang-bayangi oleh para rezim dan zionis la’natullah ‘alahi.

Belajar dari alam

Bahkan ya sahabat… ketika kita ingin belajar kepada alam, maka insya Allah kita akn mendapat ibrah darinya, khususnya mengenai kecemburuan ini…

Simaklah kata-kata yg keluar dari jemari ust. Rahmat rahimahullah:

“ lihatlah kemarahan harimau atas hilangnya anak tersayang. Atau ingatan yang amat kuat pada seekor gajah sirkus merasakan pedihnya kehilangan seorang teman yang mati dibunuh pemburu dihutan. Ingatan itu muncul kembali disaat sang pemburu menonton sirkus beberapa tahun kemudian.”

“Hanya babi yang tak punya rasa cemburu. Seekor babi jantan baru saja menggauli betinannya. Lalu dengan dungunya menonton anak kandungnya menggauli betinanya.”

Sungguh begitu ironis yang terjadi.. jika saja boleh dikorelasikan, aku ingin berujar bahwa sang bapak dan para penguasa  yang kuceritakan diatas.. mereka semua bermental babi. Bagaimana tidak, sang bapak yang rela menjual istri dan anaknya sebagai pelacur hanya utk menumpuk harta kekayaan semata seakan telah buta akan ijab qabul yang diutarakannya diawal jalinan cinta keluarga mereka. Begitu pula para penguasa yang dengan keputusannya dan ditunggangi oleh diktatoris dan zionis telah ‘menelanjangi ’ rakyatnya sendiri, rakyat yang telah memilih dan berdo’a untuknya ketika pemilu dan ketika dilantik, dan juga seakan-akan lupa akan ikrar yg telah diucapkannya diatas kitab yang berasal dari Tuhannya. Seperti yang dikatakan ust Rahmat rahimahullah,” Ia hanya berfikir bagaimana bangsanya bisa dapat banyak uang dan selamat dari lapar jasad.”

Naudzubillah…

Semoga kita terlindungi dari fitnah kedzaliman. Dan harapanya masing-masing individu, institusi local, regional, maupun internasional dapat mengaplikasikan cemburu yang realistis, jangan sampai seperti babi, dan jangan mau tercap sebagai orang yang bermental babi.

Wallahu’alam.◊

note: kasus utk bangsa disini secara general tidak terdefinisi dimana negaranya

 

Bandung, 30 November 2009

Aldo Al Fakhr

Blogger Pencari Spirit yang Hilang

Oleh: Aldo Al Fakhr | Desember 1, 2009

Cobalah Mengerti…

Cobalah Mengerti…

 

Wahai kawan…

Cobalah mengerti

Keadaanku yang sedang gamang

Agar bisa menghibur diselipan perioda kehidupanku

 

Wahai saudaraku…

Cobalah mengerti

Jalanku yang buntu

Agar bisa membantu meniti jalan itu

 

Wahai akhi…

Cobalah mengerti

Hatiku yang terkadang membatu

Agar bisa ternasehati qolbu ini

 

Wahai sobatku…

Cobalah mengerti

Ragaku yang melemah

Agar bisa kuat mendaki jalan ukhuwah

 

Pabila kau telah mengerti

Kuyakin…kuyakin…kuyakin…

Itu bisa melengkapi jalan hidupku

Dan cukuplah itu…

Bagiku telah terlalu indah perasaan itu

Tuk diukir direlung hati yang rapuh

Oleh: Aldo Al Fakhr | Desember 1, 2009

Sebuah Pembelajaran yang Mahal

palestina

Sebuah Pembelajaran yang Mahal

Anak itu nyalakan api

Kini berkobar dan membakar

Diparasnya Agama memancar

Dan cahaya Al-Haq telah bersinar

Kedua tangannya menghunus pedang keberaniaan

Atau bom kaca yang menggelegar

“Ananda, telah kuserahkan engkau kepada Tuhan Penguasa Qadar

Berjihadlah dengan tegar

Karena kedzaliman pasti kan buyar

Esok semua algojo penyiksa akan jatuh terkapar

Dan bendera Tauhid akan berkibar

Nantikan dengan sabar.”

Kata-kata diatas adalah sebuah puisi dari Ghazi Khalid Alhajiji yang begitu memukau dan dalam untuk dihayati, bagaimana seorang anak peradaban yang lahir dari rahim seorang ibu yang mulia, begitu berkobar-kobar semangat jihadnya, dan juga seorang ibu yang mendukung atas ‘iradahnya itu.

Seorang anak tidaklah mati sia-sia. Dia bukanlah seperti yang banyak diumbar-umbarkan oleh media massa beberapa bulan yang lalu, dia bukanlah seperti para teroris-teroris yang ditangkap dan dibunuh beberapa bulan lalu oleh POLRI. Yang target dan tujuan syahidnya tidak jelas dan mengada-ngada, yang mengorbankan saudara seislamnya sendiri untuk berjihad, saudara yang terkena ledakan bom, luka bakar, dan lebam diseluruh tubuh saudaranya di beberapa gedung yang ditargetkan utk dibom. Kalla balla, sekali lagi bukan. Dalam konteks ini, seorang anak disini adalah pemuda palestina yang berjihad dengan tujuan yang jelas dan tidak mengada-ngada. Baginya jihadu fisabili. Jihad sudah menjadi jalannya utk menuju keridhaan Allah. Target yang dibom atau diserang pun bukanlah saudaranya seaqidah, melainkan zionis la’natullah ‘alaih.

Anak itu berteriak melafaskan takbir, “Allahu Akbar…Allahu Akbar…Allahu Akbar…” berkali-kali hingga suaranya habis dan kerongkongannya serak nan kering. Raganya dipenuhi peluh namun tak mengendorkan sedikitpun langkah juangnya. Baginya ucapan yang benar haram tuk ditarik kembali, tak ada kata bimbang sedikitpun didalam dialog hatinya. Sepertinya ia percaya betul akan akhirnya. Begitulah ketika orientasi seseorang itu benar, maka Allah akan menjaganya dijalan kebenaran itu, walaupun kemalangan, diskriminasi social yang terimanya, dan cacian makian yang kasar akan dihadapi dengan lapang jiwa dan tak kenal dengan kata give up. Baginya lagi, hidup ini akan indah jika diakhiri dengan indah pula. Indah karena syahid didapatnya. Khusnul kotimah.

Betapa bangganya sipunya rahim itu, anak yang dikandungnya tumbuh dan digelari sebagai syuhada di akhirat kelak, betapa cintanya ia kepada Allah dan ridha kepada Allah atas tadhiyahnya utk menyedakahkan anaknya. Sekali lagi, menyedahkan anaknya dijalan Allah. Seharusnya ini menjadi pembelajaran bagi bunda-bunda diseluruh dunia, untk mentarbiyah anaknya menjadi generasi robbani dan ketika telah menjadi generasi robbani, ridha dan ikhlas mengembalikan anaknya kepada yang sejatinya Pemilik Jiwa seluruh umat manusia. Bahkan keironisan pun terjadi ditengah-tengah masyarakat kita, para orang tua begitu takut kalau anaknya ikut pengajian, tarbiyah, dan lain-lain. Dan bahkan mereka memperbolehkan anaknya utk pergi ke mall, konser music jahiliah, juga menghalalkan pacaran. Sungguh begitu sedih melihat realita yang terjadi. Terkadang sedih diri ini, melihat tabligh akbar hanya dihadiri oleh balita dan para orang tua. Pertanyaannya, kemana yang muda mudi? Dan ketika dilihat dibelahan bumi yang lain, para muda mudi itu jingkrak-jingkrakan mendengar konser music. Naudzubillah. Akan jadi apa generasi islam selanjutnya, jika hanya begini saja yang mereka lakukan, makan, tidur, pergi kerumah teman, jalan-jalan, lupa shalat, pacaran, dan lain-lain. Tidak ada kemanfaatan dalam aktivitas mereka sama sekali.

Disinilah tugas kita sebagai orang tua dan kader dakwah. Inilah tantangan kita agar izzatul islam kembali menduduki tempatnya kembali dibumi ini.

Ada beberapa hal penting yang harus dilakukan oleh kita:

Yang pertama, Selalu perbaiki diri, karena nol besar ketika mau memperbaiki orang lain, namun tidak mau atau jarang memperbaiki diri sendiri. Kedua, Berikan teladan itu setelah memperbaiki diri . Segitiga pengaruh yang diajarkan didunia psikologi adalah, yang paling besar porsinya atau pengaruhnya yaitu keteladanan.  ketiga,  Selalu bermunajat kepada Allah, agar anak kita atau objek dakwah kita diberikan hidayah dan inayah, karena yang bisa membolak-balikkan hati manusia adalah Allah SWT. Dan keempat, bimbinglah dengan kelembutan dan kasih saying kepadanya. Karena Rasulullah mengajarkan utk bersikap lemah lembut.

“Muhamad itu adalah utusan Allah, dan orang-oang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih-sayang sesama mereka.” (QS al-Fath: 29)

“Hendaklah kamu bersikap lemah-lembut dan jangan bersikap kasar. Sesungguhnya, tidaklah sikap lemah lembut itu ada pada sesuatu kecuali menghiasinya, dan tidak pula ia lepas dari sesuatu kecuali mengotorinya.” (HR Muslim)

“Semoga Allah mengkaruniakan kepada kita anak-anak yang soleh dan soleha yang lahir dari ayah dan rahim yang soleh dan soleha pula. Sehingga izzatul islam kembali menduduki singgasananya yang telah sekian lama vakum dari kemuliaannya.”

Bandung, 30 November 2009

Aldo Al Fakhr

Blogger Pencari Spirit yang Hilang

Oleh: Aldo Al Fakhr | November 18, 2009

Dalam Detik

Puisi Ukhuwah

 

Dalam Detik


Sejenak kisah itu hadir tercipta

Hadir dalam bayangan

Hadir tanpa diundang dibenak

Merengkuh jiwa yang sepi

Meramai benak yang kosong

Mengusik kerutinan pagi

Memberikan aliran deras di alam fikir

 

Dalam detik penuh bahagia

Telah kucoba tuk merenungkan

satu, dua, tiga, dan seterusnya

yg terbaik tuk dirimu kini

dalam detik penuh kesedihan

Telah kucoba tuk merenungkan

satu, dua, tiga, dan seterusnya

yg terbaik tuk dirimu kini

 

Sebuah kisah cerita telah kita rajut

Terpahat dan terukir tuk kita jaga

Didalam suci jiwa

Yang telah kita cipta bersama

Semoga tercerita hingga ke syurga

 

Pesan:  jaga saudara antum, ingat-ingat pemberiannya dan kelebihannya, lupakan kesalahan dan kekhilafannya. Jaga perasaannya dan berikan yang terbaik untuknya. Insya Allah ukhuwah kekal hingga ke syurga.

Bandung, 19 nov 2009

Aldo Al Fakhr

Blogger Pencari Spirit yang Hilang

Oleh: Aldo Al Fakhr | Oktober 29, 2009

Megalomanania

Megalomanania

Seharusnya sebagai seorang manusia kita diwajibkan untuk mengenal diri kita sendiri, sungguh jikalau kita mengenal diri sendiri maka kita pun akan mengenal siapa Tuhan kita.

Mengetahui kadar diri atau potensi diri dan kelemahan diri merupakan sebuah keharusan supaya bisa memetakan arah tujuan dan karir. Tujuannya biar tak salah langkah dalam melangkah, tak salah fikir dalam berfikir, tak salah kata dalam berkata, dan lain-lain. Karena setiap manusia tidaklah bisa menjadi segala hal, ia pastilah mempunyai spesialisasi pada bidang tertentu, permasalahannya adalah kebanyakan orang malas untuk mencari kadar diri atau spesialisasinya. Mereka yang hebat dalam karya-karya ilmiahnya dalam medan ilmu pengetahuan belum tentu bahkan tidak mungkin hebat dalam berperang di medan perperangan. Disinilah perlunya suatu keobjektifitan dalam menilai, tidak bisa dibesar-besarkan dan tikurang-kurangkan, kedua-duanya punya resiko dan jebakannya masing-masing.

Sikap membesar-besarkan diri dan merasa besar merupakan hal yang tidak baik, karena akan menyebabkan diri sombong, angkuh, merasa paling benar dan hebat, dan memandang karya-karya orang lain tidak setara bahkan lebih dari karyanya. Menurutnya “nih… karya saya yang paling baik dan monumental”.

“Suatu saat ketika kamu merebut kemenangan demi kemenangan, kekuasaan yang semakin bertumpuk. Musuh sudah kau taklukkan semua. Tak ada lagi yang berani melawan. Semua orang mulai tunduk padamu. Disekililingmu hanya ada para pemuja. Musuhmu menyelinap kedalam bentengmu. Kedalam dirimu sendiri. Halus. Sampai kau bahkan tak mengenalnya. Kau sudah mulai merasa benar.

Itulah awalnya. Kamu mulai merasa benar. Kamu sebenarnya layak merasa begitu. Sebab kemenangan-kemenanganmu. Pengakuan mush-mushmu. Kekaguman sahabat-sahabatmu. Kekuasaanmu yang terbentang luas. Kamu memang hebat. Dan besar. Itu fakta. Tapi itulah jebakannya .merasa besar itu.” (Anis Matta)

Seperti contihnya fir’aun yang merasa besar dan mengaku dan mengatakan kepada penduduknya bahwa aku adalah Tuhan. Sungguh ironis orang yang seperti itu. Tidak mengenal hakikat diri.

Disinilah dibuthkannya seni dalam menilai diri sendiri.

Menilai diri sendiri adalah sebuah seni diantara seni-seni jiwa yang lain, seni yang sangat sensitive akan keadaan dan pergolakan jiwa, mengapa? Karena seni ini membutuhkan reflektifitasi dan refleksisasi dari keadaan jiwa, maksudnya ketenangan jiwa. Sebab disinilah momentum atau jalan untuk menentukan kadar diri dan dimanakah jalan yang akan dilalui setelah ini.

Bagaimana memulainya?

Yang pertama yang harus dilakukan adalah dengan menenangkan pikiran dan jiwa dari amburadulnya kondisi diluar dan keramaian aktifitas. Setelah jiwa merasa aman dan tentram barulah lakukan pengamatan yang mendalam terhadap peta diri dan kadar diri, berikan statemen yang jujur dan kemukakan alas an –alsannya mengapa saya mempunyai kelebihan ini dan mengapa saya mempunyai kekurangan ini. Sudah….! Kalau sudah, temukan letak potensi yang ingin kita perdalami, semisal ingin jadi dokter, maka pabila kita sudah jujur ditahap awal bahwa aku mempunyai potensi menghafal dengan alsasn nilai biologiku disekolah selalu diatas rata-rata, nilai kimiaku jg begitu, aku sangat tertarik akan bidang itu, dukungan dari keluargaku dan lingkunganku. Atau ingin jadi penulis, maka mahar untuk  menjadi penulis apakah sudah terpenuhi, apakah suka membaca, dan menuliskannya , katakan dengan sejujurnya pada diri sendiri, kemukakan alasannya, aku setiap bulan menghabiskan 3-4 buku untuk dibaca, tiap bulan aku menulis 5-8 artikel, tiap hari aku menulis di diaryku, dan lain-lain sehingga statemen ingin menjadi penulis menjadi kuat dan tak tergantikan….

Sperti itulah… dan langkah selanjutnya adalah menentukan secara objektif karya dan perbuatan kita. Ini adalah langkah yang cukup sulit untuk dilalui seseorang yang memetakan dirinya. Setelah ia menjadi dokter, ia harus menilai apakah perbuatan-perbuatanya atau tindak tanduknya sebagai dokter sudah terbilang professional ketimbang teman-temannya yang lain ataukh bagaimana. Dan setelah ia jadi seorang penulis dan telah mencipkan karya tulisan berupa buku, ia harus menilai apakah karya tulisnya sudah layak menjadi best seller ataupun lainnya. Intinya adalah sikap kejujuran dan keadilan pada diri sendiri.

Jangan sampai seperti Khalid bin Walid yang dipecat oleh Umar karena ia membayar 1000 dirham kepada seorang penyair yang membesar-besarkannya karena kehebatannya dalam beperang dan bijaksananya ia sebagai seorang gubernur Qinnasirin.

Menjaga obejektifitas diatas megaloman adalah pekerjaan yang tidak main-main.

 

 

Bandung, 29 Oktober 2009

Aldo Al Fakhr

Blogger Pencari Spirit yang Hilang

Oleh: Aldo Al Fakhr | Oktober 29, 2009

Masalah Itu… Tantangan buat Gue….

masalah
Setiap manusia yang hidup didunia ini pasti pernah menghadapi hal buruk yang menimpa dirinya, ngga’ menutup kemungkinan kamuyang sedang baca Tulisan ini dan tentunya Saya yang nulis nih Tulisan. Betul kan? Hal buruk sebenarnya adalah katalisator perubahan dalam hidup kita. Baik, buruk, berbeda, dan selalu ada rintangan yang menghambat laju kehidupan kita. Entah mengapa ya… setiap ada yang berkata “Saya lagi ada masalah nih…!” mereka hampir selalu mengacu ke peristiwa yang sulit dalam hidup mereka.  Hati tidak tenang, gundah gulana, khawatir, ngga’ enjoy, diselimuti perasaan takut, dan lain sebagainya. Kejadian  seperti kehilangan pekerjaan, kehilangan benda, perceraian, hubungan dengan sahabat yang memburuk, ngga’ enjoy dengan pilihan kuliahnya, dengan karirnya, merasa tidak berharga, dan banyak lagi macam masalahnya. Ingat bro.. itu semua tantangan buat kita. Kita ngga’ akan berubah kalau ngga’ ada tantangan. Kita hanya akan stagnan dikondisi dan diposisi tertentu yang lazimnya biasa-biasa aja. Sesungguhnya, tantangan itu seperti pintu. Pintu menarik perhatian kita untuk dibuka, dan kita harus memiliki kuncinya yang pas dan cocok. Pintu itu adalah tantangannya dan kuncinya adalah bagaimana kita menghadapi tantangan tersebut dengan pas dan cocok dengan permasalahannya.

Kalimat “ ada masalah!” biasanya digunakan saat kejadian buruk terjadi. Hal buruk bisa menghalangi, memperlamban, bahkan menghentikan usaha kita dalam meraih tujuan. Namun perlu digaris bawahi bahwa masalah adalah pupuk penyubur kehidupan. Jadi hadapi dan tantang masalah itu. “ woi masalah… gue tantang lu! Kalau berani kesini!”

Ada suatu ilustrasi sederhana tentang kehidupan. Salah satu alat permainan yang menyenangkan sewaktu kita kecil yang biasanya ada di taman bermain mungkin adalah putar dorong. Bentuknya seperti piring datar besar yang melingkat dengan pegangan yang memanjang dari bagian tengah. Permainan ini harus didorong oleh semua anak agar berputar; setelah itu, si anak-anak melompat keatasnya sampai permainan ini berhenti berputar. Begitu permainan ini berhenti maka si anak-anak mendorongnya lagi dan melompat naik keatasnya lagi. Permainan ini sangat menyenangkan , tetapi jika terjatuh selagi permainan ini berputar. Yo wiss, si anak yang terjatuh harus menunggu permainan itu berhenti, tidak ada kesempatan untuk menghentikan sementara permainan itu untuk membersihkan pasir di pakaian anak yang terjatuh tersebut, permainan harus sampai selesai. Intinya jika ada yang terjatuh, tunggu kesempatan berikutnya. Itulah tantangannya!

Begitulah kehidupan yang sebenarnya, seperti permainan putar dorong tersebut. Kehidupan tidak akan berhenti karena kita mengalami masalah. Kehidupan tidak mengenal masalah Cuy. Walaupun kita sakit, gagal masuk universitas idola, ngga’ dapat pekerjaan, kehilangan benda yang dicintai, dan lain-lain. Ingat hidup tak kenal siaran tunda. So, jika ada masalah katakan: “Masalah Itu… Tantangan buat Gue….”

Bandung, 27 Oktober 2009

Aldo Al Fakhr

Blogger Pencari Spirit yang Hilang

Sumber Gambar

http://www.annemckevittspeaking.com/images/img21_03.jpg

Tulisan Sebelumnya »

Kategori